“bahkan setiap pembalap ternama sekalipun memulai karirnya dengan terjatuh ketika belajar bersepeda”
***
Saya tidak sedang bicara tentang sepeda ataupun pembalap, apalagi F1, namun tentang From Beginner to Web Programmer….. talk about My first Online Experience.
Ketika SD ayahku sering berkata bahwa suatu waktu nanti ia akan membelikan aku komputer. Di tahun-tahun itu, (90-an) komputer masih jadi barang yang boleh dibilang sangat langka. Satu-satunya tempat aku bisa melihat komputer, hanya di Bank BRI Cabang Pasar tempat aku dan mama menabung. Aku pun yang masih kecil, hanya bisa membayangkan seperti apa rasanya ber komputer… Ah… maklum, kami sekeluarga tinggal di sebuah kota yang tak terlalu besar. Sebuah kota kecil di Jawa Timur.
Selang waktu, kami sekeluarga pindah ke kota lain, kota yang bisa dibilang lebih kecil dari sebelumnya. Namun meski kota ini kecil, justru disinilah pertama kali saya berkenalan dengan komputer. Oleh Ayah aku disuruh kursus ke sebuah lembaga kursus komputer di tetangga kompleks kami. Aku pun ikut saja sambil mengajak teman-teman SMP ku. Di tahun tersebut (2000) aku masih belajar program yang sangat dasar sekali (Wordstar), padahal kalau boleh dibilang, langsung belajar ke MS Word pun sudah tersedia. Namun dasar kami remaja gaptek, inginnya belajar dari yang paling dasar, tak tahunya yang paling dasar ini justru sudah dibilang ketinggalan jaman (apalagi sekarang).
Karena IT Kami bersahabat
Pelan tapi pasti, komputer mulai menarik hatiku. Hingga akhirnya aku punya tetangga yang sama-sama punya minat dalam hal komputer. Karena komputer kami dari dua latar belakang yang sama sekali berbeda jadi dekat dan bersahabat. Sebut saja namanya Radit, Sahabat se Komputer-an ku. Kami pun kursus bersama, belajar bersama,bahkan ketika sama-sama memutuskan untuk membeli komputer, kami membeli komputer dari tempat yang sama (tempat saya kursus tersebut), dengan tipe yang sama, spesifikasi yang sama, dan bahkan bentuk yang sama. Saat itu komputer saya masih P 200 MMX Mhz , tergolong sedang lah untuk saat jaman-jaman itu. Saking dekatnya kami, Teman-temanku sampai menjuluki radit sebagai “saudara kembar”ku…
Meski sama-sama mania komputer, aku dan Radit punya spesialisasi yang berbeda. Aku cenderung ke arah software, sedangkan Radit, maklum “remaja elektronik” maka kesukaannya pun bongkar pasang komponen, alias ke arah hardware. Bongkar pasang, rakit, dan lain-lain, perkara mudah baginya. Tapi kalau masalah otak atik software, itu bagianku.
hingga akhirnya tibalah saat kami tertarik pada satu hal… INTERNET!!!..
Kalau 2 Anak Kampung(an) Pengen Main Internet…
Selama kursus, kami tak pernah tahu, seperti apa itu internet, Bagaimana cara menggunakannya, atau apapun tentang itu. Benar-benar Blank, aku dan Radit sama-sama blank, tak tahu satu pun tentang internet. Maklum selama kursus, memang tak pernah ada materi internet sama sekali. Dari guru kursus pun kami sama sekali tidak diajarkan. Namun dasar sama-sama mania komputer, mendahului teman-teman lain pada umumnya kami bertekad untuk berkenalan dengan benda satu ini satu hari nanti.
Internet adalah benda yang 100% asing bagi kami. Tak ada satu guru pun yang mengajari kami, tak ada satu pun buku yang aku baca, hanya sempat membaca sangat sedikit referensi, itupun hanya perkenalan tentang internet di majalah punya kakakku. Maklum, kotaku (ponorogo) bukan kota besar, tak ada kampus yang besar, komputer pun masih jarang dipakai di kantor-kantor pemerintah. Tak ada toko buku besar layaknya Gramedia, TogaMas, atau Gunung Agung, yang ada hanya toko buku yang kecil-kecil yang kebanyakan jual buku-buku kitab kuning buat pesantren yang memang banyak terdapat di kotaku.
Namun bukan berarti kami menyerah begitu saja, Dari seorang teman yang memang hi-tech , maklum dia anak orang kaya, banyak fasilitas, kami diberi tahu cara membuka internet. Petunjuk yang ia berikan sungguh sederhana, “ketik alamat websitenya, trus tekan Enter”. Itu satu-satunya petunjuk yang kami punya, tak ada instruksi lebih lanjut atau lebih detail.
Untunglah kami punya komputer di rumah, kami tahu ada program yang namanya Internet Explorer. Dari situ aku tahu, ooo… ini ada bagian untuk mengetik alamatnya, oh ini ada tombol Go.. dan seterusnya. Namun hanya sebatas itu saja yang kami tahu, plus beberapa petunjuk dari majalah kakakku seperti kegunaan tombol back, tombol ini, itu, dll.
Bayangan saat itu, Internet itu persis seperti buku (bayangkan buku sesungguhnya). Saat itu aku pikir, tombol Forward, tentulah untuk ke halaman selanjutnya, dan tombol Back untuk kembali ke halaman sebelumnya. Persis seperti orang membolak-balik buku (sama sekali tak tahu tentang hyperlink).
Berbekal dari informasi yang sangat minim, dan pengetahuan yang meraba-raba (ternyata sama sekali salah), aku dan Radit yang sama-sama belum pernah sekalipun seumur hidup mengakses internet, memberanikan diri untuk mencoba.
Oalah.. Ini To Internet..
Tak banyak warnet di kotaku saat itu. Dari sekian itu, kami memutuskan untuk ke satu-satunya warnet yang kami tahu yang ada di kota kami. Bagaskara Net (sekarang sudah tutup). Jangan tanya seperti apa tempatnya, sama sekali tidak mencerminkan suasana hi-tech. Lebih mirip seperti warung, atau rumah-rumah pedesaan dengan atap yang masih kelihatan (tanpa plafon), sebagian besar konstruksi kayu, bahkan sebagian masih tertutup dinding bambu (bahasa jawanya : gedhek). Bahkan rental PS-pun menurutku tempatnya lebih berkelas daripada warnet satu ini. Satu-satu nya hal yang menunjukkan bahwa rumah itu adalah warnet, hanyalah sebuah papan dan beberapa spanduk di pinggir jalan. Jika tak ada itu, orang tentu akan salah kira itu ‘cafe tradisional’ atau rumah biasa.
Kami parkir sepeda motor dinas plat merah ayahnya Radit, lalu masuk. Tak seperti di luar, kini barulah terasa suasana komputer sebenarnya. Setelah bilang ke operator, kami ditunjukkan untuk ke sebuah komputer yang ada di tengah. Maka mulailah pengalaman itu.
Seperti biasa menyalakan komputer, masuk di desktop, lalu buka Internet Explorer. Kini tiba saatnya membuka alamat website, saat itu aku tak punya alamat yang aku tahu. Satu-satuya alamat yang aku ingat dan kami buka hari itu adalah Ketawa-Ketiwi (www.ketawaketiwi.com), situs Humor yang aku tahu alamatnya dari baca majalah.
Dan dari pengalaman itu, baru tahulah aku bahwa paradigmaku tentang internet seperti buku yang dibolak balik dengan tombol Back dan Forward itu salah total. Hehe… biarlah, untung Radit tak tahu paradigma ku sebelumnya, jadi tak terlalu malu.
Ada satu kejadian Masih ingat saya, sempat akan mengisi sebuah form di situs tersebut, lupa entah untuk kirim humor atau komentar sebuah humor, ada satu bagian untuk mengisi alamat email kami. Waduh, email??? ini aja baru pertama kali ber internet, dan aku pikir untuk bisa punya email itu harus bayar. Maka masih ingat benar saya ketika saat itu kami ketik, “Maaf, masih belum punya email”. Untung saja, metode konfirmasi seperti sekarang ini masih belum populer, sehingga ketika kami submit form tersebut, tentu tidak ada pesan kesalahan. Hehe….
Setelah merasa cukup, Karena tak tahu alamat situs lainnya, dan maklum, ini pengalaman pertama, maka jadilah kami seharian waktu itu tak membuka situs lain satu pun selain ketawaketiwi.com. Sekitar satu jam kami saat itu, dan itu hanya membuka satu situs itu saja, dengan kecepatan loading yang…. yah.. setara telkomnet instan dibagi satu warnet lah. Jangan ditanya seperti apa, seharian penuh itu kami ya cuman buka satu window Internet Explorer dengan satu situs saja, tak kenal apa itu Minimize, apalagi klik kanan-open link in new window. Chatting, email? duh itu ntar aja deh… Sudah seharian itu kami hanya belajar satu hal… buka situs.
Dan itulah pertama kali kami online. Pertama kali kami berinternet, mengenal seperti apa sebuah situs. Sekitar satu jam kami berinternet, saat itu tarifnya 6000/jam. Standar seluruh warnet se Ponorog memang segitu di tahun-tahun tersebut. setelah merasa cukup berkenalan dengan benda satu ini, kami pun pulang.
Ah lega sudah rasanya, ibarat satu jam berkenalan dengan orang asing… kini lega sudah, yang asing mulai dikenal.
Learn and Keep Learning
Setelah pertama kali merasakan bagaimana berinternet, aku pun pelan tapi pasti semakin menambah jam online ku. Terlebih saat tahu bahwa di kantor pos depan SMP ku membuka bagian warnet. Istilahnya Warposnet. Tarifnya pun murah, hanya 3000/jam.Sampai pernah si operatornya heran, karena aku pernah internetan dan habis 11.000 (itu 3 jam lebih). Ini anak SMP, internetan selama itu, kok ya betah to?? Apa gak pusing kayak orang-orang lainnya? yang dibuka pun apa pula sih?
Satu persatu alamat website internet dari majalah, koran, dll aku kumpulkan. Aku buka, dan lihat-lihat. Sudah,persis katrok kayak orang yang kagok mau belajar.
Tak lengkap rasanya belajar jika tanpa ada yang mengajari, entah itu sekedar artikel atau si Riza, teman hitech anak orang kaya yang aku ceritakan tadi. Darinya aku belajar membuat email, email pertamaku whydoyou2001@yahoo.com. Bangga benar waktu itu aku punya email!!! bahkan aku yakin kepala sekolah SMP ku belum tentu punya email, ber internet pun belum tentu bisa. Hehe… Seiring bulan demi bulan, semakin bertambah warnet di kotaku. Seiring ditutupnya warposnet tadi, aku pun pindah ke lain warnet. Semeru Street warnet kali ini. Komputernya lumayan canggih saatu itu, Celeron 500Mhz. Disitu pun tempatnya enak, dan lagi yang bagiku lumayan betah ialah, ada banyak majalah komputer disitu. Disitu pun banyak teman-teman SMP ku yang sering datang, sehingga aku pun banyak belajar dari mereka, Ada si Ika (sekarang di STT Telkom) yang mengajariku bagaimana cara chatting dengan MiRC, ada pula si Afif (TI Unnes) yang bahkan mengajariku cara main Game Red Alert.Dan bahkan dari seringnya berinternet, sampai aku pun akrab dengan Mas Fahmi, operator warnet yang sering menasihatiku, memberiku gambaran ini itu, dll dan sampai kini pun kami masih kadang sering kontak via dunia maya.
Diantara itu, Ada pula yang aku pun belajar secara otodidak, salah satunya adalah membuat Situs pribadi sendiri. Saat itu, aku membuat situs di tripod.com kalau tak salah namanya tonitegarsahidi.tripod.com , isinya tak banyak, hanya sekelumit profil tentang diriku. Tapi itu sudah cukup membuat aku bangga, dan seperti biasa, menuliskan alamat situsku dimana-mana. Di buku tulis, di coretan, bahkan aku pun menyebarkannya ke teman-temanku. Hehe… Maklumlah, sekolahku pun tak punya website saat itu.
Dan aku pun terus belajar dan belajar, Setia pergi ke kota besar, selalu aku sempatkan untuk membeli buku-buku komputer di toko buku besar. Berlangganan tabloid komputer (KOMPUTEK), baca-baca, dan sering menambah jam online. Rasa-rasanya ada yang kurang jika satu pekan saja tak berinternet.
Ketika akhir-akhir SMP, aku mulai belajar HTML. Belajar membuat website dengan cara sederhana, Notepad. Sedikit lebih canggih ketika beranjak menggunakan MS Frontpage. Hingga suatu ketika di SMA, aku dan Radit yang satu SMA dan Afif, temanku dari SMA lain, memutuskan untuk ikut dalam sebuah lomba web design tingkat SMA di Universitas Brawijaya Malang. tiga Orang Komputeris, dengan peralatan komputer yang sudah mulai dibilang tua dijamannya, membuat website dengan tool sangat sederhana. Hasilnya, tak terlalu mengecewakan, kami mendapat juara II waktu itu. Itu pertama kalinya aku mendapat prestasi tingkat propinsi. Aku pun lumayan bangga mengingat situs yang kami buat, hanya menggunakan tool-tool yang sangat sederhana, dengan komputer tua. Tak seperti kontestan lainnya yang menggunakan photoshop, dreamweaver, dll.
Dan agaknya internet semakin membiusku, terlebih ketika kelas 2 SMA Ortu membelikan aku modem. Waduh… sampai bengkak tagihan telepon rumah hanya karena aku sering ber-internet. Namun dari situ, ada banyak hal yang aku dapat. Aku mulai aktif di web forum (myquran.org), ikut-ikutan milis (padhangmbulan, sarikata, sabili, dll) terlebih dengan adanya outlook express, semakin menjadilah aku dalam ber email dan ber milis. Teman-teman ku pun terkadang sering pula yang banyak bertanya-tanya kepadaku tentang hal ini, itu, dll. Aku pun terus lebih banyak belajar, dan menginvasi warnet-warnet baru di kotaku.
Terkadang Jatuh Itu Perlu…
At Least, From Beginner To Web Programmer
Dan inilah aku sekarang, mahasiswa tingkat akhir di Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Malang, juga seorang web programmer yang bekerja di MySoftory.com. Pertama kali berinternet, tahun 2001. Kini sudah tahun 2009. Ada 8 tahun perjalanan dari seorang anak kampungan yang pertama kali membuka situs internet, kini menjadi seorang web programmer.Ada banyak cerita, ada banyak kisah, dari yang sedih, sampai yang merubah hidupku, dari seorang pemuda tak tahu arah, jarang sholat, tak punya arah hidup jelas, menjadi punya kepribadian, sholat 5 waktu lengkap, dan menjadi berkarakter dan berjati diri.
Dari seorang yang buta internet, menjadi salah satu pembuat situs internet , dengan segala kerumitan bahasa pemrogaman dan layoutnya yang bermacam-macam. Selama itu pula aku tak pernah mengambil kursus, atau sekolah khusus tentang internet. Hanya belajar dari buku-buku yang ada, dan dari internet.
Dan dari sini, inilah aku… seorang anak kampung dari kota kecil di jawa timur, yang mencoba untuk mewarnai dunia maya dengan goresan kanvas-kanvas kebaikan. Selalu yakin bahwa sebuah keahlian, berasal dari sebuah kebodohan yang dihapus setetes demi setetes dengan air ketekunan, dan semangat untuk mau belajar.
Dari seorang pemula, anda bisa apa saja!! dan ini jalan yang membawaku, from a beginner to a web programmer. Jika Aku bisa, mengapa Anda tidak???
Malang 26 Juli 2009
Se pulang kajian rutin…






menggugah semangat, jadi tambah semangat buat belajar nih!