Apa arti sebuah mimpi dalam tidur kita?
Bagaimana pula kita bisa menyebutnya sebuah mimpi indah atau buruk?
***
Kita biasa secara sederhana menggambarkan bahwa mimpi kita sebut indah jika di dalamnya ada sebuah hal yang menurut kita indah. Sesuatu yang tentu membahagiakan kita jika terjadi di alam nyata. Dan kita tahu bahwa mimpi yang seperti ini datangnya dari Allah, maka bersyukurlah, dan rasul pun mengajarkan pada kita untuk menceritakannya pada orang yang kita sukai.
Sebaliknya adalah mimpi buruk. Tak seorang pun menginginkan kehadirannya, bahkan orang yang sulit tidur (insomnia) sekalipun, takkan mengharapkan kehadirannya dalam tidur-tidur kita. Mimpi seperti ini berasal dari syaithan, dan kita dianjurkan untuk berta’awudz dan menyembunyikannya.
Bagaimanapun itu, mimpi adalah sebuah dunia yang penuh misteri. Satu hal, karena kita tak bisa mengendalikan mimpi itu. Kita tak bisa menjadwalkan mimpi kita, kita tak bisa pula merencanakan apa mimpi kita malam ini. Meski terkadang sering kita temukan bahwa seringkali kita bermimpi atas apa yang paling menyibukkan pikian kita. “Hingga terbayang sampai mimpi”, begitu kata sebagian orang.
Namun, dalam pandangan orang yang tengah terbius oleh cinta, mimpi akan menemukan relatifitasnya. Memang secara biasa, suatu mimpi yang indah bagi kita, bisa jadi adalah mimpi buruk bagi orang lain. Karena bisa jadi hal itu adalah suatu hal yang buruk baginya. Demikian pula sebaliknya, dan bukan ini telativitas yang ingin saya maksudkan.
Namun ketika secara konten kita dan orang lain sepakat bahwa mimpi tersebut adalah mimpi indah, disinilah kita akan menemukan relatifitas itu. Relatifitas ini terjadi ketika kita bermimpi bertemu dengan orang yang kita cintai. Ketika dalam mimpi tersebut hadir sosok yang selama ini kita idam-idamkan akan menjadi pasangan hidup, sang dambaan hati..
Dan memang sepintas mimpi tersebut akan kelihatan indah. Manusia mana yang tak berbunga-bunga ketika bertemu dengan dambaan hatinya? Meski hanya dalam mimpi! Kita pun akan sepakat bahwa isi dari mimpi tersebut tentulah indah bagi pemimpinya. Ya, saya pun juga akan sepakat seperti itu. Namun yang terjadi setelahnya tak jarang kita akan menemukan sisi buruk dari mimpi ini. Bahwa ketika kita akhirnya sadar bahwa keindahan tadi hanyalah mimpi belaka. Kita terbangun dan semua tadi pun lenyap tak berbekas.
Kita terbangun, dan menemukan bahwa orang tersebut tidaklah ada di sisi kita. Kita tak baru saja bertemu, atau apa pun. Bahkan bisa jadi orang yang ada dalam mimpi kita, ribuan kilometer jaraknya terpisah dari kita. Apa yang kita anggap indah, kemudian justru berbalik menyakiti sisi-sisi kecil ruang hati kita, hanya karena kemudian kita sadar bahwa kenyataan belumlah seindah dalam mimpi.
Disinilah titik uji kedewasaan cinta manusia. Orang yang lemah, maka ia akan larut dalam kesedihannya dan menyesali, bahwa cintanya ternyata belumlah seperti dalam mimpinya. Memang ia tak begitu lama larut, karena ia akan berbalik untuk kembali hidup dalam alam-alam mimpi indahnya. Mimpi tersebut akan terus ia rekam dalam jiwa dan pikirannya semata-mata agar ia merasa senang. Namun ketika ia terbangun dan bertemu realitas, ia pun akan sedih kembali. Ia mulai bermimpi lagi, sadar, sedih, bermimpi lagi, dan akan terus berulang seperti itu.
Sebaliknya, orang yang kuat dan tegar. Ia lebih memilih untuk berhadapan dengan realitas yang tak sesuai mimpinya. Rasa sakit dari mimpi indah tersebut justru akan mendorong dirinya untuk menggapai mimpi tersebut. Untuk bagaimana mendapatkan orang yang telah melintas dalam mimpinya. Orang seperti ini lebih memilih untuk merasakan sakitnya mimpi. Ia lebih memilih untuk hidup dalam realitas, dan tentu saja, sebagai akibatnya rasa sakit itu hanya akan dialaminya sekali atau dua kali. Dan kemudian ia akan berubah menjadi sebuah energi untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.
Orang yang seperti inilah yang akan bertahan dari siksaan kerinduan. Ia mampu mengubah luka-lukanya menjadi sebuah energi besar untuk mewujudkan keinginannya. Ia seperti sebuah kaum yang berabad-abad terpuruk dalam penjajahan, kemudian tiba-tiba bangkit menjadi singa-singa lapar yang siap menerkam tuannya. Ya, energinya bukanlah dari mimpi indah tersebut, melainkan dari rasa sakit karena mimpi belumlah sesuai realitas. Ia sadar bahwa tak ada gunanya hidup dalam dunia mimpi, ia memang butuh mimpi, karena bagaimana kita akan memiliki mimpi yang jadi kenyataan jika kita tidak memiliki mimpi itu sendiri? Mimpi indah itu mungkin akan terekam, dan itulah yang akan dikejarnya dengan segenap energi-energi akibat sakit tersebut.
Repost dari blog lama..
Malang, Maret 2007






Komentar Terbaru