Masih ingatkah kita tentang pelajaran tenggang rasa?
Itu tuh, yang diajarkan guru budi pekerti dan pendidikan agama?
Bahasa bukunya tenggang rasa, kalau populernya, Empati namanya
Tepo seliro, itu kata orang jawa
Di soal pilihan ganda, mulai sekolah dasar kelas dua,
Kita dapati jawaban-jawaban normatif kita, tentang tindak terpuji
- membantu menyeberangkan nenek-nenek (ini yang populer)
- tidak menyetel radio keras-keras
- memberikan kursi kita di angkutan umum pada nenek/orang cacat
- membuang sampah pada tempatnya
- menjaga perasaan orang lain
- dan lain-lain
tepi heran, heran dan heran lah kita
di bis kota, antar kota dan di atas kereta kelas tiga
kita lihat ada orang cacat, ada ibu hamil dan nenek tua
berdiri mereka dengan tenaga yang tersisa
tapi kita malah pura-pura tak melihat, alih mata ke jendela
“yang penting saya tak capek”, dalih setan kecil kita.
Ugh, kemana pelajaran kepedulianmu kawan?
sudah habiskah kepolosan kebaikan kita???
di rumah pun kita tak jauh beda,
lagu dangdut, pop rock hingga ska campursari
kita setel semau kita…. “yang penting gue suka!”
tanpa sadar musikmu itu menyakiti telinga tetangga
“mang semua suka gaya lagu loe”, itu gumamnya.
“kalau mereka keganggu, mereka bakal protes”, lagi-lagi setan kecil yang berkata
iya kalau kau tinggal di rumah luas, dengan tetangga satu kilo jauhnya?
lah ini, kau batuk saja, dua tiga rumah kujamin langsung terjaga
di jalan, di pasar, di tempat-tempat umum kita sama saja
lepas makan permen, kita buang seenak kita
bungkus plastik kita lempar dari jendela bis kota
gelas dan botol air minum yang masih sisa pun apalagi
padahal tempat sampah tak sampai semeter jauhnya
atau jika tidak, kenapa tak kau simpan dulu sejenak,
lalu jika bertemu tempat sampah, kau buang sampahmu kesana
apa sih susahnya??? butuh biayakah?? TIDAK kan??
ah tapi kita selalu dengar setan kecil di dada kita
‘biarin, toh nanti paling juga ada yang bersihkan’
Ah, andai kau tahu betapa berterimakasihnya mereka
para pasukan kuning, cleaning service dan para pembantu
jika kau buang sampah di tempat yang semestinya…
dan andaikan alam mampu tuk berkata-kata,
tentu sudah ber-’terima kasih’ mereka atas tindakan kita
di kantor, di arisan RT, di forum-forum ngerumpi
Pamer kita atas apa yang kita miliki pada orang lain
ceplas ceplos tertawa, senyum penuh kemenangan kita cerita
pada kawan yang terlilit hutang kita bilang, “aku tadi habis beli ini lho jeng!!”,
pada kawan yang anaknya tak lulus UAN kita cerita, “anakku sekarang wisuda es dua, habis ini nikah ma direktur”,
pada kawan yang beli motor bekas pun harus kredit 3 tahun, “Avanza? nggak level lah, minim ya harus Camry”,
pada kawan yang tengah patah hati, “ini loh suamiku ganteng kan jeng??”,
Tanpa pernah berpikir, akankah pendengar terluka dalam jiwanya?
Namun kita tak pernah peduli, terus saja kita cerita dan cerita
Dan kawan itu hanya tersenyum, tersenyum penuh simpati kepadamu
Sambil terus, dan terus menahan luka yang kian ia tutupi saja
Dan kini, ketika komunikasi justru kian dan kian mudah saja
makin gampang kita curhat, update status, upload foto, upload video
makin mudah kita untuk pamer, untuk mengeluh, untuk mencaci
dan anehnya kita merasa nyaman-nyaman saja
tanpa sadar nun disamping kita yang tak terlihat
dua malaikat tengah ikut sibuk mencatat
setiap update status facebook kita
setiap tweet-tweet kita
setiap email-email kita, ke kawan atau kemilis
setiap comment-comment kita
setiap tag-tag kita
setiap postingan dan upload foto video kita
adakah yang kita tulis dengan rasa ujub,
yang kita tulis dengan dendam rasa kebencian, kemarahan
ataukah maksud dakwah, ukhuwah, kerendah hatian, dan kesyukuran?
wallahu ‘alam… tanyakan kembali pada hati kecil kita
jangan biarkan setan kecil yang ambil suara
Ah hebat benar kita bicara lantang tentang ukhuwah, persaudaraan,
Protes teriak ketika kita dirugikan, disakiti ucapan sesama kawan
namun aneh dan sungguh aneh,
ketika kita bertutur bertindak tak peduli apa yang dirasa orang lain
ketika kita diam cuek tak peduli pada kelelahan orang lain
ketika kita bersenang-senang diatas ketergangguan orang lain
ketika kita justru tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan
saat si pendengar justru sakit air mata bercucuran
Ya Allah jauhkanlah dari kami kesombongan
keegoisan, ke tak pedulian, ketidak sopanan
ajarkan kami tentang kesantunan dan sifat perasa
Anugerahkanlah pada negeri ini apa yang telah lama tiada
karena kami telah rindu
-Tenggang Rasa-
www.tts.web.id
Malang, Jumat 25 Desember 2009
menjelang tengah malam

Belajarlah kepada awan yang mau menerima teriknya mentari,
Jika Hujan adalah kesusahan,
Anda pernah makan ayam bukan? saya tidak yakin pembaca blog ini adalah para vegetarian. Gara-gara membaca blog seorang kawan, saya jadi tergelitik untuk menulis tulisan ini.
“Berbuat kesalahan adalah kelemahan manusia,




Komentar Terbaru