Archive for the Category »Cerpen «

PENSIUN DINI – cerpen
PENSIUN DINI

img_1863Sudah 4 bulan ayah berada di rumah saja, tidak bekerja. Setiap hari beliau hanya berkebun di lahan yang sebenarnya tak layak disebut kebun. Hanya teras-teras sebuah rumah di kompleks KPR yang sempit. Tangan dinginnya membuat tanaman-tanaman kami tumbuh subur dan teras kami pun jadi mirip sebuah kebun bunga yang kecil. Tak terhitung, berapa tanaman yang ada di “taman” kecil itu. Aku pun tak terlalu dan hampir tak pernah sama sekali peduli tentangnya. Sekedar menikmati pun jarang, aku lebih sering berada di depan komputer, mengerjakan tugas, atau menulis-nulis sesuatu atau jika tidak sedang keluar rumah mengurusi organisasi-organisasi di luar sana. Toh saya juga jarang di rumah, karena sekarang saya tengah kuliah di sebuah kota yang 5 jam perjalanan jauhnya dari sana.

Ayah sekarang diskorsing dari pekerjaannya. Beliau untuk sementara di”rumahkan” terkait sebuah kasus yang bagiku bukan kesalahan beliau. Selama diskorsing beliau hanya menerima gaji setengah dari gaji pokok. Padahal seperti banyak pegawai negeri lainnya, gaji Ayah utamanya hanya bergantung pada tunjangan jabatan dan tunjangan perusahaan. Aku pun pernah hampir menangis ketika suatu hari melihat slip gaji yang diterima Ayah. Gaji yang diterima setelah mengalami sejumlah besar potongan, menjadi kurang dari 100ribu saja. Aku pun tak bisa membayangkan bagaimana pusingnya kedua orangtuaku, sementara aku dan kakakku tengah kuliah di kota yang jauh. Ini bukan yang pertama kalinya beliau mendapat hukuman dari perusahaan BUMN tempat beliau bekerja. Dulu waktu saya masih kelas 4 SD, beliau pun pernah mendapat hukuman yang tergolong berat. Namun baik dulu ataupun sekarang, bagiku sama saja. Ayah tak pernah diperlakukan secara adil.

“Habis manis, sepah dibuang.” Itu yang sering dikatakan ibu kepadaku. Ibu selalu bercerita tentang bagaimana upaya Ayah untuk memajukan perusahaan dan cabang dia bekerja. Ibu pun sering pula bercerita tentang bagaimana Ayah memimpin anak buahnya dengan baik, tentang Ayah yang pulang lebih akhir dari anak buahnya, tentang Ayah yang sering membelikan makanan bagi anak buahnya, atau hal-hal lainnya.

“Namun lihat jika Ayahmu ditimpa musibah seperti ini, tak satupun dari mereka yang datang menengok! Bahkan sekedar menelepon menanyakan kabar pun sama sekali tidak!”. Jika sudah begini ia pun akan mewanti-wanti saya untuk sekali-kali tidak akan bekerja di perusahaan semacam ini. “orang-orangnya mementingkan dunia, mata duitan, nggak ada ikatan kekeluargaan, ruhiyahnya kering karena semua diukur dengan uang dan jabatan!” ,ini tanda-tanda bahwa ibuku mulai kesal. dan itu berarti aku harus segera mengalihkan topik pembicaraan.

senang atau tidak, namun itulah kenyatannya. dua puluh lima tahun lebih ayah mengabdi pada perusahaan ini. Tak sedikit kontribusinya dan prestasi yang telah ditorehkan olehnya. Setidaknya ia tidaklah seperti pegawai lain yang menjalani kehidupannya sebagai pegawai biasa. Ayah tidak, ia memiliki visi kemajuan dalam dirinya. itulah kenapa meski ia lulusan SMA, beliau bisa menjadi seorang kepala cabang di perusahaannya. satu hal yang unik, mengingat tak jarang beliau membawahi anak buah yang justru sarjana.

Namun perusahaan Ayah tampaknya tidak pernah menghargai ini. “Iklim-iklim mata duitan, hanya tahu untung”, begitu kata ibuku. Ya, tampaknya perusahaan Ayah hanya mau menerima keuntungan, sedangkan kerugian, sebisa mungkin ditutup dan ditanggung oleh karyawan yang bersangkutan. Tanpa perlu tahu seperti apa penyebab kerugian tersebut.

***

Kasus ayah kali ini tak jauh berbeda dengan yang dialaminya 8 tahun silam. Bedanya jika hukumannya dahulu, pangkat dan gaji dipotong habis-habisan, kali ini ia diskors. bukan masalah korupsi, karena Aku tahu ayahku orang yang relijius. tak sembarang relijius orang-orang yang berkopyah ke kantor, Ayahku jarang memakai peci di kantor. tak harus berpeci untuk menunjukkan bahwa ia seorang yang alim. Aku pun juga maklum, tanda hitam di dahinya sudah tentu lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa ia orang yang bisa dipercaya. Ia dibesarkan di sebuah iklim keluarga yang betul-betul menghargai apa itu agama. Ayah sering bercerita bahwa kakek -ayah dari ayahku- memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai petugas stasiun kereta api hanya karena ia ditekan untuk berbuat curang dalam pekerjaannya. Ayahku adalah ayah yang menjunjung tinggi kejujuran, dan aku yakin ia tidaklah korupsi atau hal-hal curang lainnya.
kali ini masalahnya hampir sama dengan apa yang dialami beliau 8 tahun lalu. Ayah ditipu! “Terlalu percaya pada orang” mungkin sudah mendarah daging didirinya. sesuatu hal yang jarang ditemukan pada manusia dewasa ini. namun masalahnya bukan pada percaya atau tidak percaya, namun pada orang yang menyalahgunakan kepercayaan tersebut.
Ayah pun tak mengira bahwa anak buahnya akan bertindak demikian. Anak buah tersebut menahan pelunasan utang-utang nasabah yang diamanahkan pada dirinya. hal ini tentu membuat di laporan kantor cabang ayah menjadi banyak sekali bertumpuk kredit macet. Ayah sama sekali tak menyangka bahwa orang yang selama ini dipercayainya mengurusi kredit-kredit macet justru adalah sumber masalah dari kredit macet tersebut.
namun masalah muncul ketika dewan pemeriksa, pihak yang berwenang di perusahaan Ayah untuk mengangani masalah-masalah ini, mulai berulah. “Wajar saja, pemeriksanya memang cari-cari muka”, itu yang sering dikatakan ibu tentang pemeriksa satu ini. “dia memang tidak disukai oleh banyak kantor cabang” lanjutnya.
Ya, masalah utamanya agaknya bukan pada pegawai ayah yang nakal itu, melainkan pada dewan pemeriksa yang meneliti masalah ini. Ini pun diakui oleh ibu dan rekan-rekan seprofesi Ayahku di cabang lain. Para pemeriksa itu seolah-olah sangat senang bisa mengungakap sebuah kasus, mereka pun mulai cari-cari kesalahan. Aku tahu itu karena menurutku, pihak paling bersalah disini adalah pegawai ayahku. namun karena pemeriksa-pemeriksa itu terus mencari-cari kesalahan maka Ayah pun ikut kena imbasnya.
Aku tak tahu apa yang ada di kepala pemeriksa-pemeriksa itu? yang melakukan kesalahan adalah anak buahnya, tapi kenapa Ayah ikut kena hukumannya? “Resiko pemimpin”, itu jawaban yang diberikan Ayahku. Aku tahu memang menjadi pemimpin haruslah bertanggung jawab, termasuk tentang apa yang dilakukan anak buah. itu aku pelajari di aktivitas-aktivitas keorganisasian di kampus.
***
palu-sidangAyah tak pernah diadili secara adil. pemeriksa-pemeriksa itu pastilah menduga ayah berkomplot dengan anak buahnya dalam masalah ini. Aku tak tahu pengadilan macam apa yang mereka pakai untuk menghakimi Ayah. Tak ada saksi, tak ada jaksa. Jangan tanya apakah Ayah didampingin pengacara ataupun menyampaikan pembelaannya karena siapa yang jadi hakim pun tidak jelas. Mereka masih terus-dan terus saja mencari celah kesalahan Ayahku. aku pun tahu bahwa pemeriksa-pemeriksa itu mungkin baru puas jika ayah keluar dari pekerjaannya sekarang. dan itu terbukti kemarin!
Waktu itu masa hukuman Ayah sudah 4 bulan, artinya kurang 2 bulan lagi Ayah akan bekerja lagi secara normal dan itu artinya gaji beliau pun akan normal lagi. Pada suatu hari, Ayah menerima telepon dari kantor regionalnya yang ada di ibukota propinsi. Tak seperti biasa, Ayah kali ini dipanggil bukan oleh pemeriksa melainkan langsung oleh kepala kantor regional. Salah satu orang yang paling berkuasa di level propinsi untuk jaringan kantor kami.Dan hebatnya lagi, ayah dipanggil tanpa adanya surat resmi, hanya melalui telepon tersebut. Di telepon hanya disebutkan bahwa pertemuan tersebut akan membahas sesuatu tentang Ayah, itu saja dan tak lebih.
Maka pada hari senin pagi Ayah pun berangkat ke kantor wilayah. Ia berangkat sebelum subuh dan sampai dikantor pada pukul 9 pagi. Kali ini Ayah tak lagi berurusan dengan para pemeriksanya dulu, melainkan langsung dengan kepala kantor wilayahnya. Ayah berangkat dengan sebuah harapan, “Barangkali hukuman ayah dipercepat”, begitu kata Ibu. Ayah pun membenarkan.
Namun kecewalah Ayah ketika mengetahui bahwa yang terjadi tidaklah demikian. Kepala kantor wilayah menawarkan Ayah untuk mengajukan pensiun dini. Kagetlah beliau, atas dasar apa ia disuruh mengajukan pensiun dini? Usia pensiun Ayah masih kurang 5 tahun, apa tidak terlalu dini untuk mengajukan pensiun dini? Fisik ayah pun masih sangat mampu untuk menangani pekerjaan sehari-hari, beliau tidak sakit, lantas atas dasar apa orang yang bicara didepannya kali ini menganjurkan Ayah untuk pensiun dini?
“Kalau bapak mengajukan pensiun sekarang, maka Bapak akan pensiun sebagai kepala cabang, bukankah ini menguntungkan bagi Bapak?” atasan tersebut mengajukan alasannya. “Bapak akan mendapatkan pensiun sebagai seorang kepala cabang yang jelas berbeda dengan pegawai biasa”
“Alasan yang logis”, pikir ayahku, “Tapi tidak”, kata beliau dalam hati.
Namun atasan tersebut seperti tak kekurangan akal, “Saya rasa ini mungkin yang terbaik buat Bapak. Karena saya justru khawatir Bapak akan sama seperti karyawan Bapak tersebut”.
Karyawan Ayah yang melanggar tersebut memang telah dipecat beberapa waktu lalu. Dan kali ini Ayah diancam, dengan ancaman seperti itu. Pegawai negeri mana yang tak gentar dengan ancaman seperti itu, apalagi Ayah yang baginya bekerja di perusahaan ini sudah seperti mendarah daging.
Ayah tak memberikan jawaban pagi itu, ia meminta waktu sepekan untuk memikirkan jawabannya. Ayah pun pulang dengan setengah shock. pupus sudah harapannya bahwa hukumannya akan dipercepat.
Sepekan kemudian Ayah ditelepon oleh kantor wilayah tadi. Menanyakan apa jawaban Ayah. Tapi kali ini Ayah balik bertanya, “Kalau sekiranya saya mengajukan pensiun dini, nanti kira-kira saya mau pakai alasan apa di formulir pak?”.
Orang di seberang telepon pun menjawab dengan mudahnya, “terserah Bapak lah, saya rasa Bapak lebih tahu. Apakah mau alasan sakit atau sudah tidak sanggup atau apalah, bisa bapak karang-karang sendiri”. Ayah tentu tak mau. Beliau disuruh berbohong dalam kasus ini. “Kalau begitu, bukankah itu artinya saya berbohong Pak?”. Ayah pun menolak untuk mengajukan pensiun dini.
Tanpa sadar, aku pun mulai marah atas kasus ini. Bukan marah karena Ayah disuruh pensiun dini, melainkan marah karena aku mulai mencium ada sesuatu yang tak beres disini.
Atas dasar apa ayahku dianjurkan untuk mengajukan pensiun dini? Selama menjabat, kinerja Ayah selalu baik. Ketika beliau menjabat, omset kantor cabang tempat ayah bekerja selalu naik. Kalaupun ada kasus seperti ini, yang menyebabkan kerugian perusahaan seperti beberapa tahun lalu, ini pun bukan kesalahan Ayah. Ayah ditipu, ayah dikhianati!.
Perusahaan macam apa ini? Kali ini aku baru bisa membenarkan apa yang dikatakan Ibu tentang perusahaan ini, “Habis manis sepah dibuang”. Meski setengah ragu, jangan-jangan tak hanya perusahaan ini? Mungkin diluar sana ada banyak orang-orang yang mengalami kasus serupa dengan Ayah. Akibat sistem yang bobrok, yang menilai segalanya dengan uang, yang memenangkan siapa pun yang berkuasa selama dia ingin. Ah, sisi kelam kapitalisme memang.
***
Orang dari kantor wilayah masih sering menelepon Ayah, tetap dengan pertanyaan bernada-nada memaksa Ayah untuk mengajukan pensiun dini. Maklum memang, hukuman Ayah tinggal satu bulan lagi. Itu berarti Ayah akan bekerja seperti biasa lagi, meski turun jabatan. Namun disini aku jadi semakin curiga, ada yang tak beres dengan perusahaan ini.
Suatu ketika Ayah bercerita bahwa ketika beliau diminta mengajukan pensiun dini, atasannya mengatakan bahwa nanti surat pengajuan pensiun dini tidak usah ke kantor pusat di jakarta, cukup lewat kantor wilayah itu. Hal ini spontan membuat ayah semakin merasa ada sesuatu yang tak beres dengan pensiun dini ini.
Ada sesuatu yang disembunyikan, itulah yang kami tangkap. Aku bahkan berpikir barangkali orang tersebut ingin memasukkan salah seorang kenalan atau saudaranya ke perusahaan ini, dan itu berarti menunggu keluarnya pegawai lain. Jika harus menunggu Ayah pensiun 5-6 tahun lagi, mungkin terlalu lama, mengingat ada batasan usia penerimaan di perusahaan ini. Atau mungkin dengan Ayah mengundurkan diri, hal itu akan menunjukkan bahwa Ayah bersalah, dan itu akan menambah semacam nilai lebih untuk orang tersebut tentang prestasinya “memberantas korupsi”, menghukum berdasarkan asumsi untuk mendapat sekedar credit point untuk kenaikan pangkatnya.
Pada suatu ketika, Ayah diundang menghadiri resepsi pernikahan putra salah seorang karyawan perusahaan di cabang lain. Seperti biasa ajang seperti ini menjadi ajang pertemuan rekan-rekan Ayah. Disanalah Ayah mencoba berbagi masalahnya, berharap untuk mendapat dukungan dari rekan-rekan seprofesinya, setidaknya jika beliau tetap dalam tekanan rekan-rekannya akan membantu. Namun kecewalah Ayah ketika menemukan bahwa teman-temannya antara yang setuju dan yang tidak dengan pensiun dini jumlahnya hampir sama.
Ayah kecewa karena rekan-rekannya ini pun seolah membenarkan orang yang mendzalimi beliau selama ini. Mungkin karena mereka takut akan mengalami nasib yang sama jika menentang keputusan atasan. Ah, mencari seorang yang mau berempati memang sulit belakangan ini.
Orang-orang yang mendukung ini barangkali tidak pernah tahu bagaimana rasanya menghidupi keluarga dengan 150.000 per bulan. Barangkali mereka belum pernah tahu rasanya dihukumi secara tidak adil. Mereka pun mungkin tidak pernah pula memikirkan bagaimana rasanya tiba-tiba harus pensiun dini padahal kondisi masih semangat-semangatnya bekerja, dan terlebih lagi bagaimana rasanya jika itu adalah sebuah paksaan untuk sebuah kepentingan yang tak jelas.
Ah dasar, mereka mungkin tak pernah tahu bagaimana rasanya pensiun dini, begitu pikirku. Coba jika mereka yang mengalami seperti Ayah, tentulah sebuah dukungan akan menjadi hal yang akan sangat dihargai. Aku pun berpikir jangan-jangan orang-orang ini juga mendakwa Ayahku bersalah. Layaknya setiap orang akan mengatakan bahwa keputusan hakim selalu benar, padahal mereka tidak tahu apa yang dilakukan orang-orang yang ada dibalik layar untuk mempengaruhi hakim-hakim “mata duitan” itu.
Ayahku memang tidak berkarakter seperti orang-orang yang biasa menyebut diri mereka pengusaha, mereka yang mengajukan pensiun di usia muda untuk merintis bisnis. Ayah tetap lah Ayahku, seorang pegawai negeri teladan yang didzalimi oleh perusahaan tempatnya mengabdi selama ini.
Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa sangat muak, benci, dan marah. Tak hanya pada perusahaan ini, tak hanya pada kepala wilayah itu, tak hanya pada pemeriksa itu, tak hanya pada rekan-rekan Ayah yang mendukung atasan otoriter tersebut. Tapi lebih dari itu, entah kenapa perusahaan itu seolah menjadi semacam simbol bagi masyarakat simbol tentang kapitalisme, simbol tentang mengukur segalanya dengan uang, simbol orang-orang yang mementingkan dunia diatas kemanusiaan. Ah aku jadi khawatir, orang-orang ini mampu membeli harga nyawa seseorang dengan uangnya…
Minggu depan adalah hari pembebasan Ayah dari hukumannya. Itu artinya beliau harus kembali lagi bekerja seperti pegawai lainnya. Tapi kemarin, tiba-tiba saja Ayah ditelepon, kali ini bernada sangat memaksa, ia berkata bahwa barusan dapat telepon yang memberitahukan bahwa per tanggal sekian Ayah akan dipecat, dan itu sudah harga mati. Orang tersebut mengatakan bahwa jika Ayah tidak mengajukan pensiun dini sebelumnya, maka itu akan berakibat kerugian bagi Ayah, karena orang yang dipecat tentu saja kehilangan hak-haknya, termasuk pensiun sebagai seorang kepala.
“Terus bagaimana, apa keputusan Ayah?” tanyaku di telepon.
“Ayahmu kemarin sudah telepon ke kantor pusat, “ ibu menghela nafas beratnya, nafas yang bahkan bisa kudengar di telepon. “orang di kantor pusat mengatakan itu tidak benar, Ayahmu bahkan akan diangkat lagi meski bukan lagi sebagai kepala cabang”.
Entah kenapa hatiku langsung mendidih, bahkan untuk memaksa Ayah pensiun pun orang-orang di kantor wilayah tega untuk berbohong!. Namun disisi lain lega juga karena Ayah tak jadi dipecat.
footsteps“Jadi Ayah takkan mengajukan pensiun dini kan Bu?” tanyaku.
Suara diseberang kini bertambah berat, “Nggak nak, Ayahmu sudah menyerah…”
Ah, aku tak menyangka Ayah akhirnya menyerah. Orang yang terdzalimi oleh perusahaan yang dibesarkannya sepenuh hati, kini memilih menuruti seorang atasan yang tega berbohong demi sebuah kepentingan pribadinya. Dan Ayahku, ayah yang selama ini aku banggakan dan aku idolakan telah tunduk pada kedzaliman.
Selama beberapa detik tidak ada percakapan diantara kami, hening untuk beberapa saat, “Tapi Bu…” aku tak tahu apa yang harus dikatakan lagi
“Yang sabar aja nak ya! Gusti Allah ora sare kok!, dah kamu nggak usah mikir, ini urusan Ibu sama Ayahmu.“, Ibu selalu begini jika kami ditimpa masalah berat. Beliau memang tak pernah berbagi pada putra putrinya.
“Kamu tetap belajar aja!, nggak usah mikir cari uang macem-macem. Uang pensiun Ayahmu moga cukup biayai kamu hingga wisuda..!”, kali ini suara Ibu mulai ringan. “Kakakmu sebentar lagi wisuda, moga dia segera dapat kerja yang baik-baik atau setidaknya segera dilamar orang yang baik-baik”, kali ini ibuku tertawa. Ah syukurlah, setidaknya Ibu masih bisa tertawa.
“Ya, bu..” aku hanya bisa mengiyakan. “Doakan putramu ini dapat beasiswa ya Bu!”, aku tahu aku hanya menghibur Ibu, beasiswa di kampus sekarang ini sudah mulai jarang. Justru ketika biaya pendidikan mulai melambung.
“Ya Nak, dah wis, doa ibu ma Bapakmu akan terus ada kok, minggu depan Ibu dapet pesanan, temannya mbakmu mau nikah, Ibu diminta bikin masakannya lho!”, ia tertawa lagi, “Kapan ya mbakmu itu dilamar, pokoknya jangan sampai sama temannya anak Malang itu!”, ibuku menyebut sebuah nama yang tak disukainya. “Yah, setidaknya temannya yang Guru SD itu gak apa-apa, setidaknya dia agamanya masih baik! Lho kok ngomongin kakakmu nikah sih!”, kali ini Ibu tertawa, aku pun juga ikut tertawa.
Malam itu ibu banyak cerita tentang nenek yang habis operasi, tentang tetangganya, tentang pengajian-pengajiannya, dan beberapa lagi. Ibu bercerita banyak seolah tak ada masalah apapun disana. Bahkan ibu menyempatkan mengirimi aku dan kakakku Ayam panggang. Ah, ibu memang selalu begitu, Ibu tetaplah ibuku yang bersahaja, yang tak ingin putra-putrinya memikirkan masalah beliau. Sama seperti Ayahku yang bahkan tak berani menelepon, karena tahu aku orang
Malam itu aku tak berani membantah apa pun. Setengah menangis kututup telepon. Setengah terisak aku berdoa, Ya Rabb, aku mohon kepadaMu hari ini, yang pertama, sadarkan atau hancurkanlah orang yang mendzalimi Ayahku, dan yang kedua lindungilah kedua orang tuaku ini, sayangilah keduanya, ampunilah dosa-dosanya dan masukkanlah mereka kedalam surgaMu…
Malam itu, aku pun menangis..
Malang, 15 April 2007
Selepas tahajud…
Category: Cerpen  Leave a Comment
Tiga Pertanyaan Kehidupan – cerpen

sastera

Sudah 12 bulan, 2 minggu dan 3 hari kami berada disini (aku catat betul hari-hariku dalam diaryku). Di negeri yang bukan milik kami. Dan kerinduan mulai menjalar diantara kami. Koneksi gratis internet untuk berkirim surat maupun bertelepon ria ke Amerika, tak banyak mengobati keinginan kami, divisi ke V Airborne kompi A, untuk pulang. Pulang ke negeri dimana kami bisa minum Bir sepuasnya, memanggang babi dari peternakan, mengendarai Porsche menarik gadis-gadis di tepi jalan yang kuyakini bukan gadis lagi, bermain Frisbies dalam hembusan angin Florida, atau mengendap-ngendap dan mengamati dari kejauhan, Area51, sebuah area paling terlarang di negeri kami.

Namun disini, di negeri dimana orang menyebutnya negeri 1001 malam (aku hanya pernah membaca ceritanya tentang Aladin dan Ali Baba saja, itupun ketika masih di Primary School), tak banyak yang kami lakukan. Berbeda dengan beberapa GI lainnya di daerah Green Zone, kami di ladang peluru Fallujah ini tak banyak yang bisa kami rasakan soal hawa Amerika, selain Marlboro, Pepsi cola, dan Pizza keju atau HotDog buatan Giovanni, kepala juru masak markas kami dan yang disayangkan makanan itupun hanya sesekali.

Barangkali suasana ini pula yang membuat teman karib ku satu-satunya, Bill Alex, ingin segera saja hengkang dari negeri ini. Atau mungkin lebih disebabkan kerinduannya pada istrinya, Joanna, yang ditinggalnya dalam keadaan mengandung 2 bulan. Sekarang mungkin bayinya sudah berumur 5 bulan, Aku pernah diberitahu bahwa anaknya dinamai Peter Alex.

“Percuma…!!” kata Alex suatu waktu, “Guevara itu tidak akan berkurang, mereka semakin bertambah, dan tak hanya itu, beberapa waktu lalu aku dapat dari internet bahwa 3 hari yang lalu 3000 guevara mulai masuk dari Suriah dan Iran”. Ia menghirup kopi susu pahitnya dalam-dalam, beberapa rekan satu Barrak mulai memperhatikan kata-katanya. Alex mulai melanjutkan,

“Kudengar mereka datang dengan kemampuan lebih banyak, Bahkan mereka bisa membuat bom dari minyak kelapa, bir, dan bensin, dan itu cukup untuk membuat kita di barak ini tak pernah melihat Madison Square”. Aku tersenyum melihat Hayes mengamati kaleng bir di tangannya dengan heran, beberapa rekan lain pun tertawa melihatnya meletakkan kaleng birnya itu dengan hati-hati di atas meja kecilnya. Hayes memang penuh Humor, tak seperti Alex, teman dekatku itu. Ia memang bermulut besar. Dan yang kurang kusukai ialah perkataannya, bukanlah menyemangati pasukan kami,namun lebih pada membuat mental kami semakin jatuh.

Barangkali ia melakukannya agar kompi ini segera dipulangkan dan diganti dengan pasukan baru. “Jadi 750 lebih guevara yang kita tangkap 3 minggu lalu tak ada artinya..!” Alex menyimpulkan perkatannya sendiri.

Guevara, ya, begitulah kami di peleton pimpinan sersan Thompson lebih suka menyebutnya. Kami memang kurang tahu namun kami kurang suka jika memanggil mereka, para gerilyawan sebagai seorang mujahidin. Kami sendiri kurang tahu mengenai arti mujahidin, bahkan yang paling parah adalah kami mengira bahwa Muhammad adalah tuhan mereka. Namun keyakinan ini hilang setelah aku diberitahu bahwa Muhammad adalah nabi mereka dan Allah lah tuhan dari seluruh ciptannya di bumi ini. Namun kami tak terlalu peduli. Satu-satunya hal keagamaan yang kami rasakan toh hanya sewaktu natal dan paskah, itupun lebih sekedar faktor budaya barat yang ikut-ikutan merayakan natal. Bahkan mungkin aku ke gereja hanya dua kali dalam setahun, hanya waktu natal dan paskah saja. Masih lebih baik daripada banyak temanku yang hanya 2 kali seumur hidupnya. Saat menikah, dan nanti ketika meninggal…!!

Namun tampaknya tak hanya Alex, kami pun mulai bosan berada disini. Bagaimana tidak, kami tidak banyak ikut dalam pertempuran perebutan kekuasaan negeri ini, Sersan Thompson tak bisa berbuat banyak, Ia hanya menerima perintah atasan.

“Semua bersiap, 20 menit lagi kita briefing di A-4”, Suara sersan Thompson  menggema disambut dengan tepukan dan siulan dari seluruh yang ada di Barrak ini. “Tiit“, kunyalakan stopwatch di jam digitalku. Melihat sekilas, seingatku terakhir kami bertugas adalah sebulan lalu saat mengawal iring-iringan logistik markas kami, namun itupun kami sempat kecolongan sebuah kontainer. Teman-temanku satu barak ini tidak ada yang tewas sih, namun Russel, divisi medis kami tertembus peluru di paha atasnya. Ia pun digantikan oleh seorang baru, seorang Negro, kami menyebutnya MitNick.

Kupandangi lekat-lekat jam digital persegi yang melingkar di tanganku. Tulisan Seiko putihnya sudah mulai pudar. Kutatap lagi, 18.21…., 18.22…., 18.23….,Yak, 18 menit 24 detik, tepat ketika aku masuk ke ruang A-4 ini. Kuhamparkan pandangan ke penjuru ruangan, dan kulihat Alex melambai padaku. Aku segera menghampirinya.

“Semoga ini tugas terakhir bagiku…!!” katanya tajam. Menurutku, ia memang sudah sangat bosan. Kuingat betul kata-katanya yang dalam ini. Ia memang benar-benar ingin pulang.

“Maksudmu pasukan ini…?”, kubuang permen karet di mulutku, “tak hanya kau yang ingin pulang, pasukan ini sudah terlalu lama disini.”. Ingin rasanya kutambahkan kata-kata namun kulihat sersan Thompson sudah masuk. “Gentleman.. “ Sersan memulai pembicaraan, “beberapa waktu lalu, aku dapat kabar bahwa kemarin, USS Enterprise merapat.” Ia memutus perkatannya, memang begitulah ia, suka membuat penasaran lawan bicaranya. Dan yang lebih membahayakan, terkadang ia juga membuat penasaran para guevara itu.

“Apakah kita disuruh mengelap super carrier itu?” ujar Hayes disambut gelak tawa di ruang A-4 ini. “Lebih dari itu, mereka membawa pasukan pengganti bagi kompi ini”, kulihat mata Alex berbinar mendengar kata-kata pengganti dari mulut Thompson. Thompson mengulangi kata-katanya, “Gentleman, minggu depan kita akan pulang…”

Kata-kata tersebut spontan membuat kami bergembira. Alex berdiri mengepalkan tinjunya, ia tampak histeris. Barangkali tepukan dan sahutan 20 orang di ruangan itu akan terus berlanjut. Namun sersan Thompson meneruskan perkatannya, “Dan kita disini membahas tugas terakhir kita…!!” namun ruangan tetap riuh-rendah. Bagi mereka tugas terakhir seberat apapun akan dijalani, asalkan kami bisa pulang.

***

humveeAlex  duduk di bangku belakangku hanya tersenyum. Baginya ia harus segera pulang.  Ia memandang lekat-lekat sebuah foto bayi kecil berambut pirang. matanya yang hijau mirip seperti ayahnya. Ia mendapatkannya dari istrinya melalui email. Banyak sekali ia menge-print foto itu, sehingga, sungguh kuhitung tak kurang dari 13 foto yang berbeda kutemukan tertempel di ranjang susunnya. Kupindah posisi persneling ke gigi 5, kutambah gas. Aku ingin agar tugas ini segera berakhir. Terbayang gambaran Bibi Josh yang membuatkan teh untukku, sewaktu berangkat sebenarnya ia berniat mengenalkanku dengan seorang wanita, namun aku lebih memilih tugas dengan gaji 400 dolar per bulannya. Bagiku kesempatan berperang adalah pengalaman  langka apalagi di daerah dengan kultur yang jauh berbeda dengan negeriku. “Russel…!!” suara itu menghapus bayangan bibi, “Keep on your way”, suara sersan terdengar jelas dari telinga kananku.

“Yes sir…!!” kucoba mengalihkan gambaran rumah bibi Josh dan terus memperhatikan jalan. Humvee ku yang berada di urutan pertama pasti membuatku menjadi sasaran empuk setiap guevara.

Namun tak urung suasana jalan yang lengang membuatku terbayang kembali akan kondisi di rumah. Namun kali ini tentang ……

“Russel..!!”, suara sersan Thompson memekakkan telinga kananku, secara refleks aku pun menoleh. “What’s …..?” tanyaku terputus.

“R..P..G…..!!”, segera saja kubanting setir kemudi ke arah kanan, menepi dengan cepat. “Dhuar…!” suara keras ledakan granat berpeluncur roket (kami menyebutnya stinger atau RPG), menghantam sebuah truk di belakangku. Supir truk asal kuwait itu terlalu lamban untuk menghindar. Kendaraannya terhenti seketika. Kap truk tersebut terbakar.

Tak sempat aku memikirkan tentang kondisi mereka, humvee ini masih harus bergerak. Mengingat  bisa jadi masih banyak RPG susulan yang sewaktu-waktu bisa menghapus harapan Bill Alex. Dengan cepat kupindah posisi persneling ke gigi mundur lalu kubawa humveeku ini menjauh. Dan benar saja, segera terpaut 7 detik sebuah RPG lain menyusul menghantam tanah 10 meter didepan kami.

Tak sempat kuperhatikan ada sebuah tong berwarna merah di sisi kiri seberang jalan. Ketika tersadar, tong tersebut sudah meledak keras di sisi kiri jalan. Segera saja kaca pintu disebelahku semburat menghantam sisi kiriku. Refleks kumenundukkan kepalaku, namun agaknya sudah agak terlambat….. beberapa serpihan kaca kulihat menancap lengan kananku.

Lantunan teriakan sersan untuk segera keluar adalah suara terakhir di telingaku. Ketika kutoleh ke arah beliau, sebuah peluru tampak langsung menembus lengan kirinya. Entahlah, semua benar-benar seperti adegan dalam film-film Hollywood selama ini. Semua berjalan begitu lambat…. Begitu lambat, namun akhirnya tak urung hanya gelap yang bisa kulihat. Tak lebih..!!

***

Aku terbangun di sebuah kamar, lumayan lebar, dengan sebuh teralis dari aluminium tebal. Besi agaknya terlalu berharga disini. Bagiku ini justru mirip sebuah kamar hotel yang berfungsi sebagai penjara, dan sepertinya memang begitu. Karena terdapat sebuah kamar kecil pula di dalam sini. Hanya sebentar aku terbangun, namun tak urung sakit di kepalaku dan lagi dengungan di telinga akibat ledakan kemarin membuatku tak urung harus tertidur lagi…
***

Mungkin aku tertawan disini sudah sekitar 2 hari, Syukurlah, dengungan di telingaku sudah jauh berkurang. Namun luka di kepalaku, membuatku banyak tertidur, ketika terbangun sesekali terdengar suara riuh, Jika aku berdiri untuk mengintip dari jendela kecil, yang terlihat mereka tampak berdiri dalam sebuah barisan rapat. Sempat kupikir mereka berlatih baris berbaris ala militer, namun lantas aku ingat, bahwa itu mungkinlah sholat, seperti yang sering diselorohkan Hayes sebagai “ibadah jungkir balik”.

Tak kusangka mereka memperlakukan ku dengan baik disini. Baik dari makanan, minuman, kamar kecil, bahkan hal yang paling membuatku terkesan, mereka mencucikan bajuku…!! Berbeda jauh jika rekan-rekanku menangkap beberapa guevara. Sebuah pukulan di kepala dan perut, itu hanya hal yang paling minimal. Namun tak kusangka, tak sekalipun mereka memukulku. Luka yang ada dikepalaku dan sebagian kecil di tanganku, adalah akibat ledakan terakhir kemarin.

Suasana bosan mulai menjalar dalam darahku, kucoba untuk berkomunikasi pada salah seorang disitu. “Apa sih ibadah yang kalian lakukan, yang sambil begini begitu..??”, tanyaku pada penjaga suatu hari sambil menirukan beberapa gerakan mereka.

Namun dia tampak kebingungan, dia hanya mengigau tak karuan, lalu aku sadar bahwa orang ini bisu. Dan lagipula aku rasa ia pun tak paham akan bahasa inggris. Aku pun hanya menunjuknya, sambil berkata, “Your Commander..!!”. agaknya ia mengerti dengan ucapanku kali ini, ia pun ngeloyor pergi.

Seperempat jam kemudian, seseorang berkemeja hitam datang. Tak kusangka ternyata ia jauh dari kesan sangar dari seorang warga irak. Dan memang kurasakan benar sebuah aura kepemimpinan terpancar dari dirinya. Ia mengambil kursi, lima meter di depan teralisku. “Apa sih ibadah yang kalian lakukan, yang sambil begini begitu..??”, tanyaku sama pada orang tersebut. “Itu sholat, salah satu kewajiban kami dalam islam, hal mendasar yang membedakan kami dengan orang seperti kalian. Jawabnya singkat. Orang itu mengambil sesuatu dari saku kemeja hitamnya. Dia mengambil sebuah foto. “Apakah mereka keluargamu..??”, Ia menyodorkan foto tersebut kepadaku.

Aku mengernyitkan keningku, kuraih dari tangannya foto tersebut lalu kupandangi sejenak. Tak lama kemudian aku sadar siapa yang ada dalam foto tersebut. Joanna dan peter..!! kontan aku berteriak, “Alex, apa kalian membunuhnya..!! kalian pembunuh..!! Guevara Keparat..!!!”

Pria itu tak banyak berkata, ia menunggu emosiku agak reda dahulu. “Entahlah, kami juga tidak tahu apakah ia tewas atau tidak, kami menemukannya bersama sebuah senapan M4A1 pasukan kalian”, dia bangkit dari duduknya dan melanjutkan, ”tapi kami rasa mungkin dia tewas karena disekitarnya ada lumayan banyak darah. Dari satu konvoi kalian, hanya kamu yang tertinggal dan kami membawamu kesini” Jawabnya seolah tanpa ekspresi.

Jawaban seperti itu kontan membuat darahku naik, “Kalian tidak tahu betapa sebenarnya dia sudah betul-betul mengharap kepulangannya..!!! Kalian tahu..??” aku mengambil nafas sejenak, “Dia sahabatku satu-satunya, foto itu adalah keluarga dia di US, dan kalian telah membunuh satu-satunya tumpuan keluarga mereka..!!!”

“Oh ya…??? Ada lagi sebelum aku menjawab pertanyaanmu..??” tukas pria itu singkat. Seolah ia tak merasa bersalah sedikitpun.

“Kalian tidak tahu bagaimana Alex sangat mencintai keluarganya, dan bagaimana ia sangat merindukan keluarganya..!! dalam bulan ini kami seharusnya sudah pulang, namun kalian betul-betul sudah menghancurkan impian dia untuk pulang ke keluarganya..!!” kataku setengah berteriak. Ini membuat penjaga bisu tadi tampak setengah ketakutan. Melihat itu, dalam hati aku tersenyum agak puas.

“Itulah perang kawanku, “ Ia masih tetap tenang. “Kalian hanya kehilangan satu dan kau sudah berteriak seperti itu…???” jawabnya agak sinis.

“kalian tahu berapa sih keluarga kami disini, berapa sih penduduk disini, atau bahkan berapa rumah sakit, dan sekolah, yang didalamnya masih terdapat anak-anak, orang tua dan mereka yang tidak layak perang, kalian bunuh dan hancurkan…???”

aku tercenung mendengar jawabannya. “Maaf, dalam perang, kami paling punya etika. Kami hanya menyerang tentara dan orang-orang yang berpotensi kesana. Kami tidak menangkap apalagi membunuh wanita2 kami yang lemah seperti yang kalian lakukan selama ini..!!” jawabnya tegas. “Mohon direnungkan..!!”, ia beranjak bangkit dari kursinya. Aku tak bisa menjawab kata-katanya. Mulutku seolah tercekat kuat.

Ketika aku sadar ia hendak  pergi, segera kucegat dia dengan sebuah pertanyaan.“Oh ya, satu pertanyaan terakhir, kenapa kalian tidak membunuhku, kenapa kalian justru menawanku disini..??, bukankah aku juga termasuk orang yang ikut dalam membunuh keluarga kalian..??” tanyaku sambil bersikap seolah menantang. “Anda terlalu berharga, kami ingin menukar saudara dengan beberapa wanita dan anak-anak kami yang ditawan di penjara Anda.”, jawabnya sopan. Ia pun berlalu  sambil memberi isyarat pada penjaga bisu disebelahnya. Dan hari-hari selanjutnya, komandan yang tak pernah mau menyebut namanya ini selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungiku. Kesempatan ini tak kusia-siakan. Aku pun menanyakan banyak hal kepada dia, dari hal-hal kecil seperti bagaimana keluarganya, sampai hal-hal tentang prinsip orang tersebut. Ternyata dia seorang muslim yang taat, aku pun banyak bertanya kepadanya tentang hal-hal Keislaman.

“Ketika kalian berperang untuk menang, maka berbeda dengan kami…!!”, katanya suatu hari. Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.

“Ketika kami memutuskan untuk berperang, hanya satu kata yang ada, yaitu Menang. Tak peduli apapun hasil kami di peperangan itu. Kemenangan hanya bisa dibagi menjadi 2 kata, menang atau mati syahid, sebuah kematian yang mulia dalam Islam.” Jawaban ini otomatis menjawab pertanyaan dalam hatiku selama ini, bagaimana bisa sih sebuah pasukan kecil, tidak ada apa-apanya berani menentang kekuatan sedemikian besarnya seperti Amerika…?? Namun ini tak banyak membuatku terkesan. Sampai suatu hari, dia bertanya kepadaku, “Pernahkah Anda berpikir, untuk apa kita diciptakan, hidup di dunia ini..???, mungkin suatu waktu, Anda harus merenung tentang tiga pertanyaan kehidupan.

“Apa itu..??” tanyaku antusias.

“satu, Siapa yang menciptakanmu, Dua, Untuk apa kau diciptakan dan hidup didunia ini, dan terakhir, Akan kemana, kau setelah matimu.”, jawabnya.

Aku pun hanya manggut-manggut, memang juga sih aku belum pernah disodori pertanyaan seperti itu. Tapi agaknya waktuku di hotel penjara ini pun harus segera berakhir. Aku tak bisa banyak merenung disini, “Besok, kamu akan ditukarkan..!!” tukas pria yang biasanya kutemui.

“Kita akan jarang bertemu lagi..!!” kataku.

“Dan mungkin kita pun akan saling bertempur lagi…!” tukasnya sambil tersenyum simpul. Aku hanya tersenyum kecut.

***

Keesokan paginya, mereka membawaku keluar, mataku ditutup dengan kain gelap, dan aku dinaikkan dalam sebuah mobil.. Aku dibawa berputar-putar dulu supaya aku tak tahu dimana saja aku sekarang berada. Sesampainya di sebuah jalan di mana kanan dan kiriku hanya gurun kering kecoklatan, aku diserahkan ke seorang pria berseragam Airborne. Seorang sersan rupanya.

03_uss_enterprise_cvn_65Dalam perjalanan, aku tak banyak berkata. Di markas, pihak intelijen militerpun sempat menginterogasiku semalaman. Mereka bertanya macam-macam, dari apa saja yang aku katakan pada guevara, maupun hal-hal lainnya. Dan lagi-lagi memang tak banyak yang bisa kuceritakan karena memang jujur tak banyak yang kuketahui selain apa yang mereka katakan tentang Islam. Agaknya para intel-intel militer itu tidak seberapa puas. Namun mau apa lagi, mereka pun tak urung menerima juga. Meski tak lama kemudian, entah aku seperti merasa diawasi. Karena luka dikepalaku, ditambah lagi aku belum diperbolehkan banyak bergerak, maka tak urung aku pun diperintahkan untuk pulang kembali ke US. Setelah prosesi penyerahan medali kehormatan atas luka yang diperoleh beberapa diantara kami, termasuk sersan thompson dan Alex yang ternyata masih hidup, keberangkatan kami pun dimulai. Sempat kupandangi sebentar USS Enterprise ini, Tak kusangka, besar juga sebuah mesin perang kebanggan Amerika.

Di kapal ini, aku disarankan untuk lebih banyak beristirahat. Aku ditempatkan di ruang medis dan perawatan.  Agaknya luka dikepalaku, memang butuh perawatan, karena sesekali aku masih merasa sakit dipelipis kananku. Sambil berbaring, di ruang sempit ini, aku pun banyak merenung. Merenung apapun atas apa yang kulakukan selama ini. Sesekali terbayang gambaran bibi Josh, namun agaknya ucapan-ucapan dari komandan guevara itu yang banyak kurenungi. Waktu beberapa hari di atas kapal ini membuatku semakin gundah…  aku ingin segera tahu jawaban dari tiga pertanyaan kehidupan itu.

Sesekali ketika sudah malam hari, aku keatas dek untuk terkadang merenung sekali lagi. Suara dengungan pesawat yang berlatih dimalam hari, tak banyak kuhiraukan. Aku hanya merapatkan jaketku sambil memandang langit. Dokter bagian medis memang memberiku ijin untuk itu, dan ini membuatku semakin senang. Aku terus memikir, apa sih tiga pertanyaan kehidupan itu..???

***
Lima bulan kemudian…..

***
Kupandang istriku di sisi mobilku, dia sedang tertidur sambil tersenyum kearahku. Dalam hati, aku berkata, cantik juga istriku ini. Sebuah buku karangan al qarny ada dipangkuannya. Ia mengenakan gamis putih dipadu dengan jilbab birunya. Ya, aku sekarang adalah seorang muslim, diantara muslim-muslim di Amerika lainnya, Aku menikah baru sebulan yang lalu, ia orang Amerika keturunan bosnia. Tak kusangka perenungan di USS Enterprise membawa sebuah cahaya tersendiri bagiku. Seminggu setelah kepulanganku aku memutuskan keluar dari kemiliteran. Dan beberapa hari setelahnya, aku pun mencari sebuah Islamic center terdekat. Tak sulit menemukan hal itu di san Fransisco, karena sejak peristiwa 9/11 kemarin, tempat itu menjadi begitu terkenal. Akhirnya, aku sekarang sudah menemukan sebuah kesejukan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sebuah cahaya, Sebuah matahari diantara gelapnya qalbu para awak enterprise yang lain.

Ingin rasanya aku pun juga bersegera untuk setidaknya membantu mereingankan beban saudara-saudaraku di Irak sana. Semakin kuingat-ingat kejadian dahulu, terkadang semakin bertambah pula kebencianku kepada negeri ini. “Suatu waktu, aku harus melakukan sesuatu pada negeri ini, suatu waktu…. Dengan cara apapun… Harus..!!!”, azzamku tegas. Oya, aku barankali tidak membenci negeri ini, namun kebencianku adalah pada pemerintah  ini , beserta seluruh kebijakan luar negerinya yang menurutku omong kosong belaka.

Suaraku agaknya membangunkan istriku, tapi dia hanya menatapku singkat, aku balas tatapannya dengan mencoba tersenyum. Namun tampaknya dia tak begitu peduli, dia pun menutup matanya lagi dan terbuai dengan mimpi indahnya.

Di luar jendela, agaknya senja sudah mulai mendekat. Segera kupercepat laju mobilku.  Di luar, hari sudah menjelang gelap, namun selamanya tak akan kubiarkan kegelapan sekali lagi menaungi hatiku. Dalam senja kutemukan sebuah jawaban, Bahwa ternyata tiga pertanyaan kehidupan adalah tidak untuk dijawab, namun adalah untuk dipikir, dipahami, dan direnungkan… Biarlah sebuah Super Carrier, Enetrprise,  menjadi saksi Buta atas bagaimana sebuah cahaya itu bermula.

Malang, awal tahun 2006

Sepatu Kota – cerpen

sepatuTak seperti biasanya, hari itu ada dua buah mobil berpelat L terparkir di depan masjid itu. Masjid Asy Syahiid, satu-satunya masjid jami’ di desa Glonggong.

Sebuah merek mobil jepang terbaca oleh Sunarto, seorang petani yang tinggal di depan masjid. Ia memang tak begitu paham akan mobil, tapi menurutnya mobil seperti itu, tentulah mahal. Bodynya yang mengkilat dan ukurannya yang lumayan tambun, menandakan itu bukan mobil-mobil yang biasa ditumpanginya ke pasar kota. Maklum, di desa Glonggong, ini satu-satunya yang punya mobil, hanyalah Pak Sony, seorang pedagang di pasar kota, dan itupun hanya sebuah pick up tua tahun 90an.

Tak banyak yang menumpang mobil itu, begitu menurut perkiraan Sunarno, yang ia hitung hanya ada sekitar 6 orang. Dan itupun kesemuanya laki-laki. Namun tunggu dulu, dari satu mobil, keluar dua orang wanita, berjilbab dan berbaju panjang, begitu yang ia lihat. Jadi total ada 8 orang yang ia hitung. Kedua wanita tadi ia lihat langsung ke atas, yang memang merupakan tempat buat ibu-ibu dan wanita..

Sunarno tak berani mendekat. Baginya, orang-orang asing itu seolah seperti orang-orang dari planet luar seperti yang sering dilihatnya di TV. Ia hanya melihat dari teras rumahnya. Waktu masih belum masuk Dhuhur, masih jam 10an siang, orang-orang itu terlihat beristirahat di depan masjid. Jam-jam segini, pintu masjid memang sering terkunci.

“Mereka siapa pak..??” seseorang menyapanya dari belakang. Istri Sunarno rupanya.
“Nggak tahu bu, orang kota sepertinya., bapak juga baru kali ini ngelihat mereka”, jawab Sunarno.
“Ya mbok coba dilihat kesono, kenalan atau apa lah..!!”
“Ibu aja deh.. biasanya sesama ibu-ibu kan bisa lebih akrab, tadi bapak lihat ada 2 orang yang naik ke atas.”
“Wis, bapak ini, disuruh istrinya, malah balik nyuruh, “ tukas istrinya sambil melengos kembali ke dalam rumah

***
Sudah jam 12 siang, dan dari menara masjid terdengar Sarto, muadzin masjid, mengumandangkan adzan dengan suaranya kecilnya. Sunarno, tak lekang lantas masuk, ia segera berwudhu, ganti baju, mengenakan sarung , lantas menyambar sajadah di kamarnya.
“Bu, bapak berangkat duluan ya..!!! jangan lupa ntar kunci pintunya..!!”, teriak sunarno sambil berangkat pergi.
Dilihatnya keenam orang tadi berada di tempat wudhu, 3 diantaranya masih berwudhu, sambil sementara sisanya masih menggunakan sandal jepit, antri. Sunarno segera beranjak masuk, sholat tahiyyatul masjid, lalu menunggu sang imam.
***
Sholat sudah selesai, namun dilihatnya keenam orang tadi masih belum keluar. Padahal setahu Sunarno, pintu dalam masjid akan dikunci beberapa saat lagi. Sunarno tidak terlalu peduli, ia pun segera beranjak pulang ke rumahnya.

Di gerbang masjid, sempat dilihatnya pak Haji Imron, imam masjid desa sempat bercakap-cakap sebentar dengan salah satu dari mereka. Sunarno tak tahu apa yang mereka bicarakan.

“Mereka siapa pak Haji..??” tanya sunarno pada Pak Haji, yang lewat depan rumahnya.
“Orang kota.” Jawab pak Haji pendek.
“Ngapain..??” tanya sunarno antusias
“Nggak, katanya mereka lagi mau bikin tower buat apaan tuh, HP di ujung desa kita. Katanya mereka sudah beli, dan mau lihat-lihat.” jelas Pak Haji.
“Ooohh..” sunarno hanya manggut-manggut. Ia memang boleh dibilang orang desa yang gaptek. Meski tahu apa yang namanya handphone, tapi seumur-umur dia belum pernah memegangnya langsung. Sunarno masih penasaran, namun ia masih terlalu takut dan malu untuk bicara pada orang-orang asing tersebut.
Sekali lagi ia hanya melihatnya dari jauh, melamun.
“Orang kota kok Pak, mereka cuman mau istilahnya apaan, survey kalo nggak salah, tanah milik Pak Mahmud di ujung desa itu, katanya mau bikin tower atau apaan lah istilahnya..”, suara istri Sunarno, membuyarkan lamunannya.
“Eh, oh iya”, jawab Sunarno setengah tergagap.”Tadi pak Haji juga bilang begitu, katanya tower buat handphone kalo nggak salah.”, Sunarno membenahi duduknya.
“Tadi aku sempat ngomong ma dua orang diatas tadi, mereka ternyata ibu ma anaknya. Yang anaknya masih muda loh pak, paling masih dua puluhan, tu istri salah satu dari orang-orang itu tuh..”, ujar istrinya sambil meletakkan segelas teh ke meja bapaknya.
“Ngobrol apa aja tadi bu..??” tanya Sunarno sambil menyeruput tehnya.
“Bukan Ibu yang ngobrol, tapi Bu haji, Ibu cuman nguping doang kok. he..he..he.., eh Ya, Sarmin mana Pak, biasanya jam segini tuh anak sudah pulang.”, Tanya istri Sunarno
“Biasa, paling ke rumahnya Aji, putranya Pak Sony, main PS disono”, tukas Sunarno tak acuh, baginya orang-orang kota itu, saat ini jauh lebih menarik daripada mengurusi Sarmin, putra semata wayangnya yang memang hobi dolan.
***
Sudah sejam lalu kedua mobil itu pergi. Meninggalkan  debu-debu yang berterbangan didepan jalan Rumah Sunarno. Debu-debu dari jalan makadam yang kering. Debu-debu jalan akibat mobil tadi masih lekat dimata Sunarno, atau memang karena musim kemarau yang sudah  tiba sebelum waktunya. Kondisi jalan desa yang masih berbatu-batu dan makadam yang membuatnya makin kering dan berdebu. Kemarau membuat rumput dan ilalang di sekitarnya kuning kecoklatan, menyisakan akar-akarnya yang masih hidup menunggu tetesan hujan.

Entahlah, kapan pula jalan didesanya akan diaspal. Tahun 2004 lalu, sempat terbersit kabar, jika ada satu partai yang menang dalam Pemilu di desanya, maka jalan desanya akan diaspal. Partai tersebut memang akhirnya menang, namun realisasi peng-aspalan jalan tak pernah terwujud. Dan warga desa perlahan melupakannya. Namun terbersit dalam hati Sunarno dan warga desa lain, mereka bertekad takkan memilih partai-partai semacam itu. Partai-partai yang biasanya hanya mengandalkan tokoh, dan bukan akhlak orang-orangnya.

Waktu sudah masuk Maghrib, dan satu demi satu warga kampung perlahan berduyun-duyun mendatangi satu-satunya masjid di kampungnya. Tak lupa beberapa anak kecil seusia Sarmin, berlari-lari membawa tas kecil, berkejar-kejaran, ya, dalam tas itu ada juz amma atau iqro’. Anak-anak seusia mereka biasanya akan ngaji selepas sholat maghrib hingga usai. Saat-saat dimana banyak anak kota justru melengos dan pergi menonton kartun kesayangan mereka, sponge bob, atau apalah, Sunarno juga kurang paham. Di desanya tak banyak channel TV yang tertangkap, ditambah lagi ia pun memang jarang nonton televisi.
***
Sholat maghrib telah usai, dan para jamaah pun sedikit demi sedikit mulai berlalu. Anak-anak kecil masih berkejar-kejaran di depan masjid hingga akhirnya salah satu dari mereka berteriak memanggil. Dan anak-anak kecil itupun bergegas masuk kedalam, mengaji. Dan seperti biasa, Sunarno menghabiskan waktunya diteras masjid. Entah ada saja yang ia lakukan. Terkadang mengamati anak-anak itu mengaji, sekedar melamun lepas, atau hanya ngobrol bersama pak Haji.

Kali ini Sunarno memilih melamun, ia mengeluarkan sebatang kretek lantas menyalakannya. Ia menoleh kesana-sini, coba mencari bahan lamunannya kali ini. Dan pandangannya pun langsung tertuju ke sudut utara masjid. Ada sesuatu menarik disana.. Tak seperti biasa, Sunarno melihat sepatu itu. Sebuah sepatu kulit warna coklat gelap mengkilap. Sepatu dengan tali yang tak lagi terikat rapi. Baginya sepatu itu terlihat asing. Sepatu yang umum di benak Sunarno hanyalah sepatu kets, dari kain dan terkadang dengan warna-warna yang enak di mata.  Merah, biru, kuning, seperti yang biasa dikenakan Sarmin dan teman-temannya. Ditambah lagi, baginya sungguh aneh jika ada warga desanya yang bersepatu ke Masjid. Biasanya sebuah sandal jepit, atau sandal kayu yang lain sudah cukup untuk melalui jalan berdebu yang sering becek di musim hujan.

“Gimana sawahmu No..??”, pak Haji membuyarkan lamunannya.
Setengah terkejut sunarno menjawab, “Eh, Alhamdulillah pak Haji, insya Allah bulan depan mau panen.”, Sunarno menghisap rokokny dalam-dalam. “Kalau sawahnya Pak Haji..??”, Sunarno balik bertanya.
“Oh, ya begitulah, sejak diurus anakku itu, hasilnya jadi gila-gilaan. Kapan-kapan, kamu sama warga desa lain cobalah untuk belajar ke dia. Lumayan loh No, dulu kalau jagung, Aku cuman dapat 10 karung, tapi sejak anakku yang ngurus, eh, jadi 15 karung. Nggak tahu pakai ilmu apa anak itu, katanya belajar dari temannya yang kuliah di kota.” Jelas Pak Haji. Sunarno hanya manggut-manggut mengerti. Tapi Sunarno masih penasaran dengan sepatu tadi, ia ingin menanyakan sepatu itu, tapi Sunarno memang orang yang terlalu pemalu untuk bertanya.
Akhirnya, setengah memberanikan diri, Sunarno bertanya. “Eh Pak Haji,  Pak Haji kalau ke Masjid pernah pakai sepatu nggak…??”
“Nggak tuh,” jawab Pak Haji setengah heran dengan pertanyaan Sunarno. “ emang kenapa No…??”
“Oh nggak, kirain sepatu itu punya Pak Haji “ tukas Sunarno sambil menunjuk sepatu coklat gelap mengkilat di ujung masjid.
“Oh itu, paling punya si Dadang, dia kan sekolah di kota,” jawab pak haji singkat.
“Ooohh..” Sunarno hanya manggut-manggut, dan rasa penasarannya pun terpenuhi. Sepatu itu tak lagi menarik bagi bahan lamunannya. Dia pun bangkit pulang pamit dulu ke Pak Haji. “Sebentar pak haji, saya masih ada urusan sama istri, saya pamit dulu Pak Haji..” Sunarno membuang rokoknya yang masih setengah hisapan, “Assalammu’alaikum..!!”
“Wa’alaikumsalam.. “, jawab Pak Haji.
***
Rasa penasaran Sunarno memang sudah terpenuhi. Namun dhuhur ini, agaknya rasa penasarannya mulai terusik. Sepatu itu datang lagi di Masjid. Hal yang aneh baginya. Jam segini tentulah si Dadang belum pulang dari sekolahnya di kota. Bahkan saat Ashar pun, belum tentu Si Dadang sudah pulang. Hal yang lebih mengganggunya lagi adalah, tak ada seseorang pun di masjid selain Sarto, si muadzin, dan dirinya.

Tapi kali ini bukan sepatu si Sarto, Sunarno hafal betul kalau Sarto selalu memakai sandal jepit warna merah. Selalu warna merah, sampai-sampai Sunarno sendiri heran, “Kamu nggak pernah ganti Sandal To..??:” tanyanya suatu hari,
“Ya ganti dong, pak, cuman saya memang selalu beli yang merah, habis… saya suka sih..!!”, begitulah jawab Sarto ringan. Hingga karena itu pun, Sarto dijuluki muadzin sandal abang. Bahkan pernah suatu waktu Sarto ini memilih untuk bertelanjang kaki ke masjid hanya gara-gara sandal merahnya tiba-tiba hilang. Dan Sunarno pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Sarto cuci kaki di halaman masjid.

Sunarno gundah, ia gelisah tak menentu. Sepatu itu masih tetap disitu. Teronggok mungil, seolah tak berdaya, tak terjamah oleh siapapun dari jamaah masjid tersebut. Barangkali berbeda dengan masjid-masjid di kota yang sering kehilangan sandal, atau sepatu semacam itu. Namun tidak untuk desa seukuran desa Sunarno ini.

Selepas dhuhur, sepatu itu masih disitu. Tetap seperti sebelumnya, di sudut utara masjid. Dekat tempat wudhu. Sama seperti hari-hari sebelumnya, agaknya tak ada yang memperdulikan sepatu itu kecuali Sunarno. Hal ini kontan menjadi semacam keasyikan yang membebani Sunarno. Sepatu itu seolah memanggil dirinya, menunggu untuk diambil atau disentuh. Namun Sunarno tetap tak berani menyentuhnya, mendekati saja ia tak berani. Semenarik apa pun sepatu itu, ia tetap hal asing bagi Sunarno.

Di rumahnya, di masjid, atau di sawah, sepatu itu, tetap terus membayangi benak Sunarno.
“Mikirin apa sih Pak, belakangan Bapak kok kelihatan aneh..??”, tanya istri Sunarno suatu waktu.
Buyar lamunan sunarno, ia tergagap, “Ah, eh nggak kok Bu,” Sunarno coba berkilah, namun ia tidak punya alasan.
“Apa masalah yang kemarin itu, orang kota yang mau bikin tower di desa kita..??”,
“Orang kota..”, oh ya, orang kota, Sunarno tiba-tiba ingat akan satu hal yang teralihkan hanya gara-gara sepatu itu.
“Bisa jadi, sepatu itu milik orang kota tadi…” demikian pikir Sunarno dalam hati.
Dan sekarang, hati Sunarno pun kembali tenang. Namun tak urung, ia masih bingung, kenapa pula sepatu itu sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Andaikan tidak sengaja tertinggal, tentulah tidak mungkin, karena apa mungkin si pemiliknya lupa kalau ia tidak beralas kaki..???, dan ditambah lagi bahwa ketika orang-orang kota itu berangkat, tidak ada orang lain di Masjid itu selain mereka. Adanya sepatu itu, tentu seharusnya kelihatan.

Bingung, dan Gundah sunarno yang mulai berkurang, namun rasa ingin tahunya kembali muncul. Ia pun memutuskan untuk membagi ceritanya. Namun ia tak ingin sembarangan, maka ia pun memutuskan untuk memberitahu hal ini pada satu-satunya orang yang berbicara langsung dengan orang kota itu. Barangkali saja ia tahu.
***
“…Begitulah pak Haji.” Sunarno mengakhiri ceritanya. Sarto
“Jadi menurutmu, kedua sepatu itu milik orang kota kemarin itu….??, bukan milik si Dadang..??”, tanya Pak Haji.
“Betul Pak haji, siapa lagi kalau bukan mereka..??” Sunarno menyimpulkan.
“Ya, udah terus masalahnya gimana kita mengembalikannya. Bukannya begitu..??”, tanya Pak Haji memperjelas.
“Eh, oh, iya… betul pak haji..!!, barangkali aja Pak Haji tahu, kan kemarin sempat ngobrol sama mereka..??” jawab Sunarno setengah tergugup. Ia setuju dengan usul pak Haji, namun dalam hati ia sayang juga. Sepatu itu telah menemani lamunannya dalam beberapa pekan belakangan.
***
Maka jadilah sepatu kota itu, kini mendapat perhatian lebih bagi orang-orang jamaah masjid. Jika sebelumnya jamaah bersikap tak acuh terhadapa sepatu itu, kini mereka bertanya-tanya, siapa, dan kenapa, sepatu itu ditinggalkan di masjid oleh pemiliknya.

Pak Mahmud, pemilik tanah yang tanahnya mau dibeli orang kota kemarin tak bisa dihubungi. Pak Mahmud memang juga orang kota, dan terlebih lagi, ia tinggal di Jakarta. Sehari semalam perjalanan dari desa ini. Tanah itu hanya tanah miliknya, dan memang tidak ditempati. Oleh pak Mahmud, tanah itu dititipkan pada mbah Mo, seorang duda tanpa anak, untuk diurus dan ditanami. Namun mbah Mo juga tak tahu bagaimana menghubungi Pak Mahmud, karena hanya setahun sekali Pak Mahmud menjenguk tanahnya.

Dan sepatu itupun semakin menjadi pembicaraan sengit. Pak Haji, Sarto, dan Sunarno pun sering menanyakan pada warga, barangkali ada yang kenal dengan orang-orang kota kemarin. Namun hasilnya nihil. Tak banyak yang tahu tentang orang-orang misterius kemarin. Sepatu dan orang kota kemarin mau tak mau telah menjadi kehebohan tersendiri di desa Glonggong.

Pak Haji akhirnya memutuskan, untuk meletakkan sepatu itu, di dekat kotak amal masjid. Namun dengan tambahan sebuah tulisan didekatnya. “Dicari, pemilik Sepatu ini, orang kota yang mampir di Masjid ini pada awal Mei 2006”
Sepatu itu semakin santer, bahkan mengalahkan isu pilkades di desa Sunarno. Ia jadi pembicaraan entah di sawah, di warung kopi, bahkan di pasar desa Glonggong. Namun tak urung, seperti halnya kabar-kabar lain, perlahan tapi pasti kabar tetang sepatu kota ini pun perlahan mulai berkurang. Tak seperti sebelumnya, warga pun mulai lupa dan larut dengan kesibukannya masing-masing.
Tapi hal itu tak berlaku bagi seorang Sunarno. Baginya, sepatu itu tetap asing, dan setiap hal asing selalu menarik perhatiannya, sampai kapanpun!!
***
Sudah hampir dua bulan sejak sepatu itu datang di desa Glonggong. Dan maghrib itu, seperti biasa, selepas sholat berjamaah, Sunarno duduk-duduk di teras masjid bersama Pak haji dan si Sarto muadzin masjid. Sepatu itu tetap masih teronggok disudut masjid. Tidak seberapa mengkilat seperti dulu ketika sepatu tersebut menimbulkan kebingungan sunarno. Tetap masih seperti yang dulu hanya agak sedikit berdebu. Dan sekarang dengan sebuah tulisan kecil,  “Dicari, pemilik Sepatu ini, orang kota yang mampir di Masjid ini pada awal Mei 2006”. Sunarno hanya tersenyum. Bukan oleh tulisan itu, melainkan oleh kehebohan yang sempat ditimbulkan sepatu itu di desanya.

Sunarno menghisap kreteknya dalam-dalam. Di sebelahnya Pak haji tengah ngobrol dengan Sarto. Sunarno tak banyak ambil peduli, ia memang jarang berinteraksi dengan orang lain. Baginya, diam adalah hobinya. Pandangan Sunarno lepas lagi ke jalan makadam desa itu.

Namun tiba-tiba, pandangan Sunarno segera teralihkan pada sekerumunan anak kecil di sudut masjid. Mereka anak-anak yang seharusnya mengaji, tapi si Dadang, guru mengaji mereka belum lagi datang.  Sunarno belum lagi sadar  dari lamunannya ketika sepintas seorang anak tampak memegang sebuah benda hitam ditangannya. Dalam sekejap pikiran Sunarno kembali utuh. Sesuatu mengusik kesadarannya… Spontan ia bangkit berdiri, dan berteriak,  “Hoi, nak, Jangan buat main-main..!!, itu sepatu mahal..!!”, bentak Sunarno pada anak-anak

Anak-anak yang sejak tadi mengerumuni sepatu itu, kontan semburat lari semuanya. Terkejut, takut, dengan suara keras sunarno. Sepatu dari salah seorang anak, kontan terjatuh. Pak Haji yang sedang ngobrol dengan sarto pun tak urung menoleh kaget ke arah datangnya teriakan tadi. Sarto bangkit dari duduknya ingin tahu. Pak Haji hanya diam mengamati.
Sunarno menghampiri, setengah gemetar ia memungut sepatu itu. Ini pertama kalinya ia memegang sepatu asing tersebut. Namun… Hei, tunggu dulu..!! ada apa itu..???
Sunarno melihat secarik kertas tersembul dari dalam sepatu. Penasaran ia memungut kertas itu.
Setengah berdebar, ia perlahan membuka dan membaca isinya.
“Apa No, isinya..??”, tanya Pak Haji.
Sunarno hanya diam, ia pun menyerahkan secarik kertas itu pada Pak Haji.

Assalammu’alaikum. Wr. Wb.
Pak, kami mohonmaaf, karena 3 dari sandal jepit yang ada di masjid ini, putus gara-gara kaki saya yang memang kelewat besar
Kami sebenarnya ingin menggantinya dengan uang, namun sayangnya tidak ada dari kami yang sedang membawa uang tunai.apalagi kami juga sangat terburu-buru sehingga tidak sempat untuk mampir minta maaf, atau memberitahu.
Sebagai gantinya, semoga sepatu ini bermanfaat dengan harapan ada dari warga yangmau membeli sepatu ini, agar uangnya bisa dibelikan sandal jepit baru lagi.atau apa sajalah
Terimakasih, maaf sebelumnya
Wassalammu’alaikum wr. Wb.

“Orang kota yang aneh, ternyata masih ada ya, orang yang bertanggung jawab seperti mereka.”, gumam Pak Haji pelan., “Gimana Narno, kamu mau beli sepatu ini..??”, tanya pak Haji pada Sunarno.
Sunarno hanya mengangguk pelan, dalam hati ia tersenyum.

Malang, Juli 2006

Category: Cerpen  Tags: ,  Leave a Comment