
Sudah 12 bulan, 2 minggu dan 3 hari kami berada disini (aku catat betul hari-hariku dalam diaryku). Di negeri yang bukan milik kami. Dan kerinduan mulai menjalar diantara kami. Koneksi gratis internet untuk berkirim surat maupun bertelepon ria ke Amerika, tak banyak mengobati keinginan kami, divisi ke V Airborne kompi A, untuk pulang. Pulang ke negeri dimana kami bisa minum Bir sepuasnya, memanggang babi dari peternakan, mengendarai Porsche menarik gadis-gadis di tepi jalan yang kuyakini bukan gadis lagi, bermain Frisbies dalam hembusan angin Florida, atau mengendap-ngendap dan mengamati dari kejauhan, Area51, sebuah area paling terlarang di negeri kami.
Namun disini, di negeri dimana orang menyebutnya negeri 1001 malam (aku hanya pernah membaca ceritanya tentang Aladin dan Ali Baba saja, itupun ketika masih di Primary School), tak banyak yang kami lakukan. Berbeda dengan beberapa GI lainnya di daerah Green Zone, kami di ladang peluru Fallujah ini tak banyak yang bisa kami rasakan soal hawa Amerika, selain Marlboro, Pepsi cola, dan Pizza keju atau HotDog buatan Giovanni, kepala juru masak markas kami dan yang disayangkan makanan itupun hanya sesekali.
Barangkali suasana ini pula yang membuat teman karib ku satu-satunya, Bill Alex, ingin segera saja hengkang dari negeri ini. Atau mungkin lebih disebabkan kerinduannya pada istrinya, Joanna, yang ditinggalnya dalam keadaan mengandung 2 bulan. Sekarang mungkin bayinya sudah berumur 5 bulan, Aku pernah diberitahu bahwa anaknya dinamai Peter Alex.
“Percuma…!!” kata Alex suatu waktu, “Guevara itu tidak akan berkurang, mereka semakin bertambah, dan tak hanya itu, beberapa waktu lalu aku dapat dari internet bahwa 3 hari yang lalu 3000 guevara mulai masuk dari Suriah dan Iran”. Ia menghirup kopi susu pahitnya dalam-dalam, beberapa rekan satu Barrak mulai memperhatikan kata-katanya. Alex mulai melanjutkan,
“Kudengar mereka datang dengan kemampuan lebih banyak, Bahkan mereka bisa membuat bom dari minyak kelapa, bir, dan bensin, dan itu cukup untuk membuat kita di barak ini tak pernah melihat Madison Square”. Aku tersenyum melihat Hayes mengamati kaleng bir di tangannya dengan heran, beberapa rekan lain pun tertawa melihatnya meletakkan kaleng birnya itu dengan hati-hati di atas meja kecilnya. Hayes memang penuh Humor, tak seperti Alex, teman dekatku itu. Ia memang bermulut besar. Dan yang kurang kusukai ialah perkataannya, bukanlah menyemangati pasukan kami,namun lebih pada membuat mental kami semakin jatuh.
Barangkali ia melakukannya agar kompi ini segera dipulangkan dan diganti dengan pasukan baru. “Jadi 750 lebih guevara yang kita tangkap 3 minggu lalu tak ada artinya..!” Alex menyimpulkan perkatannya sendiri.
Guevara, ya, begitulah kami di peleton pimpinan sersan Thompson lebih suka menyebutnya. Kami memang kurang tahu namun kami kurang suka jika memanggil mereka, para gerilyawan sebagai seorang mujahidin. Kami sendiri kurang tahu mengenai arti mujahidin, bahkan yang paling parah adalah kami mengira bahwa Muhammad adalah tuhan mereka. Namun keyakinan ini hilang setelah aku diberitahu bahwa Muhammad adalah nabi mereka dan Allah lah tuhan dari seluruh ciptannya di bumi ini. Namun kami tak terlalu peduli. Satu-satunya hal keagamaan yang kami rasakan toh hanya sewaktu natal dan paskah, itupun lebih sekedar faktor budaya barat yang ikut-ikutan merayakan natal. Bahkan mungkin aku ke gereja hanya dua kali dalam setahun, hanya waktu natal dan paskah saja. Masih lebih baik daripada banyak temanku yang hanya 2 kali seumur hidupnya. Saat menikah, dan nanti ketika meninggal…!!
Namun tampaknya tak hanya Alex, kami pun mulai bosan berada disini. Bagaimana tidak, kami tidak banyak ikut dalam pertempuran perebutan kekuasaan negeri ini, Sersan Thompson tak bisa berbuat banyak, Ia hanya menerima perintah atasan.
“Semua bersiap, 20 menit lagi kita briefing di A-4”, Suara sersan Thompson menggema disambut dengan tepukan dan siulan dari seluruh yang ada di Barrak ini. “Tiit“, kunyalakan stopwatch di jam digitalku. Melihat sekilas, seingatku terakhir kami bertugas adalah sebulan lalu saat mengawal iring-iringan logistik markas kami, namun itupun kami sempat kecolongan sebuah kontainer. Teman-temanku satu barak ini tidak ada yang tewas sih, namun Russel, divisi medis kami tertembus peluru di paha atasnya. Ia pun digantikan oleh seorang baru, seorang Negro, kami menyebutnya MitNick.
Kupandangi lekat-lekat jam digital persegi yang melingkar di tanganku. Tulisan Seiko putihnya sudah mulai pudar. Kutatap lagi, 18.21…., 18.22…., 18.23….,Yak, 18 menit 24 detik, tepat ketika aku masuk ke ruang A-4 ini. Kuhamparkan pandangan ke penjuru ruangan, dan kulihat Alex melambai padaku. Aku segera menghampirinya.
“Semoga ini tugas terakhir bagiku…!!” katanya tajam. Menurutku, ia memang sudah sangat bosan. Kuingat betul kata-katanya yang dalam ini. Ia memang benar-benar ingin pulang.
“Maksudmu pasukan ini…?”, kubuang permen karet di mulutku, “tak hanya kau yang ingin pulang, pasukan ini sudah terlalu lama disini.”. Ingin rasanya kutambahkan kata-kata namun kulihat sersan Thompson sudah masuk. “Gentleman.. “ Sersan memulai pembicaraan, “beberapa waktu lalu, aku dapat kabar bahwa kemarin, USS Enterprise merapat.” Ia memutus perkatannya, memang begitulah ia, suka membuat penasaran lawan bicaranya. Dan yang lebih membahayakan, terkadang ia juga membuat penasaran para guevara itu.
“Apakah kita disuruh mengelap super carrier itu?” ujar Hayes disambut gelak tawa di ruang A-4 ini. “Lebih dari itu, mereka membawa pasukan pengganti bagi kompi ini”, kulihat mata Alex berbinar mendengar kata-kata pengganti dari mulut Thompson. Thompson mengulangi kata-katanya, “Gentleman, minggu depan kita akan pulang…”
Kata-kata tersebut spontan membuat kami bergembira. Alex berdiri mengepalkan tinjunya, ia tampak histeris. Barangkali tepukan dan sahutan 20 orang di ruangan itu akan terus berlanjut. Namun sersan Thompson meneruskan perkatannya, “Dan kita disini membahas tugas terakhir kita…!!” namun ruangan tetap riuh-rendah. Bagi mereka tugas terakhir seberat apapun akan dijalani, asalkan kami bisa pulang.
***
Alex duduk di bangku belakangku hanya tersenyum. Baginya ia harus segera pulang. Ia memandang lekat-lekat sebuah foto bayi kecil berambut pirang. matanya yang hijau mirip seperti ayahnya. Ia mendapatkannya dari istrinya melalui email. Banyak sekali ia menge-print foto itu, sehingga, sungguh kuhitung tak kurang dari 13 foto yang berbeda kutemukan tertempel di ranjang susunnya. Kupindah posisi persneling ke gigi 5, kutambah gas. Aku ingin agar tugas ini segera berakhir. Terbayang gambaran Bibi Josh yang membuatkan teh untukku, sewaktu berangkat sebenarnya ia berniat mengenalkanku dengan seorang wanita, namun aku lebih memilih tugas dengan gaji 400 dolar per bulannya. Bagiku kesempatan berperang adalah pengalaman langka apalagi di daerah dengan kultur yang jauh berbeda dengan negeriku. “Russel…!!” suara itu menghapus bayangan bibi, “Keep on your way”, suara sersan terdengar jelas dari telinga kananku.
“Yes sir…!!” kucoba mengalihkan gambaran rumah bibi Josh dan terus memperhatikan jalan. Humvee ku yang berada di urutan pertama pasti membuatku menjadi sasaran empuk setiap guevara.
Namun tak urung suasana jalan yang lengang membuatku terbayang kembali akan kondisi di rumah. Namun kali ini tentang ……
“Russel..!!”, suara sersan Thompson memekakkan telinga kananku, secara refleks aku pun menoleh. “What’s …..?” tanyaku terputus.
“R..P..G…..!!”, segera saja kubanting setir kemudi ke arah kanan, menepi dengan cepat. “Dhuar…!” suara keras ledakan granat berpeluncur roket (kami menyebutnya stinger atau RPG), menghantam sebuah truk di belakangku. Supir truk asal kuwait itu terlalu lamban untuk menghindar. Kendaraannya terhenti seketika. Kap truk tersebut terbakar.
Tak sempat aku memikirkan tentang kondisi mereka, humvee ini masih harus bergerak. Mengingat bisa jadi masih banyak RPG susulan yang sewaktu-waktu bisa menghapus harapan Bill Alex. Dengan cepat kupindah posisi persneling ke gigi mundur lalu kubawa humveeku ini menjauh. Dan benar saja, segera terpaut 7 detik sebuah RPG lain menyusul menghantam tanah 10 meter didepan kami.
Tak sempat kuperhatikan ada sebuah tong berwarna merah di sisi kiri seberang jalan. Ketika tersadar, tong tersebut sudah meledak keras di sisi kiri jalan. Segera saja kaca pintu disebelahku semburat menghantam sisi kiriku. Refleks kumenundukkan kepalaku, namun agaknya sudah agak terlambat….. beberapa serpihan kaca kulihat menancap lengan kananku.
Lantunan teriakan sersan untuk segera keluar adalah suara terakhir di telingaku. Ketika kutoleh ke arah beliau, sebuah peluru tampak langsung menembus lengan kirinya. Entahlah, semua benar-benar seperti adegan dalam film-film Hollywood selama ini. Semua berjalan begitu lambat…. Begitu lambat, namun akhirnya tak urung hanya gelap yang bisa kulihat. Tak lebih..!!
***
Aku terbangun di sebuah kamar, lumayan lebar, dengan sebuh teralis dari aluminium tebal. Besi agaknya terlalu berharga disini. Bagiku ini justru mirip sebuah kamar hotel yang berfungsi sebagai penjara, dan sepertinya memang begitu. Karena terdapat sebuah kamar kecil pula di dalam sini. Hanya sebentar aku terbangun, namun tak urung sakit di kepalaku dan lagi dengungan di telinga akibat ledakan kemarin membuatku tak urung harus tertidur lagi…
***
Mungkin aku tertawan disini sudah sekitar 2 hari, Syukurlah, dengungan di telingaku sudah jauh berkurang. Namun luka di kepalaku, membuatku banyak tertidur, ketika terbangun sesekali terdengar suara riuh, Jika aku berdiri untuk mengintip dari jendela kecil, yang terlihat mereka tampak berdiri dalam sebuah barisan rapat. Sempat kupikir mereka berlatih baris berbaris ala militer, namun lantas aku ingat, bahwa itu mungkinlah sholat, seperti yang sering diselorohkan Hayes sebagai “ibadah jungkir balik”.
Tak kusangka mereka memperlakukan ku dengan baik disini. Baik dari makanan, minuman, kamar kecil, bahkan hal yang paling membuatku terkesan, mereka mencucikan bajuku…!! Berbeda jauh jika rekan-rekanku menangkap beberapa guevara. Sebuah pukulan di kepala dan perut, itu hanya hal yang paling minimal. Namun tak kusangka, tak sekalipun mereka memukulku. Luka yang ada dikepalaku dan sebagian kecil di tanganku, adalah akibat ledakan terakhir kemarin.
Suasana bosan mulai menjalar dalam darahku, kucoba untuk berkomunikasi pada salah seorang disitu. “Apa sih ibadah yang kalian lakukan, yang sambil begini begitu..??”, tanyaku pada penjaga suatu hari sambil menirukan beberapa gerakan mereka.
Namun dia tampak kebingungan, dia hanya mengigau tak karuan, lalu aku sadar bahwa orang ini bisu. Dan lagipula aku rasa ia pun tak paham akan bahasa inggris. Aku pun hanya menunjuknya, sambil berkata, “Your Commander..!!”. agaknya ia mengerti dengan ucapanku kali ini, ia pun ngeloyor pergi.
Seperempat jam kemudian, seseorang berkemeja hitam datang. Tak kusangka ternyata ia jauh dari kesan sangar dari seorang warga irak. Dan memang kurasakan benar sebuah aura kepemimpinan terpancar dari dirinya. Ia mengambil kursi, lima meter di depan teralisku. “Apa sih ibadah yang kalian lakukan, yang sambil begini begitu..??”, tanyaku sama pada orang tersebut. “Itu sholat, salah satu kewajiban kami dalam islam, hal mendasar yang membedakan kami dengan orang seperti kalian. Jawabnya singkat. Orang itu mengambil sesuatu dari saku kemeja hitamnya. Dia mengambil sebuah foto. “Apakah mereka keluargamu..??”, Ia menyodorkan foto tersebut kepadaku.
Aku mengernyitkan keningku, kuraih dari tangannya foto tersebut lalu kupandangi sejenak. Tak lama kemudian aku sadar siapa yang ada dalam foto tersebut. Joanna dan peter..!! kontan aku berteriak, “Alex, apa kalian membunuhnya..!! kalian pembunuh..!! Guevara Keparat..!!!”
Pria itu tak banyak berkata, ia menunggu emosiku agak reda dahulu. “Entahlah, kami juga tidak tahu apakah ia tewas atau tidak, kami menemukannya bersama sebuah senapan M4A1 pasukan kalian”, dia bangkit dari duduknya dan melanjutkan, ”tapi kami rasa mungkin dia tewas karena disekitarnya ada lumayan banyak darah. Dari satu konvoi kalian, hanya kamu yang tertinggal dan kami membawamu kesini” Jawabnya seolah tanpa ekspresi.
Jawaban seperti itu kontan membuat darahku naik, “Kalian tidak tahu betapa sebenarnya dia sudah betul-betul mengharap kepulangannya..!!! Kalian tahu..??” aku mengambil nafas sejenak, “Dia sahabatku satu-satunya, foto itu adalah keluarga dia di US, dan kalian telah membunuh satu-satunya tumpuan keluarga mereka..!!!”
“Oh ya…??? Ada lagi sebelum aku menjawab pertanyaanmu..??” tukas pria itu singkat. Seolah ia tak merasa bersalah sedikitpun.
“Kalian tidak tahu bagaimana Alex sangat mencintai keluarganya, dan bagaimana ia sangat merindukan keluarganya..!! dalam bulan ini kami seharusnya sudah pulang, namun kalian betul-betul sudah menghancurkan impian dia untuk pulang ke keluarganya..!!” kataku setengah berteriak. Ini membuat penjaga bisu tadi tampak setengah ketakutan. Melihat itu, dalam hati aku tersenyum agak puas.
“Itulah perang kawanku, “ Ia masih tetap tenang. “Kalian hanya kehilangan satu dan kau sudah berteriak seperti itu…???” jawabnya agak sinis.
“kalian tahu berapa sih keluarga kami disini, berapa sih penduduk disini, atau bahkan berapa rumah sakit, dan sekolah, yang didalamnya masih terdapat anak-anak, orang tua dan mereka yang tidak layak perang, kalian bunuh dan hancurkan…???”
aku tercenung mendengar jawabannya. “Maaf, dalam perang, kami paling punya etika. Kami hanya menyerang tentara dan orang-orang yang berpotensi kesana. Kami tidak menangkap apalagi membunuh wanita2 kami yang lemah seperti yang kalian lakukan selama ini..!!” jawabnya tegas. “Mohon direnungkan..!!”, ia beranjak bangkit dari kursinya. Aku tak bisa menjawab kata-katanya. Mulutku seolah tercekat kuat.
Ketika aku sadar ia hendak pergi, segera kucegat dia dengan sebuah pertanyaan.“Oh ya, satu pertanyaan terakhir, kenapa kalian tidak membunuhku, kenapa kalian justru menawanku disini..??, bukankah aku juga termasuk orang yang ikut dalam membunuh keluarga kalian..??” tanyaku sambil bersikap seolah menantang. “Anda terlalu berharga, kami ingin menukar saudara dengan beberapa wanita dan anak-anak kami yang ditawan di penjara Anda.”, jawabnya sopan. Ia pun berlalu sambil memberi isyarat pada penjaga bisu disebelahnya. Dan hari-hari selanjutnya, komandan yang tak pernah mau menyebut namanya ini selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungiku. Kesempatan ini tak kusia-siakan. Aku pun menanyakan banyak hal kepada dia, dari hal-hal kecil seperti bagaimana keluarganya, sampai hal-hal tentang prinsip orang tersebut. Ternyata dia seorang muslim yang taat, aku pun banyak bertanya kepadanya tentang hal-hal Keislaman.
“Ketika kalian berperang untuk menang, maka berbeda dengan kami…!!”, katanya suatu hari. Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.
“Ketika kami memutuskan untuk berperang, hanya satu kata yang ada, yaitu Menang. Tak peduli apapun hasil kami di peperangan itu. Kemenangan hanya bisa dibagi menjadi 2 kata, menang atau mati syahid, sebuah kematian yang mulia dalam Islam.” Jawaban ini otomatis menjawab pertanyaan dalam hatiku selama ini, bagaimana bisa sih sebuah pasukan kecil, tidak ada apa-apanya berani menentang kekuatan sedemikian besarnya seperti Amerika…?? Namun ini tak banyak membuatku terkesan. Sampai suatu hari, dia bertanya kepadaku, “Pernahkah Anda berpikir, untuk apa kita diciptakan, hidup di dunia ini..???, mungkin suatu waktu, Anda harus merenung tentang tiga pertanyaan kehidupan.
“Apa itu..??” tanyaku antusias.
“satu, Siapa yang menciptakanmu, Dua, Untuk apa kau diciptakan dan hidup didunia ini, dan terakhir, Akan kemana, kau setelah matimu.”, jawabnya.
Aku pun hanya manggut-manggut, memang juga sih aku belum pernah disodori pertanyaan seperti itu. Tapi agaknya waktuku di hotel penjara ini pun harus segera berakhir. Aku tak bisa banyak merenung disini, “Besok, kamu akan ditukarkan..!!” tukas pria yang biasanya kutemui.
“Kita akan jarang bertemu lagi..!!” kataku.
“Dan mungkin kita pun akan saling bertempur lagi…!” tukasnya sambil tersenyum simpul. Aku hanya tersenyum kecut.
***
Keesokan paginya, mereka membawaku keluar, mataku ditutup dengan kain gelap, dan aku dinaikkan dalam sebuah mobil.. Aku dibawa berputar-putar dulu supaya aku tak tahu dimana saja aku sekarang berada. Sesampainya di sebuah jalan di mana kanan dan kiriku hanya gurun kering kecoklatan, aku diserahkan ke seorang pria berseragam Airborne. Seorang sersan rupanya.
Dalam perjalanan, aku tak banyak berkata. Di markas, pihak intelijen militerpun sempat menginterogasiku semalaman. Mereka bertanya macam-macam, dari apa saja yang aku katakan pada guevara, maupun hal-hal lainnya. Dan lagi-lagi memang tak banyak yang bisa kuceritakan karena memang jujur tak banyak yang kuketahui selain apa yang mereka katakan tentang Islam. Agaknya para intel-intel militer itu tidak seberapa puas. Namun mau apa lagi, mereka pun tak urung menerima juga. Meski tak lama kemudian, entah aku seperti merasa diawasi. Karena luka dikepalaku, ditambah lagi aku belum diperbolehkan banyak bergerak, maka tak urung aku pun diperintahkan untuk pulang kembali ke US. Setelah prosesi penyerahan medali kehormatan atas luka yang diperoleh beberapa diantara kami, termasuk sersan thompson dan Alex yang ternyata masih hidup, keberangkatan kami pun dimulai. Sempat kupandangi sebentar USS Enterprise ini, Tak kusangka, besar juga sebuah mesin perang kebanggan Amerika.
Di kapal ini, aku disarankan untuk lebih banyak beristirahat. Aku ditempatkan di ruang medis dan perawatan. Agaknya luka dikepalaku, memang butuh perawatan, karena sesekali aku masih merasa sakit dipelipis kananku. Sambil berbaring, di ruang sempit ini, aku pun banyak merenung. Merenung apapun atas apa yang kulakukan selama ini. Sesekali terbayang gambaran bibi Josh, namun agaknya ucapan-ucapan dari komandan guevara itu yang banyak kurenungi. Waktu beberapa hari di atas kapal ini membuatku semakin gundah… aku ingin segera tahu jawaban dari tiga pertanyaan kehidupan itu.
Sesekali ketika sudah malam hari, aku keatas dek untuk terkadang merenung sekali lagi. Suara dengungan pesawat yang berlatih dimalam hari, tak banyak kuhiraukan. Aku hanya merapatkan jaketku sambil memandang langit. Dokter bagian medis memang memberiku ijin untuk itu, dan ini membuatku semakin senang. Aku terus memikir, apa sih tiga pertanyaan kehidupan itu..???
***
Lima bulan kemudian…..
***
Kupandang istriku di sisi mobilku, dia sedang tertidur sambil tersenyum kearahku. Dalam hati, aku berkata, cantik juga istriku ini. Sebuah buku karangan al qarny ada dipangkuannya. Ia mengenakan gamis putih dipadu dengan jilbab birunya. Ya, aku sekarang adalah seorang muslim, diantara muslim-muslim di Amerika lainnya, Aku menikah baru sebulan yang lalu, ia orang Amerika keturunan bosnia. Tak kusangka perenungan di USS Enterprise membawa sebuah cahaya tersendiri bagiku. Seminggu setelah kepulanganku aku memutuskan keluar dari kemiliteran. Dan beberapa hari setelahnya, aku pun mencari sebuah Islamic center terdekat. Tak sulit menemukan hal itu di san Fransisco, karena sejak peristiwa 9/11 kemarin, tempat itu menjadi begitu terkenal. Akhirnya, aku sekarang sudah menemukan sebuah kesejukan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sebuah cahaya, Sebuah matahari diantara gelapnya qalbu para awak enterprise yang lain.
Ingin rasanya aku pun juga bersegera untuk setidaknya membantu mereingankan beban saudara-saudaraku di Irak sana. Semakin kuingat-ingat kejadian dahulu, terkadang semakin bertambah pula kebencianku kepada negeri ini. “Suatu waktu, aku harus melakukan sesuatu pada negeri ini, suatu waktu…. Dengan cara apapun… Harus..!!!”, azzamku tegas. Oya, aku barankali tidak membenci negeri ini, namun kebencianku adalah pada pemerintah ini , beserta seluruh kebijakan luar negerinya yang menurutku omong kosong belaka.
Suaraku agaknya membangunkan istriku, tapi dia hanya menatapku singkat, aku balas tatapannya dengan mencoba tersenyum. Namun tampaknya dia tak begitu peduli, dia pun menutup matanya lagi dan terbuai dengan mimpi indahnya.
Di luar jendela, agaknya senja sudah mulai mendekat. Segera kupercepat laju mobilku. Di luar, hari sudah menjelang gelap, namun selamanya tak akan kubiarkan kegelapan sekali lagi menaungi hatiku. Dalam senja kutemukan sebuah jawaban, Bahwa ternyata tiga pertanyaan kehidupan adalah tidak untuk dijawab, namun adalah untuk dipikir, dipahami, dan direnungkan… Biarlah sebuah Super Carrier, Enetrprise, menjadi saksi Buta atas bagaimana sebuah cahaya itu bermula.
Malang, awal tahun 2006
Komentar Terbaru