Archive for the Category »Karya Sastra «

(katanya) Kebangkitan Nasional

birokrasinya memang ruwet
jalan-jalan sering macet
listriknya kadang byar pet
kalau sakit bikin dompet mampet

jika hujan rawan banjir
jika kemarau rawan asap
karena negeri tak lagi berhijau
tapi merah biru penuh ruko
kita tak lagi tanam  sengon, jati, mahoni
sebagai ganti, kita tanam market mini
mal, ruko, dan kantor birokrasi

di koran beritanya bikin pesimis
di TV sinetronnya bikin miris
di Internet isinya tak kalah tragis
hadap kanan ada pembunuhan
hadap kiri pak menteri korupsi
hadap depan, tidurnya pak dewan
hadap atas nanti dibilang sombong
maka tunduklah kita ke bawah
melihat tanah menangis, M A L U

tapi inilah negeriku, Indonesia
dan ini tetap negeriku…

20 Mei 2010

Ironi

Dinginlah seperti api
Panaslah seperti salju
Lunaklah seperti besi
Keraslah seperti kapas
Cacilah para menteri,
Makilah para kyai,
dan katakan hal-hal yang tabu
dan jangan sampai  lupa,
bungkus dengan kebebasan berekspresi
Niscaya kau akan terkenal
dan dielu bak pahlawan…
hingga kiamat mampir di bumimu

Malang, 11 Ferbruari 2011

Menjahit Jalinan Perca

Menjahit Jalinan Perca

tersaji lengkap dihadapan kita
ada polymer, ada katun, ada sutra
ada pula goni, kertas, bahkan daun pisang,
kain kasa yang terawang  pun tersedia
plastik, kertas, aluminuim foil pun ada
pokoknya lengkap semua bahan ada

lalu segala warna yang tersedia
ada yang merah, putih, dan abu-abu
atau hijau daun dengan setitik lubang goresan,
ada yang mengkilat ditempa cahaya,
ada yang legam hitam dan kusam
pokoknya lengkap semua warna ada

lalu segala corak motif pola
kotak-kotak yang tegas, polkadot yang ceria
garis-garis, segi enam dan segi lima
ada juga yang bunga-bunga, segala bunga
ada juga yang gambar batik, segala jenis bentuknya
motif safari, bintang-bintang, gambar sapi juga ada
pokoknya lengkap semua motif ada

Hingga ketika tahun-tahun itu tiba
lahirlah sekelompok manusia-manusia cahaya
tanpa diminta, perca-perca itu dijahitnya
dengan jarum darah pengorbanan dan keikhlasan
dalam jahitan potongan-potongan perca yang merdeka
dijahit kita dengan benang-benang persatuan
jahitan ukhuwah, saling bantu antar sesama
bordir kesopanan, sulam senyuman, dan obras kejujuran
ditambahkan dengan kancing anti putus asa
kerah kerja keras dan tenggang rasa

lalu berubahlah tumpukan perca itu
menjadi apa yang kita saksikan di jaman itu…
INDONESIA

Malang, 5 November 2009

Sajak Hujan

Ketika mendung hadir tanpa semarak awan…
ketika kilat adalah kelebat-kelebat gelap…
ketika petir tak lagi teriakkan gelegarnya…
ketika hujan turun tanpa air setitikpun…
ketika pelangi hanyalah hitam di angkasa…

dan kita hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa
dan memukul-mukul dada kita yang kian sesak
sabar… sabar… sabar…
namun hujan justru kian membadai

Malang, di sebuah sudut dengan komputer
30 Oktober 2009 21:38

Seorang Anak Pencari Rumput di Sukarno Hatta

disuatu siang di kota Malang tanpa awan
seorang anak kecil berjalan dari Jembatan
kusam muram wajahnya tanda kelelahan
ah mungkin saja baru-lah ia pulang dari sekolahan
menuntut ilmu, kata orang tuk masa depan

tak peduli terik menyengat menguras keringat
walau waktu dhuhur pun sudah kian dekat
Tak kuat ia berjalan makin cepat,
sebilah sabit ia pegang dengan erat
sehelai karung ia seret bersama langkah berat

Ya, inilah anak SD pencari rumput tuk makan ternak nya

ah bocah pencari rumbpt itu,
Ini kota gersang, mana ada rumput kan kau temui?
Ada memang, tapi itu di halaman-halaman kampus elit nan mahal
Masuk pun kau akan terasa gatal-gatal
ada pula di  rumah para pejabat dewan yang “terhormat”
Jangankan kau menyabit, masuk saja kau kan ditendang

Ah kasihan benar kau nak,
usiamu masih belia, namun kau tak bisa ceria
Jika tak ada kau, mau makan apa kambing dan sapi keluarga?
di kala anak-anak lain asyik dengan Play Station, XBox, dan sederet mainan canggih mereka
ditemani AC, dan setumpuk camilan supermarket
disertai belaian ibunda tercinta…
Namun kau, sepulang sekolah, berjalan dengan sandal jepit kecilmu,
susuri kota yang panas terik, dan kaupun pasrah bak putus asa
dengan langkah lelah kau cari sekarung rumput di tengah kota…
Ah… kasihan benar kau nak,

Ah, tapi biarlah, semoga dengan itu kau lebih cepat dewasa
dengan itu, kau akan tahu hidup yang sebenarnya
semakin sebuah besi ditempa, semakin kuatlah ia..
karena kelak, kaulah yang kan gantikan orang-orang dewasa,
kau ganti mereka mengurus negara Indonesia

Jujurlah nak, baktikan dirimu jadi orang berguna
kelak jadilah pemimpin negara yang shaleh dan bersahaja
Dan jika ada masanya, sempatkanlah lewat di jembatan kita
dan akan kau ingat, bahwa pernah di siang sebelum dhuhur tiba
kaupergi mencari rumput tuk ternak keluarga
dengan sebilah sabit, dan karung di tangan legam hitam

Semangat ya nak, kelak semoga hidupmu senantiasa dalam petunjuk-Nya

Malang, 23 Oktober 2009 00:38 am
Teruntuk adek pencari rumput yang lewat depan Eramedia
di sebuah siang yang panas, di Sukarno Hatta

Merenung Sejenak…

merenungbintangKawan, Pernahkah kita merenung?

Kenapa Rasulullah disuruh mengangkat tangan ke angkasa
Lalu terbelah-lah bulan patah jadi dua
Kenapa tidak langsung saja Allah membelahkan bulan untuknya?
Bukankah hal itu teramat mudah bagi-Nya??

Kenapa Nabi Musa disuruh melempar tongkatnya
Lalu jadilah ular besar memangsa ular penyihir musuhnya
Kenapa tidak langsung saja Allah melenyapkan ular untuk Musa?
Bukankah ini hal yang teramat mudah bagi-Nya?

Kenapa Nabi Musa disuruh memukul tongkatnya ke samudera
Lalu terbelahlah laut merah tuk dilewatinya
Kenapa tidak langsung saja Allah membelahkan untuk-Nya?
Sungguh ini pun teramat mudah bagi-Nya?

Kenapa Nabi Nuh disuruh membuat sebuah bahtera
Lalu selamatlah ia dalam adzab banjir luar biasa
Kenapa tidak langsung saja Allah menyelamatkannya di Hari H?
Sungguh ini pun sangat mudah bagi-Nya?

Secuil dari segunung Ibrah yang kita ambil dari kisahnya
bahwa Tetap Harus Ada Ikhtiar manusia,
bahkan dalam Mukjizat ajaib luar biasa
Jika mereka rasul mulia, beserta mukjizatnya,
Apalagi kita? Manusia biasa tempat salah dan lupa..

Sungguh ada banyak ibrah dalam setiap kehendak-Nya
Dalam setiap ayat -Nya, dalam setiap ciptaan-Nya
Sudahkah kita merenunginya??

Malang, 12 Oktober 2009
Ketika badan yang besar sedang dilumpuhkan
oleh sebuah virus mikro bernama inFluenza

Halaqah Langit

Kau lihat sepotong matahari,
sinarnya memberi kita kehangatan
dan kehidupan

Kau lihat secuil bulan
Edarnya kabarkan kita hitungan waktu
hari dan pasang surut samudera biru

Kau lihat semarak awan
hadirnya bawa sejuk keteduhan
dan kerinduan akan hujan

Kau lihat bertitik-titik bintang
susunannya menjadi penunjuk jalan pengembara
dan sejuta cerita untuk anak cucu kita

Dan Inilah Halaqah Langit
Dan seluruh anggotanya
Yang bermanfaat tuk bumiku
Bumimu, bumi kita..

Malang, 7 September 2009
Dibuat ketika dulu baru bergabung
dengan Teater Langit