Archive for the Category »Opini «

Nilai Kejujuran

mencontekAda satu episode di masa SMA saya yang paling saya ingat sampai sekarang, sekaligus paling saya sesalkan. Ini episode terpenting di masa-masa SMA saya. Episode tersebut adalah ketika saya (bersama seluruh teman lainnya) beramai-ramai,contek-mencontek dalam sebuah momen ujian. Bisa kita usulkan ke kamus besar bahasa indonesia, -comal- mencontek masal.

Pada saat itu memang satu-satunya episode mencontek yang “dilegalkan” dan “diinstruksikan” (dengan tanda kutip besar) di daerah kami,  tapi sebagai akibatnya, kini saya amat sangat menyesal. Bahkan atas nilai hasil ujian yang didapat tersebut pun, sungguh tak ada satupun rasa bangga saya disana. Terlebih jika ingat bahwa itu adalah satu-satunya episode SMA dimana saya mencontek, setelah selama tiga tahun lamanya saya bertahan dalam sebuah komitmen untuk tidak mencontek selama ujian!

Pasca momen tersebut (yang hanya sekali), saya benar-benar sangat menyesal, dan sebagai imbasnya, saya tak pernah lagi kompromi soal contek mencontek. Dan selama kuliah, Alhamdulillah tak sekalipun saya mencontek ketika ujian. Saya lebih memilih mendapat nilai jelek tapi itu hasil kerja sendiri, daripada nilai bagus hasil mencontek. Jadilah saya orang yang memilih “walkout” dini ketika ujian karena memang tidak bisa mengerjakan, dan terkadang juga memilih  ”tinggal kelas” sebagai peserta ujian yang terakhir keluar karena lambat memikirkan sendiri jawaban ujian.

Saya pun bersyukur, bahwa saya ternyata tidak sendirian. Dahulu ketika SD adakalanya ketika tidak mau memberi contekan, saya sering diancam ini itu oleh beberapa “jagoan” kelas. Ketika SMA,  syukurlah sudah tak ada lagi hal-hal tersebut. Alhamdulillah meski ketika SMA sampai kuliah, ada teman yang “berkompromi” saat ujian, namun ketika saya tidak mau macam-macam seperti itu, Alhamdulillah mereka mengerti.

dan Saya memang  tak pernah peduli jika dibilang pelit, sok suci, atau semacamnya, integritas memang bernilai mahal bagi yang memilikinya”

Di kuliah, Alhamdulillah saya dipertemukan pula dengan orang-orang yang serupa. Orang-orang yang tak mau berkompromi, baik mencontek ataupun dicontek. Di kelas saya memiliki sahabat dekat (Adib) yang memiliki prinsip yang sama, di organisasi pun saya memiliki sahabat-sahabat yang semua berprinsip untuk tidak mencontek, ada Mahatir, mas Bayhaq, dan ikhwah-ikhwah lain tentunya. Meskipun memang ada  pula dari teman-teman kuliah lain yang adakalanya “berkompromi” saat kondisi memungkinkan.

Dan Alhamdulillah pula, ketika kini Allah pun mempertemukan saya dengan seorang istri yang sejak dulu memiliki prinsip sama pula. Anti mencontek. Lebih baik jelek hasil sendiri, daripada bagus hasil mencontek. Mertua saya pernah bercerita, bahwa istri saya ini pernah ikut sebuah seleksi pra Olimpiade sains, ketika seleksi tersebut, teman-temannya banyak yang mencontek. Istri saya ini memilih tidak mencontek. Hasilnya bisa ditebak memang, istri saya tidak lolos sedangkan teman-temannya yang mencontek, justru lolos seleksi pra olimpiade sains. Namun bukannya sedih, Istri saya waktu itu justru  berkata begini,”kasihan orang tuanya, dibohongi oleh anaknya sendiri” (maksudnya kasihan orang tuanya, bangga pada prestasi anaknya, padahal prestasi tersebut hasil mencontek/curang).

Klik untuk melihat berita

Klik gambar untuk melihat berita (Guru Nyontek Saat Ujian di Universitas Terbuka)

Ah, terus terang saja, agaknya memang “mencontek” adalah penyakit pelajar sekarang ini. Ketika SD ada teman-teman saya yang mencontek, ketika SMP, ternyata banyak juga yang mencontek, di SMA, bahkan di kuliah pun sama saja. Saya katakan pelajar, karena penyakit ini menjangkit tak hanya kalangan anak SD-mahasiswa, bahkan guru-guru yang seharusnya memberi contoh yang baik, justru ada yang mencontek ketika mereka ujian. Agaknya contek-mencontek sudah menjadi “budaya wajib” setiap pelajar yang ingin mendapat nilai bagus, tak peduli ia pelajar pintar ataupun bodoh.

Yang “tak terlalu pintar” mencontek karena ingin mendapat nilai bagus, yang pintar mencontek pula karena khawatir nilainya kalah dengan yang “tak terlalu pintar”.

Asal pengawas lengah, pengawas tak lihat, pengawas tak tahu, maka menconteklah untuk mendapat hasil “maksimal”. Beragam cara pun digunakan, yang sederhana melihat teman sebangku. Kalau “si pintar” agak jauh, dibukalah permainan lempar bola kertas. Ketika muncul teknologi Handphone, sms saja jawabannya. Kalau kondisi lebih memungkinkan, “mengukir meja”, buka buku, buat catatan-catatan kecil, dan semacamnya.

Maka menjadi sebuah peraturan tak tertulis dibenak setiap pelajar, -mengutip kata seorang guru saya- “Boleh mencontek asal tidak ketahuan“.

Tapi tak urung, urusan contek mencontek ini memang membuat saya paling miris. Saya terkadang membayangkan, apakah orang-orang besar dahulu semacam Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, Soekarno, Natsir, Hatta dll apa mereka pernah mencontek ya ketika ujian? wallahu alam… :(

“Ah, jangan heran jika di Indonesia banyak koruptor, kalau kecilnya di sekolah kita sudah terlatih untuk ‘korupsi’ ketika ujian.”

Bagi saya, ini “wajar” terjadi karena sejak kecil kita diajarkan untuk lebih ber-orientasi pada nilai akhir, kita di’tuntut’ untuk mendapatkan prestasi, sementara prestasi identik dengan nilai ujian, dengan nilai rapot. sementara nilai-nilai proses “mendapatkan nilai” lebih banyak dikesampingkan.

Saya yakin tak banyak orang tua (dan bahkan guru) yang mengajarkan kepada anaknya “tak mengapa kamu dapat nilai jelek tapi itu hasilmu sendiri, daripada nilai bagus hasil mencontek”. Yang sering adalah nilai jelek dimarahi, nilai bagus dipuji. Atau tak jarang pula ada orang tua yang tak perhatian pada sekolah anaknya, sehingga “nilai bagus” pun dijadikan si anak untuk mendapat perhatian dan pujian ayah bundanya, dan tak ada cara instan mendapat nilai bagus selain dari mencontek. Saya katakan TAK BANYAK, namun bukan berarti tak ada. Semoga saja Anda pembaca memiliki orang tua, atau menjadi orang tua yang “tak banyak” tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya kesadaran keimanan pelajar kita saat ini. Di sekolah kita lebih diajarkan menjadi orang yang tahu ilmu agama, daripada menjadi orang yang beragama dengan sebenarnya. Di sekolah umum, kita hanya mendapatkan pelajaran agama sekali setiap pekan, itupun tak banyak yang mengena esensinya. Di kuliah tambah parah, untuk universitas umum seperti di kampus saya, pelajaran agama hanya satu semester selama total masa studi. Andai tak ada program-program keislaman macam mentoring, rohis, dan semacamya, tentu makin rusak saja akhlak pelajar kita nanti.

“Kalau seseorang itu benar-benar keimanannya, tak mungkin ia mencontek meski tak ada pengawas ujian, karena ia selalu yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi “

Jangan terlalu berharap pada pelajaran macam PPKn, budi pekerti, dan semacamnya. Bagi saya, tetap kesadaran akan “Yang Maha Mengawasi”, tetap yang paling dibutuhkan. Orang yang memiliki integritas sekuat apapun, tetap saja rawan kompromi. Bagi saya, Integritas sebenarnya dihasilkan dari keimanan yang sebenarnya pula. Integritas yang tak didasari keimanan, adalah integritas yang rapuh, yang rawan kompromi di kemudian hari. Saya jadi ingat beberapa hari yang lalu ketika saya dan rekan-rekan rohis lainnya ujian Tatsqif, tak ada satupun yang contek mencontek meski pengawas sering keluar.

Agaknya tak hanya saya yang bermasalah dengan urusan contek mencontek. Beberapa hari yang lalu istri saya ‘mengadu’ kepada saya. Pasalnya dalam sebuah UAS yang ia ikuti, di sebuah mata kuliah yang terbilang sulit, petugas penjaganya justru keluar ruangan, dan menutup pintu. Alhasil bisa ditebak, seluruh teman-temannya mencontek semua. Hanya istri saya saja yang tetap komitmen tidak mencontek, dan istri saya tidak bisa mengerjakan soal tersebut. Beliau mengadu sambil sangat khawatir, bagaimana kalau-kalau nilainya jelek, mengingat tentulah semua temannya akan mendapat nilai ujian yang bagus. Beberapa hari kemudian beliau lagi-lagi ‘mengadu’, mengingat beliau harus menambah semester untuk mengulang mata kuliah yang kurang bagus. Dan beliau khawatir bahwa ia tak punya teman di semester-semester akhirnya. Dan kini beliau pun seolah ‘protes’ mengingat selama ini teman-temannya banyak yang mencontek, sehingga dapat nilai bagus, sehingga pula tak perlu mengulang mata-mata kuliah sulit di semester depannya.

Setelah saya dengarkan, saya sampaikan kepadanya sebuah peneguhan singkat, bahwa untuk apa iri kepada orang mencontek? Mereka menipu orang tua mereka, memberikan hasil seolah-olah anaknya pintar, padahal sama sekali tidak. Mereka pun menipu orang-orang sekitar, dengan nilai bagus seolah menjadi orang pintar, padahal “pintar” hasil mencontek. Dan yang paling parah, Mereka sebenarnya menipu diri mereka sendiri.Bahkan yang paling saya khawatirkan, bahwa nilai-nilai yang mereka dapatkan dari hasil mencontek tersebut, tak akan barakah sama sekali :( Ah, saya bangga dengan komitmen istri saya untuk tidak mencontek.

Ngomong-ngomong, soal contek mencontek, saya paling ingat jaman-jaman jahiliah saya ketika SMP. Waktu itu kalau tak salah saya kelas 3 SMP (ini masih masa jahiliah saya sebelum berubah seperti sekarang). Waktu itu saya masih ingat benar, di pelajaran Agama, ketika guru memberikan ujian, guru tersebut selalu meninggalkan ruang kelas setelah memberikan soalnya. Alhasil, semua anak langsung mencontek. Mengingat waktu itu, soal yang diberikan si guru memang membutuhkan jawaban yang berpanjang-panjang. Sepintar apapun anaknya, rasanya mustahil menjawab semuanya, karena ya itu, jawabannya sangat banyak. Saya pun termasuk dalam orang-orang yang mencontek waktu itu, mengingat ya memang itu masa-masa jahiliah saya, saat belum mengenal Islam seperti sekarang. Ketika itu, saya ingat benar, ada seorang dari teman saya (insya Allah namanya Maher) yang tidak mencontek sama sekali. Saya hafal betul, bahwa setiap ujian agama, setiap si guru meninggalkan kami, dan setiap seluruh kelas membuka buku (mencontek), hanya beliau yang berkomitmen untuk tidak membuka buku. Alhasil, ketika seluruh dari kami sudah selesai mengerjakan (karena memang hanya menyalin dari buku), kawan saya ini paling akhir mengumpulkannya. Dan ketika dibagikan nilai hasil ujian, sering beliau mendapat nilai yang dibawah rata-rata. Tapi satu hal yang saya ingat betul, tak ada rasa iri  ataupun benci kepada kami, maupun rasa sesal di wajahnya. Ah, memang kejujuran dan integritas adakalanya berasa pahit, tapi yang pahit itu selalu membawa senyum dan kebanggaan bagi pemegangnya. Alhamdulillah ketika SMA saya tersentuh oleh Islam, mulai ikut rohis dan macam-macam, dan saya pun komitmen untuk tidak lagi mencontek.

Kini saya yakin bahwa orang tua (mungkin) hanya melihat hasil nilai ujian kita,tapi saya yakin bahwa Allah lebih melihat nilai kejujuran kita ketika ujian. Tinggal pertanyaannya, lebih takut kepada Allah ataukah lebih takut kepada manusia kah kita??

Jadi Masihkah Anda (berani) mencontek??

Malang, 30 Juni 2010
(image from : http://siteruterubozu.wordpress.com)
(Untunglah) Taqwa

Ini adalah cuap-cuap yang seharusnya saya tulis jumat lalu. Tapi karena dihantam beberapa ke sibukan (baca:malas), jadilah baru disempatkan menulis di malam ini.

Jika Anda laki-laki, muslim, tentu setiap jumat, kita sholat jumat. Ada satu kalimat wajib khas yang -seharusnya- memang selalu muncul dalam awal-awal khutbah pertama. Kalimat tersebut kurang lebih seperti ini.

“marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita”
yang kemudian dilanjutkan (ini inti artikel saya kali ini)
“karena sebaik-baik bekal adalah taqwa”

Jumat kemarin saya pun mendengar kalimat tersebut sebagaimana jumat-jumat sebelumnya. Namun kali itu, ada sesuatu yang menarik yang membuat saya berpikir, sekaligus kagum, sekaligus bersyukur.

Pernahkah kita merenungi kenapa dikatakan sebaik-baik bekal adalah taqwa? kenapa kata ini yang dipilih? kenapa parameter taqwa yang dijadikan pedoman agar seseorang itu dikatakan beruntung, sukses, atau hal-hal lainnya.

Kenapa bukan parameter semisal kekayaan? sebagaimana yang senantiasa dilakukan orang-orang kapitalis kepada anaknya, “nanti kamu harus jadi orang kaya le, nduk“. Kenapa juga bukan kecerdasan? “belajar yang rajin nak, biar jadi pinter ini itu”. Atau kenapa bukan seperti orang-orang filosof, sufi, “raihlah kedamaian hati, kebahagiaan hati” dan semacamnya?

Bukan juga parameter kekuatan, jabatan, kehormatan maupun hal-hal lain yang sesungguhnya itu semua sungguh sangat bisa digunakan untuk sarana melakukan kebaikan lain, dengan lebih luas?

ataulah jika

Dalam pikiran saya, beryukur karena dalam Islam ini yang dipilih sebagai role model adalah parameter taqwa, taqwa, dan taqwa. Yang kalau secara terjemahan biasa -menaati apa yang diperintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang-. Dan inilah sebuah mabda yang kemudian menjadi universal. Yups, dengan dijadikannya taqwa sebagai parameter, maka ini menjadi satu tonggak universalitas Islam diatas ideologi-ideologi manapun!!

Ini artinya baik Anda menteri, ataupun kuli, anda tetap bisa masuk surga, selama Anda bertaqwa. orang yang kaya luar biasa bisa masuk surga selama dengan kekayaannya ia memperolehnya dari jalan yang halal, beramal, sedekah, menafkahkan hartanya di jalan Allah, -yang kita singkat dengan satu kata : bertakwa- maka si kaya bisa masuk surga. Si miskin pun bisa bertakwa, dengan amal shaleh lainnya, dengan menjauhi larangan-larangan agama. Sebegitu universal taqwa ini, sampai-sampai tak hanya ustadz saja yang bisa bertakwa, seorang polisi, kuli, mantri, atau seorang buruh, manajer, guru, maupun bahkan seorang pengangguran sekalipun ia tetap bisa jadi menjadi orang yang bertakwa. Universalitas taqwa

Ini artinya anda yang sudah es tiga, maupun tamatan es de kelas tiga, atau yang belajar membaca dari anak tetangga, tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak peduli IQ anda seratus empat puluh lima, atau merangkak dari angka seratus dua, Anda tetap bisa jadi orang yang bertaqwa. Bahkan seandainya saking (maaf) bodohnya Anda sampai mendekati batas-batas disebut idiot, Anda tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak peduli Anda ahli retorika, atau masih gagap berkata-kata, Anda tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Standar taqwa bagaimanapun juga telah merubuhkan batasan-batasan intelektual.

Demikian pula dengan bahasa-bahasa filosof, sufistik, maupun lainnya. Taqwa bisa diraih meskipun Anda seorang yang bertemperamen keras, kasar seperti umar. Tak harus Anda adalah orang yang senantiasa cool calm untuk menjadi orang yang bertaqwa, tak harus menjadi orang yang lembut, tak harus menjadi orang yang dalam satu hari tak sekalipun ia marah untuk menjadi orang yang bertaqwa. Karena memang standar yang dipakai bukanlah kelembutan kata, bukanlah kedamaian hati, bukanlah emosi, tetapi standarnya ialah taqwa.

Taqwa adalah parameter yang sedemikian universal sehingga tak hanya orang yang di Arab saja yang boleh dan bisa bertaqwa. Kita yang di Indonesia, China, Argentina,  maupun -andai ada- orang yang hidup di antartika tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak hanya orang yang sudah lanjut usia saja, bahkan seorang remaja yang begitu baligh, dia pun bisa menjadi orang yang bertaqwa. Sedemikian universalnya taqwa, sampai ia menembus batasan-batasan demografis, garis teritorial negara, suku, ras, dan bahkan budaya.

Sekarang jika sudah, silakan membandingkan tujuan dan universalitas pencapaian Islam, dibandingkan dengan ideologi-ideologi lain, silakan mau Anda sebut ideologi Anda apa… :) sosialis, kapitalis, atau apapun pada akhirnya kita harus bersyukur, bahwa parameter, bahwa standar, dan tujuan pembentukan Islam, adalah taqwa. Semua orang punya kesempatan mendapat surga, asal ia bertaqwa. Ah, (untunglah) taqwa. :)

Cuap-Cuap Jumat
21 Mei 2010

Surat Cinta Tuk Para Perwira #1

Ketika kau bicara tentang pemimpin, maka kau harus bicara tentang suatu hal yang besar.  seorang panglima, tentang seorang perwira, bukan sekedar seorang -prajurit biasa-, tak peduli seberapa luar biasa dan seberapa berjasa-nya prajurit biasa tersebut. Dan sebagaimana setiap perwira manapun dari pantai barat amerika hingga ujung siberia,  kepemimpinan akan memiliki lingkarannya masing-masing. Seorang Jenderal memimpin Divisi, seorang Kolonel memimpin Batalyon, Seorang kapten memimpin kompi, dan letnan memimpin peleton.

Bicara kepemimpinan, maka kau harus pula bicara kesempurnaan. Kelebihan yang harus membuatmu berbeda dibanding prajurit biasa. Itulah kenapa ada sekolah perwira, dan untuk masuk kedalamnya tak semudah masuk di sekolah calon tamtama. Fisikmu harus prima sempurna, tak boleh ada gigi tanggal, cacat fisik, mata rabun, apalagi lemah loyo.  Budi pekertimu pun harus senantiasa terjaga, catatan kriminal harus bersih sempurna. Dan yang tak kalah penting otakmu harus berada diatas rata-rata, jangan sampai ada nilai lima. Singkatnya, kau harus sempurna, atau setidaknya, kau tampak sempurna di hadapan para prajuritmu.

Karena seorang perwira tidak disiapkan untuk bertindak sebagaimana seorang prajurit…. Karena seorang perwra, itu memang berbeda.

(memo tuk perwira #1)

Kacang Kita dan Kacang Mereka..

Malam ini setelah browsing beberapa berita gempa, tiba-tiba saja mendapat sebuah berita yang mengingatkanku tentang sebuah situs yang kebetulan lama tak aku kunjungi, padahal situs tersebut sering diupdate.

kacangpalestinaAda sebuah berita di situs tersebut yang menarik perhatian saya. Berita yang mungkin bagi kita terlalu terdengar sepele dan sangat sederhana, Intinya tentang petani yang berhasil menanam kacang, dan menjualnya di pasar. Ya.. kacang.. kacang-kacang biasa seperti yang biasa kita makan, seperti yang biasa kita buat sambal pecal, dibuat rujak, atau sekedar cemilan penambah jerawat. Tak ada yang spesial dengan kacang itu, apakah kacangnya berbiji besar-besar, lebar, atau semacamnya, sama sekali tak ada. Tak jauh beda dengan kacang-kacang kita.

Bagi kita, orang Indonesia, tentu akan serentak berpikir, Kacang??? Apa uniknya sehingga ia lantas masuk berita??? Toh petani-petani kita bisa menanamnya setiap hari…??? tak kekurangan, bahkan boleh jadi berlimpah, dan dengan mudah bisa kita temui di toko-toko, pasar-pasar, dan bahkan di tegalan dan sawah sekitar kita. Lantas apa salah si kacang sehingga ia layak masuk berita? kalau orang keselek kacang lantas meninggal OK lah masuk berita, namun ini hanya orang yang “sekedar” menanam kacang, lalu menjual di pasar. Hal yang sama yang dilakukan oleh petani-petani kita, dan bahkan petani-petani lain di seluruh dunia.

Namun ada yang beda dengan mereka… satu hal, karena mereka adalah petani-petani Gaza. Anda tahu Gaza kan? jika Anda tak tahu, bisa saya katakan, Anda adalah orang yang nyaris tak pernah bersentuhan dengan berita. Negeri yang pada awal tahun baru 2009 kemarin diporakporandakan, dibombardir habis-habisan oleh penjajah Israel, dan membuat ribuan orang menjadi syuhada… dan yang mungkin sering dilupakan banyak orang ialah bahwa mereka adalah negeri yang terisolasi, yang terblokade dari seluruh perbatasannya.

Ah, Ada yang kemudian membuat saya tiba-tiba terharu membaca beritanya. Anda bisa membaca berita lengkapnya di sini . Menanam Kacang dan menjualnya di Pasar yang bagi kita di Indonesia sangat umum sekali, dan bahkan terkesan terlalu biasa, ternyata menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi saudara-saudara kita yang senantiasa hidup dalam blokade dan rasa was-was akan serangan penjajah Israel. Bagaiman dalam sebuah negeri terisolasi, yang luasnya bahkan tak sampai sebesar pulau Madura, mampu menghasilkan produksi hasil pertanian sendiri adalah hal yang sangat luar biasa. Bagi kita mungkin tak ada efeknya, namun bagi mereka, ini berarti bisa mengurangi efek blokade yang sungguh sangat menyengsarakan.

Ah, ini hanya secuil Gaza yang mungkin tak sesubur tanah Palestina lain yang kini dalam penjajahan dan diklaim sebagai wilayah Israel. Bersyukurlah kita di Indonesia, Anda mau tanam kacang di belakang rumah Anda pun dijamin tumbuh, air kita melimpah, tanah kita luas, dan bahkan kita tak perlu was-was ada pesawat menjatuhkan bom Napalm di lahan pertanian kita. Blokade apalagi… Anda tak perlu seperti mereka saudara-saudara di Gaza yang bahkan untuk bisa menanam kacang-pun sang Menteri Pertanian dari HAMAS harus studi dahulu ke Sudan, mendatangkan bibit pun tak bisa dengan truk seenaknya, harus diselundupkan melalui terowongan-terowongan penyelundupan, ketersediaan air yang kita bisa ambil dengan sangat mudah, apalagi belum dengan kekhawatiran setiap saat ada bom jaatuh membakar habis ladang kita.

Ah, tiba-tiba saja saya jadi termenung, jangan-jangan kita ini kurang bersyukur… Ada tanah sebegitu luas, ada air sebegitu melimpah, ada kebebasan begitu mudah, Mau tanam kacang, kentang, wortel, sawi, kedelai, atau bahkan jengkol sekalipun negeri ini sungguh-lah mampu. Itu hanya hasil olahan tanah saja, belum ternak, belum tambang, belum ikan, belum yang lain-lainnya… yang kata seorang teman, kekayaan Indonesia itu  jauh lebih besar daripada kekayaan minyak negara-negara Arab. Namun anehnya, kenapa pula negeri ini tak kunjung pula barokah, dari jaman proklamasi sampai kini, lagu kemiskinan tak kunjung henti… apalagi kemaksiatan, rasanya kok jadi sejarah abadi. duh Robbi, ampuni negeri ini apabila tak kunjung Kau ridhai…
Allahumma inni ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ibaadatik

Kuatkan hati kalian wahai muslimin Gaza… doa kami menyertai antum semua.

Catatan Tengah Malam
Malang 7 Oktober 2009 2:19 dini hari
Ketika tiba-tiba ingin makan kacang…

Category: Artikel, Opini  One Comment
Bersyukurlah Kalian orang-orang Sehat !!!

Apa arti uang 13.000 buat Anda? mungkin bagi sebagian orang, itu adalah uang makannya seharian, atau bahkan bisa pula itu adalah uang sekali jajannya.

***

corrupt_doctor2Namun tidak bagi orang-orang yang berurusan dengan kesehatannya. Sudah hampir 2 pekan lamanya aku harus berurusan dengan sebuah badan bernama Rumah Sakit. Bermula di sebuah selasa siang, tiba-tiba pusing, lantas kemudian muntah. Pusing ternyata tak berhenti, hingga keesokan harinya. Keesokan paginya, aku merasa normal, sehingga aku pun mengajak istri pergi ke pasar Blimbing, berbelanja ikan dan buah kesemek. Namun keanehan ketika pulang dari pasar, naik lyn ABG tapi kok rasanya seperti mabuk kendaraan? Ugh,. untung berhenti di rumah Adib sebentar. ngobrol sebentar terkait software ERP. setelah itu kembali lagi naik ke rumah. Sampai di rumah, muncul kembali muntah itu, kali ini bahkan ada warna kemerahan pada lendir muntahan.. Duh.. ada apa ini? langsung contact adib, dan adib pun menyuruhku untuk tidak jadi ikut ke surabaya (maaf banget dib)… But that’s just a start.

Gejalanya mungkin dianggap remeh bagi sebagian orang, dan kalau dilihat biasa, mungkin saya tidak terlihat seperti orang sakit. Kayak orang segar bugar, namun di dalam kepala, duh kepala rasanya nggliyeng, disertai mual (kadang) kayak orang mabuk kendaraan. Kalau nyetir naik kendaraan motor pun rasanya juga agak kayak mabuk kendaraan (padahal saya yang nyetir sepeda motor), jalan agak jauh pun juga gitu. Sempat muntah juga saking mualnya.

Hari itu juga aku memutuskan untuk pergi ke dokter. Pada awalnya aku hendak ke klinik BSMI di sawojajar, sesampai sana, ternyata diberitahu bahwa dokternya adanya hari senin dan kamis saja. Duh… mencoba me list Rumah sakit Islam terdekat… dan pilihan pun jatuh ke Aisyiah. Oleh dokter, aku pun diperiksa, diagnosis pertama waktu itu, pusingku karena Hipotensi (tekanan darah rendah). Maklum, ketika di cek, tensiku tinggal 100/70. Padahal tensiku terkenal cenderung tinggi, hingga 130-140 rata-rata.

Waktu itu, dokternya sih murah. saya sampai tak terlalu percaya, di Poli umum RS swasta biaya periksa dokter hanya 6000.. Hee??? saya pikir, ah itu kan belum obatnya. Obatnya bisa berapa nih? waktu itu disini diberi obat

* Mersibion
* Dramamin
* Ranitidin
* Plantacid Forte

biayanya 15.000 hemm.. seems fair enough… bagiku waktu itu..
Namun kemudian ternyata Pusing tidak hilang, still feel like mabuk kendaraan. Padahal ya nggak ngapa-ngapain, cuman berdiri aja doang!! Duduk di meja kerja yang agak tinggi pun membuat saya pusing mabuk kendaraan. Ah repot, mau tak mau, pekerjaan dengan Fatimah pun dilakukan dengan tiarap. Pindah kamar, pindah layout, ber komputeran sambil tiarap. Resikonya jelas, kerja jadi tak maksimal… tapi daripada kerja dengan kondisi yang mabuk sangat… :( mending gini, setidaknya masih ada yang bisa dilakukan, walau sedikit.
Obat pun habis, namun pusing tak kunjung hilang, sehingga saya pun kembali lagi ke dokternya. Pada kedatangan kedua ini, tensi sudah normal. namun tidakdengan kepala. Maka divonislah kali ini aku dengan Vertigo.
kali ini saya diberi obat
- Raniditin 150mg
- Mersibion 5000
- FREGO Flunarizine
Saya juga diberitahu kalau masih pusing lagi, langsung saja ke poli syaraf. Aaargh.. poli syaraf..
Saat mengkonsumsi obat yang kedua ini, jika setelah minum obat, keluhan pusing itu lumayan berkurang, namun tak lama kemudian (5-6 jam) pusing itu muncul kembali. Ooww. this medication only cure the symptoms, not the disease.  Obat pun habis sehingga saya pun memutuskan untuk kembali, kali ini ke poli syaraf di RS tersebut.

Oleh dokter di poli syaraf, dikatakan bahwa penyebab dari vertigo ini bisa banyak hal, saya pun di suruh untuk tes medis ke Lab Medis (terserah ke lab manapun katanya). Di surat rujukan tes lab, ada beberapa point yang harus dites. diantaranya
- Darah lengkap (automatic)
- SGPT (ALT)
- SGO (AST)
- Cholesterol total
- Trigliserida
- Cholesterol HDL
- Cholesterol LDL
- Ureum (BUN)
- Kreatinin
- Uric Acid
- Glukosa Puasa
- GLukosa 2 Jam PP

Jangan tanya saya, tes apa saja itu… aku tak terlalu paham.  Jangan tanya biayanya pula, tes ke lab selalu identik dengan biaya yang tak murah. Selain itu oleh dokter syaraf itu saya pun juga diberi obat
- Versilon
- Dramamin
- Kalmeco 500 Mecobalamin
yang jika saya minum, pusing itu masih terasa (tidak banyak berkuang seperti obat yang dikasih di poli umum kunjungan kedua)

saat tulisan ini ditulis..  pusing pun masih tak kunjung hilang. Sempat pusing itu seolah tak terlalu terasa dan anehnya itu terjadi setiap hari ahad selama 2 pekan ini. Ahad lalu ketika orang tua istri datang, dan ahad barusan ketika orang tua istri pun kembali berkunjung.

Entah sudah berapa uang yang harus keluar, dan mungkin akan keluar. sempat hampir terisak ketika mama di telepon berkata, sudah jangan pikirkan biaya…!! berapapun akan mama tanggung asal kamu benar-benar sembuh.. Ya Allah.. malu rasanya, mama sampai ikut campur dalam biaya pengobatan. Ah.. mungkin karena mama merasakan sendiri ketika dahulu terkena stroke dan begitu sulit mencari uang waktu itu.

Ah entahlah, jika di total seluruh biaya yang saya sebutkan diatas sudah habis 500.000 an. Dan untuk mendapatkan uang sebesar itu, maka mau tak mau, sebuah kalung pun disekolahkan ke Pegadaian Syariah di Landungsari. Maklum, sedang tanggal tua.

Ah, masalah agaknya tak berhenti, kemarin malam, sepulang dari mengunjungi orang tuanya istri di Tidar, istri mengeluh kepalanya begitu pusing. Sebelumnya memang sudah sakit kepala, dan sebuah oskadon diharapkan mengatasi masalahnya. Nyatanya tidak.. its even worsing. Duh.. hari Ahad malam.. dokter mana yang buka? Tapi demi istri, biarlah… sambil membonceng berharap agar istri tidak pingsan di perjalanan (maklum, dia sudah sampai level agak budeg, ini tanda2 biasanya mau collapse).

Perjalanan pertama, menuju dokter sri rejekiningdyah di sumbersari, duh tutup, teringat ada dokter praktek di kertoraharjo.. tak jauh beda, tutup pula. Teringat ada dokter di apotek kimia farma dinoyo, langsung melajukan kendaraan ke arah sana.. dan lagi-lagi tutup. Teringat dokter yang pernah diceritakan adib, lanjut ke cengger ayam, dokter rekomendasi adib ternyata tutup. Dokter di apotek dekat situ di kalpataru pun tutup pula. Duh, menelusuri jalan kalpataru berharap ada dokter praktek yang buka, dan… tutup.. hiks.. Dokter praktek kenapa kalian hanya buka di hari kerja??? tak menyerah… sambil berharap cemas semoga istri tidak collapse. Sempat terpikir membelikan dulu minum untuk dia, entah susu atau teh berharap glukosa bisa tingkatkan konsentrasinya untuk mencegah pingsan, namun lupa alias tak sempat. Pencarian dokter praktek benar2 menyita waktuku. Teringat dokter Jack di oro-oro dowo, memacu kesana. Tutup bersama apotek dengan tulisan 24 jam nya (huh), menuju ke daerah UM berharap ada dokter yang buka. Nihil, menuju UMM Medical center di depan Unmuh kampus 2 sumbersari, tutup pula. Aargh… semangat hid!!!

Pikiran mencari dokter membuatku tak menghiraukan pusing yang mulai datang menyergap.Hingga akhirnya aku pun membaca sms adib, agar dibawa ke UGD saja. disana ada dokter umum yang menjaga. Dan akhirnya perjalanan pun terhenti di UGD Unisma. Ugh.. sempat agak gimana gitu melihat tagihan biaya dokter 20.000. Sempat miris, semoga nanti obatnya di apotek tak mahal, maklum, uang tinggal cekak kali ini. Seluruh uang yang tercecer di saku, di tas, pun dikumpulkan dalam satu bendel, layaknya kernet angkot. Tak sampai setengah jam, istri pun sudah dipanggil. Aku ikut saja, masuk ke dalam. Istri ditanyai beberapa hal oleh perawat atau dokter muda, aku tak tahu. Sempat ditensi pula, hingga akhirnya ditangani benar oleh seorang dokter senior yang sudah tua. Ah… kini tinggal obat di apotek. AH lega bertemu dokter..dan kini.. pusing ku pun mulai datang lagi.. mabuk.. ugh..

***

Urusan belum selesai, sambil menahan pusing vertigo, aku masih harus menebus obat untuk istri yang sudah tampak kehilangan ruhnya. Seperti biasa, di apotek aku minta yang generik. Namun oleh mbaknya dibilang bahwa yang ada generiknya hanya ada 1, dan itu pun harganya cuman terpaut 100 perak. Duh.. aku pun bertanya, berapa Mbak semuanya? berharap cemas semoga tak sampai 30.000 karena uang yang aku bawa tak jauh dari segitu. Dan Urgh.. betapa menohoknya ketika mbak apoteker berkata, 60.000 mas. Ah, aku pun meminta kembali resepnya, dan mau tak mau kami berdua pun pulang dengan tangan hampa, tanpa obat di tangan. Di rumah aku hanya minta istri minum obat sakit kepala yang mengandung parasetamol (di resep memang ada parasetamol) dan pereda mual. Mau bagaimana lagi.. tak ada lagi uang yang kami pegang selain 3o ribu itu, sedangkan untuk obat sampai 60.000 ah entah kenapa aku begitu tiba-tiba rasanya ingin marah, marah terhadap mahalnya kesehatan di negeri ini. Ah ya, ingat sebuah buku karangan Eko Prasetyo.. Orang miskin dilarang Sakit…

Untunglah keesokan harinya ada bantuan subsidi finansial yang datang. Malam itu selepas sholat maghrib, berhenti dahulu di Bank Niaga, mengambil uang di atm bersama. Namun lagi-lagi Allah hendak menunjukkan kepadaku, bahwa kita harus tetap bersyukur. Keluar dari ATM, bertemu dengan seorang ibu paruh baya. Beliau bercerita banyak hal, sempat terbersit bahwa ibu ini bisa jadi seorang penipu seperti yang sering dikatakan teman-teman. Namun sejenak kusisihkan curiga itu dengan bertanya banyak hal kepada beliau. Cukup fair, beliau bisa menjawab beberapa pertanyaanku.. Ah mungkin memang sulit membuat orang percaya.. aku hingga detik ini pun tak sepenuhnya percaya, mengingat pernah ditipu oleh seorang yang mengaku untuk beli bla bla bla, nyatanya tidak. Namun kali ini kutepis keraguan itu. Ibu ini hanya minta bantuan satu, uang 13.000 untuk menebus obat ibunya yang terkena Muntaber di Saiful Anwar. (jika anda pernah menemukan penipu dengan ciri2 sama, mohon sampaikan kepada saya..) aku memang sempat curiga, namun ah apa gunanya suudzon terus. Dengan keyakinan bahwa kalau memang ibu ini seorang penipu, semoga Allah lekas menyadarkannya.  Uangku kebesaran, dan aku masih perlu menebus obat. Maka aku katakan kepada ibu itu, tunggu sebentar ya bu. Saya sedang juga menebus obat. Silakan ikut ke apotek kalau ibu mau saya tebuskan obatnya sekalian. Kalau tidak, silakan tunggu disini. Ibu itu memilih menunggu karena ia tidak tahu apotek yang saya maksud. Dan memang ketika saya kembali dari apotek, ibu itu masih tak beranjak di tempatnya. Kepadanya aku berikan uang beberapa, sambil berpesan, Semoga ibunya lekas sembuh…

Ah…. rasanya uang 500.000 ku jadi seolah tak terasa, mengingat ibu tersebut butuh hanya 13.000 untuk menebus obat, masih harus meminta-minta. Aku masih teringat dahulu pun ada seorang bapak-bapak yang minta bantuan untuk menebus bayinya, tak besar, hanya 160.000 pasca istrinya melahirkan.. AKu yang tak punya uang, mencoba merujukkan bapak tersebut ke Rumah Zakat, karena aku sendiri pun tak punya uang.

Ah… sampai segini, aku pun rasanya ingin protes.. Kenapa begitu Mahal biaya kesehatan di negeri ini? sementara para pejabat dengan enak berobat ke luar negeri, orang-orang rakyat kecil ini masih harus dibunuh pelan-pelan dengan stempel tak tertulis, bahwa orang miskin tak boleh sakit.. mau ngurus gakin? duh jangan tanya dah… orang-orang kaya saja terkadang harus memiskinkan dirinya agar bisa mendapatkan askeskin, sementara orang miskin banyak yang bingung tak tahu dari mana harus mengurus askeskin, dah begitu, belum jika dipungli di kelurahan, pak lurahnya gak ada.. duh…

Dan aku pun rasanya ingin begitu marah, kepada beberapa dokter yang mengeroyok kantong pasien. Seorang rekan dokter pun menceritakan bahwa beberapa rumah sakit swasta adakalanya bermodus demikian, sakit kecil dibilang besar, disuruh mbalik beberapa kali, atau bahkan disuruh tes ke lab, padahal sudah ada kerjasama bawah tangan antara dokter dengan lab, dengan perjanjian, kalau dokter ngrujuk pasien ke lab X, nanti saya kasih komisi deh dok.. Itu masih lab, belum obatnya… kong kalikong pula dengan supplier obat, sehingga lebih memilih memberi resep obat paten ketimbang generik..

Duh.. !! Susah jadi orang sakit.. dikepung dimana-mana.. sudah mahal, diperas pula…
makanya bersyukurlah kalian yang sehat..!!

Malang, dini hari.. 26 mei 2009
sambil menahan pusing.. duh.. obatku kenapa dirimu begitu mahal?