Saya masih ingat kata salah seorang rekan, maafkan saya lupa namanya. Bahwa salah satu yang membedakan antara jurusan Ilmu Komputer dengan jurusan IT lain (semacam teknik informatika), ada pada porsi science-nya. Ketika program studi lain lebih berorientasi kepada dunia industri, dunia pembuatan software dan sebagainya, di ilmu komputer, hal yang lebih ditekankan ada pada sisi sciencenya, ada pada sisi keilmuannya. Ibarat di sebuah pabrik, orang-orang ilkom berada di bagian RnD, orang-orang IT lain, ada pada bagian unit Produksi, Quality Control, dlsb.
Pendek kata, di Ilmu komputer, “SEHARUSNYA” kita lebih ditekankan menjadi seorang ilmuwan, daripada seorang programmer, system analyst, network administrator, dsb. Tak heran jika dalam kurikulum ilkom porsi terkait dunia usaha memang tak terlalu ditekankan, meski untuk kesana, otomatis sudah tersedia dengan sendirinya dengan seabrek mata kuliah yang mendukungnya. Toh tak perlu saya bahas mengingat anak ilkom tentu tahu bahwa secara teori dan praktek di lapangan pula, dalam soal buat membuat software, anak ilkom pun tak kalah dengan anak dari jurusan non ilkom. Karena toh hal-hal tersebut termasuk kurikulum wajib dalam ilmu komputer, meski sekali lagi, tak terlalu diberikan porsi berlebih dan terlalu mendalam, karena sekali lagi pada ilkom, fokus utama (seharusnya) ada pada riset.
Nah, tapi masalahnya, sebagaimana setiap mahasiswa ilmu komputer lain tahu, bahwa tentu kebanyakan dari kita kuliah disini untuk membidik “masa depan” yang lebih cerah. ini berarti uang, dan kita sama-sama tahu bahwa ini berarti, sisi-sisi seorang ilmuwan IT, mau tak mau adakalanya dikesampingkan.
Imbasnya, bisa ditebak. Dari sekian alumni jurusan ilmu komputer, sangat jarang yang terdengar berkarir sebagai seorang peneliti. Tak perlu berkarir pun tak masalah, setidaknya kita mendengarnya sebagai seorang peneliti, baik secara di lembaga (macam LIPI atau ristek, atau swasta), maupun secara individu, baik secara profesional, maupun amatiran, full time, maupun part time, atau sekedar penghobi sekalipun tak masalah.
Kalaupun ada, itu lebih pada tuntutan dunia kerjanya, semisal seorang dosen, RnD perusahaan swasta, dan semacamnya, yang memang secara iklim mendukung dan menuntut untuk ke arah tersebut.
Selebihnya? yang kebanyakan saya dengar hanya anak-anak Ilkom yang ber”akhir” di kantor-kantor swasta dan pemerintah, sebagai programmer, IT adminstrator, system analist, sebagai network admin, guru, dosen, atau bahkan profesi-profesi yang tak ada hubungannya dengan ke-IT an sedikitpun. Soal adanya teliti meneliti, lebih pada tuntutan profesi masing-masingnya, itu pun lebih pada perancangan pembuatan sebuah program yang sulit, yang rumit, sesuai dengan kebutuhan profesi mereka. Sekali lagi, lebih pada membuat program, daripada membuat sebuah inovasi keilmuan baru.
Tapi SELEPAS DARI TUNTUTAN PROFESI tersebut, adakah dari mereka ini yang mengambangkan penelitiannya? atau mencoba menemukan sebuah rumus baru? algoritma baru? cara baru? metode baru? atau bahkan cabang ilmu yang baru??? Ah, telinga saya memang kecil, semoga saja ada, dan Anda lah ini orangnya, atau paling tidak Anda yang akan menjadi orangnya. Amin.
Ah ya, inti dari tulisan ini, sebenarnya saya hendak mengajak kita ini warga ilkom untuk ingat bahwa kita ini “sebenarnya”, menjadi bagian dari dunia sains, tak sekedar dunia industri. Karena setahu saya -semoga saya salah- Saya belum pernah menemukan orang Indonesia yang menjadi penemu dalam bidang keilmuan komputer ini. Yang ada lebih pada penerapan suatu ilmu untuk sebuah permasalahan, entah permasalahan dunia sains maupun dunia industri. Sejauh yang saya dengar yang banyak adalah orang membuat aplikasi ini dan itu, untuk masalah ini dan itu. Ya, kebanyakan kita lebih pada sebatas implementor daripada seorang scientist, apalagi seorang inventor, mungkin masih jauh.
Tapi ketikah dihadapkan pada pertanyaan,
Adakah dari kita menemukan sebuah METODE BARU??
Atau setidaknya MENCOBA mengembangkan??
Atau paling tidak BERKEINGINAN untuk MENEMUKAN METODE BARU??
Tidakkah dari kita-kita ini ada yang ingin, agar kelak anak cucuk kita, penerus generasi negeri ini pun bisa merasa bangga, ketika mereka belajar di bangku-bangku kuliah ilkom, mempelajari buku teks tebal berlembar-lembar,
lalu membaca nama-nama Indonesia dideretan nama-nama Djikstra penemu shortest path,
diantara CAR Hoare si penemu quicksort,
diantara McCulloch Pitts, dan Teuvo Kohonen ilmuwan jaringan syaraf tiruan,
Atau setidaknya dideretan nama-nama ahli-ahli di sub bab latar belakang ditemukannya metode tersebut.
Tidakkah dari kita-kita ini ada yang ingin, suatu saat kelak, di buku teks mahasiswa ilmu komputer di seluruh dunia, dibahas dan dibicarakan nama-nama orang Indonesia, terlebih jika nama tersebut mengikuti sebuah cabang ilmu. Ketika dosen-dosen di Jerman, di Tokyo, di Riyadh, di Sydney, bahkan di kampus saya di Brawijaya diajarkan Algoritma dan metode dengan nama-nama Indonesia.
Tidakkah dari kita-kita ini ada yang ingin, ketika di ruang-ruang kelas mereka, dibicarakan soal “Toriq SupraGenetic Algorithm”, “Toni Artificial Hormone System”, “Adinata ParaNeuro Fuzzy”, “Endra Shortcut Network”, dan nama-nama Indonesia lain bersandingan dengan istilah-istilah bidang sains komputer.
Tidakkah dari kita-kita ini ingin ada hal-hal membanggakan negeri ini seperti itu?
Atau hanya saya yang berlebihan dan ingin mendengar ada nama-nama tersebut?
Wallahu alam, semua jawaban kembali pada Anda.
Saya hanya bisa mengajak, kepada mereka yang telah merasakan pendidikan ilkom, agar setidaknya menghidupkan iklim-iklim sains, inovasi, penemuan dalam keseharian kita, Sekecil apapun disela-sela waktu senggang kita. Di sela-sela kesibukan mengajar, disela-sela membuat program klien, disela-sela memonitor network, dan semacamnya. Tak peduli kita ini “terdampar” di dunia industri se industri dan sekapitalis apapun. Tak perlu besar besar di awal, mulai saja dari hal-hal kecil dan sederhana dahulu pun tak masalah, mulai dengan modifikasi ini itu, menggabung ini itu, dan semacamnya. Semoga dengan ini saya berharap, bahwa kelak para pengenyam jurusan ilkom, tak menjadi sekedar bagian dunia “juru ketik” kode program, maupun dunia industri IT lainnya.
Karena sungguh, alangkah amat sayang, ketika seorang ilkom yang semisal sudah bersusah-payah belajar berjenis-jenis sains komputer, entah itu kecerdasan buatan maupun yang lain, namun tak dimanfaatkan ilmu tersebut disisa umurnya.
Ngomong-ngomong, saya jadi membayangkan, jika kelak di ruang kuliah MIT, NTU, Todai, Oxford, Harvard, UI, bahkan di Brawijaya, seorang profesor di ruang kelas mengajarkan kepada mahasiswa mereka, tentang sebuah algoritma bernama, ”Paijo Algorithm”.
Malang, 26 Agustus 2010

Kita sebagai muslim tentu tahu dan wajib meyakini bahwa kelak, di yaumil hisab, kita akan dihadapkan dengan seluruh catatan amal kita. tentang bagaimana Allah kelak akan menampilkan kembali masing-masing perjalanan hidup kita di dunia, baik yang buruk, maupun yang baik. 








Komentar Terbaru