Apakah kawan punya sesuatu yang kawan takutkan???
Saya yakin, se-berani apapun seseorang, ia pasti memiliki sesuatu yang ia takutkan, seberani apapun, dan seheroik apapun seseorang tersebut, saya yakin ia pasti memiliki “fear factor” di dalam dirinya. Dan fear factor ini pun bermacam-macam, mulai dari yang berlaku secara universal semisal ketakutan terhadap maut, ketakutan terhadap Allah, dan siksanya, hingga ke hal-hal kecil, semisal ketakutan seseorang terhadap anjing, terhadap hantu, ketinggian, ruang sempit, dan semacamnya. Dan hal ini memang wajar dan manusiawi.
Dan diantara sederet hal-hal penyebab phobia saya, ada satu yang saya menganggapnya penting. fear factor ini bukan berupa sebuah benda fisik, melainkan lebih ke arah sesuatu yang abstrak…. dan filosofis.
Dan bagi saya, fear factor itu adalah ‘keteguhan hati’.
Ya, saya paling takut apabila semisal kelak, diri ini tak lagi istiqomah…
Wallahu alam, entah berapa banyak kisah-kisah ke-istiqomahan yang terhenti itu, yang seringkali mengusik ruang-ruang imajiku. Dari kabar-kabar di berita, dari kabar-kabar dari murabbi, kabar dari kawan, dari teman, dari internet, dari media massa, hingga kawan-kawan dekatku sendiri…
Semua bagai potongan-potongan pahit yang harus ikut aku rasakan setiap mendengar hal-hal tersebut. Dan episode-episode seperti ini sudah aku dengar semenjak kecil…
Dulu waktu saya masih SD, masih belum ‘cetho’ (mumayyiz), ada sahabat kakakku. Sebut saja namanya Mbak X. Beliau muslim, keluarganya pun muslim, meski ayahnya memang sudah meninggal. Kalau bulan Ramadhan tiba, mbak X ini pun sering berkunjung ke rumahku, di rumah, kami pun shalat tarawih berjamaah diimami oleh ayahku. Namun Allah selalu punya kehendaknya sendiri. Ibu dari mbak X ini jatuh hati dengan seorang non muslim, menikahlah ibunya, dan sayangnya, bukannya si laki-laki yang pindah ke Islam,namun justru ibunya inilah yang pindah ke kristen. Dan efeknya, karena memang Mbak X ini masih kecil, ikut orang tua pula… pindahlah juga agama beliau bersama saudaranya yang lain. Terakhir kali aku dengar, beliau sudah menikah dengan pemuda kristen pula…
Ada pula dalam halaqah pekanan beberapa waktu lalu, ketika diceritakan oleh rekan sesama liqo’ yang aktif di RZI (rumah zakat Indonesia), yang bercerita tentang bagaimana perjuangan mereka menghambat laju kristenisasi di daerah2 pinggiran. Cerita bagaimana suatu RW yang beberapa tahun lalu mayoritas adalah keluarga muslim, kini justru berbalik drastis, keluarga muslim jadi sangat amat minim sekali, bahkan menjadi minoritas di daerah tersebut setelah diserang.
Ada pula cerita tentang seorang qori’ di kota Malang ini, bacaan qurannya Subhanallah sangat indah. Namun karena ujian ‘perut’ dan kemiskinan, beliau akhirnya pindah ke lain agama. Ada pula kisah seorang ustadz tentang seorang akhwat aktifis dakwah kampus, subhanallah beliau dikenal sangat strength dan militan dengan jilbab lebarnya. Namun selang setelah lulus, entah kenapa jilbabnya makin lama makin pendek, makin tipis, hingga akhirnya lepas jilbab sama sekali. Kabar terakhir bahkan menyebutkan akhwat tersebut sampai pindah agama. Dan cerita akhwat tersebut, ternyata dialami sendiri oleh seorang kawanku sendiri… Seseorang yang aku kenal sangat teguh dalam beragama, bahkan pernah sempat beliau mengenakan cadar, ketika pindah kampus, kondisinya justru berbalik drastis. Dengan jilbab mungil tipis, pakaian ketat, dan fikrah yang wallahu alam. Untung yang ini tak sampai pindah Agama seperti kisah seorang akhwat bercadar yang pindah agama karena di PDKT terus menerus oleh seorang pria non Islam. Atau seorang akhwat Lampung yang terkena kristenisasi, lalu pindah agama. Yang ini untung segera terdeteksi dan segera disadarkan. Alhamdulillah beliaunya bertaubat dan kembali ke dalam Islam… Kasus-kasus berpindahnya iman seseorang, masih banyak lagi…
Adakalanya pula iman tak sampai berpindah, tak sampai ganti status agama di KTP, tak sampai pergi ke gereja-gereja, tak sampai hingga pindah agama. Tetap Islam, namun sungguh miris, fikrahnya (pemikiran) telah berpindah dan berubah. Dari seorang yang dulunya dikenal militan dan idealis, menjadi seseorang yang sangat kompromistis… berubahlah fikrah (pemikiran) dari pemikiran2 yang islami, menjadi pemikiran-pemikiran sekuler, aneh, nyeleneh, dan justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri. Dan tak jarang mereka merasa bangga dengan hal ini.
Ada seorang kawan SMP saya, waktu SMP memang anaknya boleh dibilang nakal. Ketika SMA kami tak satu SMA, beliau sekolah di sebuah sekolah favorit di luar kota. Ketika kuliah, Alhamdulillah kami dipertemukan. Waktu pertama kali bertemu di kampus setelah pisah sekian lama, aku sampai pangling (kaget). Subhanallah beliau menjadi sangat militan, aktif ikut kajian-kajian, Subhanallah, begitu pikirku. Namun ternyata tak butuh waktu lama untuk merubah seseorang, sekitar 2 tahun kemudian, al akh tersebut aku ketahui justru kembali lagi ke masa-masa kejahiliahan SMP dulu… pacaran, dlsb… masya Allah…
betapa cepat Engkau membolak balik hati kami ya Allah…
Terkadang pula mendengar cerita tentang seorang ikhwah yang menyeberang ke wajihah lain, masih mending jika wajihah tersebut adalah wajihah ke-Islaman, apapun harakahnya, namun sangat miris ketika mendengar bahwa wajihah tersebut adalah wajihah sekuler, dan akhirnya mau tak mau akal ini mencoba dipaksakan untuk merangkai-rangkai alasan husnudzan terhadap ikhwah tersebut.
Ada pula kabar-kabar tentang seorang al akh yang memang selama ini dikenal kritis, namun kekritisan beliau justru menjadi senjata makan tuan. Kabar terakhir yang aku dengar, beliau sudah tak mau lagi liqo’, bahkan tak sekedar itu, kini ia menjadi sebuah gerakan yang dibilang kontradiktif terhadap dakwah di fakultasnya.
Ada pula dulu seorang al akh pula yang sangat disegani bahkan oleh seluruh ikhwah kampus, namun karena masalah wanita, beliau justru berbalik drastis terhadap apa yang beliau bela selama ini. Karya terakhir beliau untuk dakwah justru menjelek-jelekkan sebuah organisasi dakwah, masya Allah… untung saja setelah itu tak ada lagi kasus lagi dari beliau.
Ada pula… ah jika hendak aku list satu persatu… rasanya tak akan cukup… Dan sepertinya masih ada banyak lagi kisah-kisah orang yang aku kenal yang terhenti dari jalan lurus ini. Tak peduli apapun levelnya, dari yang masih baru belajar, hingga yang sudah semacam panglima dalam pergerakan dakwah. Apa yang tertulis diatas hanya sekelumit penggalan-penggalan cerita, dari sekian banyak kisah yang Allah tunjukkan kepadaku. Bersyukurlah apabila orang-orang tersebut sempat kembali lagi ke dalam jalan yang benar…
orang-orang seperti ini harus kita sambut dengan sebaik-baiknya, bukan justru kita musuhi dan kita asingkan selama-lamanya…
Saat ini orang-orang dan pemuda seperti aku masih bisa meneriakkan, “lebih baik terasing daripada menyerah dalam kemunafikan”, namun sungguh aku pun tak akan bisa menjamin.. akankah kelak aku seperti ini??? ketika mulai bersentuhan dengan strata sosial yang lebih luas, berbenturan dengan masalah-masalah pekerjaan dan nafkah, masyarakat, dll.
Mengutip status seorang sahabat, “untuk pertama kalinya ada importir bilang,”ini pak sebagai ucapan terima kasih, karena saya sudah menyita waktu bapak.” akhirnya godaan itu datang juga, Alhamdulillah bisa nolak”. Masya Allah, batinku, ini tahun pertama beliau sudah seperti itu, apalagi di tahun-tahun kedepan… boleh jadi akan makin berat godaannya. Syukurlah sahabatku masih bisa mempertahankan prinsip2 idealismenya… dibandingkan dengan ribuan bahkan jutaan lain masyarakat di seluruh belahan bumi yang memilih mengorbankan idealisme, harga diri,kehormatan, bahkan aqidahnya untuk secuil dunia yang tak akan menyelamatkannya di akhirat kelak…
Ya Allah, akankah masih Idealisme ini, prinsip-prinsip, idealisme, bahkan aqidah ini akan tetap ada dalam hatiku?? tahun depan? 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? 25 tahun lagi? Berikan hamba kekuatan ya Allah…
Dan semakin aku pikirkan, semakin takutlah aku…
Pada akhirnya aku hanya bisa berdoa… “ya muqollibal quluub, tsabit qolbi ‘ala diinika”, Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar senantiasa pada agama-Mu.
Malang, 11 Januari 2010 00:30 dini hari
Komentar Terbaru