Archive for the Category »Diary Perjuangan «

Istiqomah

hari ini saya kembali takut…. lepas dari kisah yang pernah saya tulis disini, ada sebuah kisah yang disampaikan ikhwan satu liqo’ kepada saya tadi pagi. Dan kisah ini terus terang membuat saya kontan gemetar, -takut-.

Ada seorang muslimah, akhwat bahkan, yang ikut dalam sebuah program pertukaran pelajar. Namanya pertukaran pelajar, tentulah keluar negeri, dan dari yang saya tangkap, ini bukan negeri islam.

Singkat kata, sang akhwat tersebut berubah drastis, fikrahnya menjadi tak lagi islami. Murabbi saya menceritakan bahwa MR akhwat ini sampai mengeluh dengan diskusi-diskusinya terhadap akhwat tadi via facebook. Dan kabar dari ikhwan teman saya tadi menyebutkan, bahwa si akhwat pertukaran pelajar tadi sudah sampai lepas jilbab… Masya Allah… :(

Dan saya semakin takut, dan takut…. siapa yang bisa menjamin hidayah saya esok pagi? Semoga Istiqomah Kawan
Pada akhirnya kita hanya bisa berdoa“ya muqollibal quluub, tsabit qolbi ‘ala diinika”, Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar senantiasa pada agama-Mu.

Malang, 17 Maret 2009
semoga kita tetap istiqomah kawan

ps: ketika menulis artikel ini, saya sambil membuka2 blog akh suaidi, dan makin takut sekaligus tertohoklah saya melihat tulisannya disini

My Fear Factor

Apakah kawan punya sesuatu yang kawan takutkan???
Saya yakin, se-berani apapun seseorang, ia pasti memiliki sesuatu yang ia takutkan, seberani apapun, dan seheroik apapun seseorang tersebut, saya yakin ia pasti memiliki “fear factor” di dalam dirinya. Dan fear factor ini pun bermacam-macam, mulai dari yang berlaku secara universal semisal ketakutan terhadap maut, ketakutan terhadap Allah, dan siksanya, hingga ke hal-hal kecil, semisal ketakutan seseorang terhadap anjing, terhadap hantu, ketinggian, ruang sempit, dan semacamnya. Dan hal ini memang wajar dan manusiawi.

Dan diantara sederet hal-hal penyebab phobia saya, ada satu yang saya menganggapnya penting. fear factor ini bukan berupa sebuah benda fisik, melainkan lebih ke arah sesuatu yang abstrak…. dan filosofis.

Dan bagi saya, fear factor itu adalah ‘keteguhan hati’.
Ya, saya paling takut apabila semisal kelak, diri ini tak lagi istiqomah… :(

Wallahu alam, entah berapa banyak kisah-kisah ke-istiqomahan yang terhenti itu, yang seringkali mengusik ruang-ruang imajiku. Dari kabar-kabar di berita, dari kabar-kabar dari murabbi, kabar dari kawan, dari teman, dari internet, dari media massa, hingga kawan-kawan dekatku sendiri… :( Semua bagai potongan-potongan pahit yang harus ikut aku rasakan setiap mendengar hal-hal tersebut. Dan episode-episode seperti ini sudah aku dengar semenjak kecil…

Dulu waktu saya masih SD, masih belum ‘cetho’  (mumayyiz),  ada sahabat kakakku. Sebut saja namanya Mbak X. Beliau muslim, keluarganya pun muslim, meski ayahnya memang sudah meninggal. Kalau bulan Ramadhan tiba, mbak X ini pun sering berkunjung ke rumahku, di rumah, kami pun shalat tarawih berjamaah diimami oleh ayahku.  Namun Allah selalu punya kehendaknya sendiri. Ibu dari mbak X ini jatuh hati dengan seorang non muslim, menikahlah ibunya, dan sayangnya, bukannya si laki-laki yang pindah ke Islam,namun justru ibunya inilah yang pindah ke kristen. Dan efeknya, karena memang Mbak X ini masih kecil, ikut orang tua pula… pindahlah juga agama beliau bersama saudaranya yang lain. Terakhir kali aku dengar, beliau sudah menikah dengan pemuda kristen pula…

Ada pula dalam halaqah pekanan beberapa waktu lalu, ketika diceritakan oleh rekan sesama liqo’ yang aktif di RZI (rumah zakat Indonesia), yang bercerita tentang bagaimana perjuangan mereka menghambat laju kristenisasi di daerah2 pinggiran. Cerita bagaimana suatu RW yang beberapa tahun lalu mayoritas adalah keluarga muslim, kini justru berbalik drastis, keluarga muslim jadi sangat amat minim sekali, bahkan menjadi minoritas di daerah tersebut setelah diserang.

Ada pula cerita tentang seorang qori’ di kota Malang ini, bacaan qurannya Subhanallah sangat indah. Namun karena ujian ‘perut’ dan kemiskinan, beliau akhirnya pindah ke lain agama. Ada pula kisah seorang ustadz tentang seorang akhwat aktifis dakwah kampus, subhanallah beliau dikenal sangat strength dan militan dengan jilbab lebarnya. Namun selang setelah lulus, entah kenapa jilbabnya makin lama makin pendek, makin tipis, hingga akhirnya lepas jilbab sama sekali. Kabar terakhir bahkan menyebutkan akhwat tersebut sampai pindah agama. Dan cerita akhwat tersebut, ternyata dialami sendiri oleh seorang kawanku sendiri… Seseorang yang aku kenal sangat teguh dalam beragama, bahkan pernah sempat beliau mengenakan cadar, ketika pindah kampus, kondisinya justru berbalik drastis. Dengan jilbab mungil tipis, pakaian ketat, dan fikrah yang wallahu alam. Untung yang ini tak sampai pindah Agama seperti kisah seorang akhwat bercadar yang pindah agama karena di PDKT terus menerus oleh seorang pria non Islam.  Atau seorang akhwat Lampung yang terkena kristenisasi, lalu pindah agama. Yang ini untung segera terdeteksi dan segera disadarkan. Alhamdulillah beliaunya bertaubat dan kembali ke dalam Islam… Kasus-kasus berpindahnya iman seseorang, masih banyak lagi…

Adakalanya pula iman tak sampai berpindah, tak sampai ganti status agama di KTP, tak sampai pergi ke gereja-gereja, tak sampai hingga pindah agama. Tetap Islam, namun sungguh miris, fikrahnya (pemikiran) telah berpindah dan berubah. Dari seorang yang dulunya dikenal militan dan idealis, menjadi seseorang yang sangat kompromistis… berubahlah fikrah (pemikiran) dari pemikiran2 yang islami, menjadi pemikiran-pemikiran sekuler, aneh, nyeleneh, dan justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri. Dan tak jarang mereka merasa bangga dengan hal ini.

Ada seorang kawan SMP saya, waktu SMP memang anaknya boleh dibilang nakal. Ketika SMA kami tak satu SMA, beliau sekolah di sebuah sekolah favorit di luar kota. Ketika kuliah, Alhamdulillah kami dipertemukan. Waktu pertama kali bertemu di kampus setelah pisah sekian lama, aku sampai pangling (kaget). Subhanallah beliau menjadi sangat militan, aktif ikut kajian-kajian, Subhanallah, begitu pikirku. Namun ternyata tak butuh waktu lama untuk merubah seseorang, sekitar 2 tahun kemudian, al akh tersebut aku ketahui justru kembali lagi ke masa-masa kejahiliahan SMP dulu… pacaran, dlsb… masya Allah… :( betapa cepat Engkau membolak balik hati kami ya Allah…

Terkadang pula mendengar cerita tentang seorang ikhwah yang menyeberang ke wajihah lain, masih mending jika wajihah tersebut adalah wajihah ke-Islaman, apapun harakahnya, namun sangat miris ketika mendengar bahwa wajihah tersebut adalah wajihah sekuler, dan akhirnya mau tak mau akal ini mencoba dipaksakan untuk merangkai-rangkai alasan husnudzan terhadap ikhwah tersebut.

Ada pula kabar-kabar tentang seorang al akh yang memang selama ini dikenal kritis, namun kekritisan beliau justru menjadi senjata makan tuan. Kabar terakhir yang aku dengar, beliau sudah tak mau lagi liqo’, bahkan tak sekedar itu, kini ia menjadi sebuah gerakan yang dibilang kontradiktif terhadap dakwah di fakultasnya.

Ada pula dulu seorang al akh pula yang sangat disegani bahkan oleh seluruh ikhwah kampus, namun karena masalah wanita, beliau justru berbalik drastis terhadap apa yang beliau bela selama ini. Karya terakhir beliau untuk dakwah justru menjelek-jelekkan sebuah organisasi dakwah, masya Allah… untung saja setelah itu tak ada lagi kasus lagi dari beliau.

Ada pula… ah jika hendak aku list satu persatu… rasanya tak akan cukup… Dan sepertinya masih ada banyak lagi kisah-kisah orang yang aku kenal yang terhenti dari jalan lurus ini. Tak peduli apapun levelnya, dari yang masih baru belajar, hingga yang sudah semacam panglima dalam pergerakan dakwah. Apa yang tertulis diatas hanya sekelumit penggalan-penggalan cerita, dari sekian banyak kisah yang Allah tunjukkan kepadaku. Bersyukurlah apabila orang-orang tersebut sempat kembali lagi ke dalam jalan yang benar… :( orang-orang seperti ini harus kita sambut dengan sebaik-baiknya, bukan justru kita musuhi dan kita asingkan selama-lamanya…

Saat ini orang-orang dan pemuda seperti aku masih bisa meneriakkan, “lebih baik terasing daripada menyerah dalam kemunafikan”, namun sungguh aku pun tak akan bisa menjamin.. akankah kelak aku seperti ini???  ketika mulai bersentuhan dengan strata sosial yang lebih luas, berbenturan dengan masalah-masalah pekerjaan dan nafkah, masyarakat, dll.

Mengutip status seorang sahabat, “untuk pertama kalinya ada importir bilang,”ini pak sebagai ucapan terima kasih, karena saya sudah menyita waktu bapak.” akhirnya godaan itu datang juga, Alhamdulillah bisa nolak”. Masya Allah, batinku, ini tahun pertama beliau sudah seperti itu, apalagi di tahun-tahun kedepan… boleh jadi akan makin berat godaannya. Syukurlah sahabatku masih bisa mempertahankan prinsip2 idealismenya… dibandingkan dengan ribuan bahkan jutaan lain masyarakat di seluruh belahan bumi yang memilih mengorbankan idealisme, harga diri,kehormatan, bahkan aqidahnya untuk secuil dunia yang tak akan menyelamatkannya di akhirat kelak…

Ya Allah, akankah masih Idealisme ini, prinsip-prinsip, idealisme, bahkan aqidah ini akan tetap ada dalam hatiku?? tahun depan? 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? 25 tahun lagi? Berikan hamba kekuatan ya Allah…

Dan semakin aku pikirkan, semakin takutlah aku…
Pada akhirnya aku hanya bisa berdoa… “ya muqollibal quluub, tsabit qolbi ‘ala diinika”, Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar senantiasa pada agama-Mu.

Malang, 11 Januari 2010 00:30 dini hari


Mimpi yang Terwariskan.. ISMIC

1009222169013894604s425x425q85Malam mungkin belum terlalu larut bagiku, masih pukul 21.30.. Namun mata sudah mulai sulit diajak kompromi.. namun bagaimana lagi.. harus tetap terbangun. Sambil menunggu download-an software OpenERP untuk bahan pertimbangan terkait calon sebuah project..

Malam ini memang aku harus mempelajari keseluruhan software Open SOurce ERP untuk dikustomisasi sesuai dengan kebutuhan calon customer kami. Saat ini sedang mendownload Open ERP (www.openerp.com). Bagi Anda yang tak tahu tentang apa itu ERP (terlebih jika Anda orang ilkomp), silakan buka WIkipedia.. :D

Setidaknya.. sudah 87% ketika paragraf ini ditulis, sambil menunggu download, aku pun menyiapkan bahan-bahan untuk wawancara calon karyawan MySoftory besok sore. Aku tidak mencari bahan apa yang akan ditanyakan, karena itu sudah saya dan adib lakukan pagi tadi. Yang aku lakukan hanya sekedar berburu data tentang orang-orang yang sedang mendaftar menjadi calon karyawan kami.

Satu persatu nama lengkap mereka pun aku Googling. Ada yang membuahkan hasil (kebanyakan). Mulai dari profil friendster, facebook, dan bahkan komentar-komentar pun aku telusuri. Sekedar ingin tahu, seperti apa track record dan karakter orang yang akan saya wawancarai ini. jangan sampai besok wawancara.. saya tak punya bahan. repot nantinya..

Calon karyawan yang aku temukan blognya.. langsung saja aku telusuri. Diantara kesekian blog… ada satu tulisan yang bagiku cukup membuatku ber-nostalgia… mengembalikan memory memory masa lalu yang semakin tertutup oleh debu-debu kesibukan saat ini.

Ada sebuah tulisan milik dik Betha Nurina sari, mahasiswi ilkomp 2007 yang juga menjadi anggota Forkalam. Ada sebuah tulisan yang membuatku.. Buuz… antara kagum dan sekaligus bangga. Tulisan sederhana bagiku. Tentang ISMIC.. sebuah program acara perkuliahan terkait materi-materi kepenulisan.

Dan aku pun jadi teringat masa-masa perjuangan di LSO Penerbitan..
bagaimana kami waktu itu.. Saya, Akh Furqon, ukhti Ambi, ukhti Ivon (Allahu yarham), dan Ukhti Lita begitu semangatnya membangun nuansa media cetak islami di fakultas MIPA kami…

Ah.. saya tak ingin berkomentar banyak.. saya hanya excited membaca tulisan itu… serangkai cahaya melintas di memoriku. Teringat akan orang-orang hebat saat itu. Bagaimana hanya dengan Sumber daya 5 orang tersebut mampu meng-create acara untuk sekelas Universitas. ya.. hanya 5 orang..!! Ya ISMIC itu acaranya.. Ah,,. kangen aku… bagaimana kami saat itu berkomitmen untuk “menyaingi” pers fakultas yang agak sekuler.

Ah.. ya.. saya hanya ingin berkata.. saya Excited… bahwa setelah ke-vakum-an LSO Penerbitan.. yang menjadi ujung tombak dakwah media di fakultas MIPA.. bahwa.. masih ada yang mewarisi mimpi kami. Mimpi untuk terus mendidik generasi muslim untuk menulis. Menulis untuk ummat yang lebih baik… Untuk tegaknya Islam di bumi ini… :)

Malang.. 26 April 2009
Ketika download sudah 100%

Siapkah Kalian menjadi Istri-istrinya?

Siapkah Kalian menjadi Istri-istrinya?

Ada hal menarik dalam pemilu 2009 kemarin yang membuat saya akhirnya menuangkan dalam tulisan ini. Hal itu adalah tentang para istri.

Momen tersebut, adalah momen dimana untuk pertama kalinya, aku harus meninggalkan istri selama beberapa hari. Waktu itu aku ditugaskan sebagai tim data entry PKS dapil 7 Kabupaten Malang. (dau, wagir, karangploso, pujon, ngantang, kasembon). Tugas dan amanah membuatku selama 3 malam berturut-turut tidak bias pulang ke rumah. Sementara istri di rumah, tak ada siapa-siapa di rumah. Hanya istri seorang, sebatangkara, sendirian.. Bisa kau bayangkan betapa kesepian istriku waktu itu. Sampai-sampai ada seorang al akh  yang menyampaikan.. “Ini lho, akh sahid itu, apa gak kasihan ninggalin istri berapa hari?” begitu ujarnya kurang lebih. Aku hanya tersenyum saja waktu itu. Setelah 3 malam berturut-turut, akhirnya malam senin aku pulang. Sampai rumah sudah jam 1 atau 2 pagi. Namun keesokan harinya (senin jam 6) aku pun tak bisa menemani istri lagi seharian, karena pagi itu juga, aku harus menemani seorang ikhwan mengambil data ke daerah Kasembon. Seharian, baru pulang sampai rumah, malam hari. Keesokan harinya tak jauh berbeda, Rabu ketika harusnya sudah agak senggang ternyata tidak. Aku hari itu harus ke Surabaya, bertemu dengan pak Ho CHing dari Global IT Mart, calon klien baru MySoftory. Pulang dari Surabaya malam, sekitar jam 8-an. Ketika hendak istirahat, eh tiba-tiba saja ada panggilan dari coordinator tim survey.. “AKh antum ditunggu di DPD malam ini, usahakan dating maks jam 22.00 Urgent dan Mendesak!” langsung malam itu juga meluncur ke DPD. Ternyata dari DPD kami langsung di “culik” ke Kabupaten Blitar malam itu juga (tak sempat pulang, beritahu istri pun lewat sms). DI Blitar sampai keesokan siang harinya. Allahu Akbar!!!. Akhirnya siang itu juga aku pun bisa pulang ke rumah. Sebelumnya mampir dulu beli susu coklat ultramilk untuk istriku, dan multivitamin untuk diriku. Sampai dirumah… aku pun langsung.. tepar alias KO… Wajah istri yang suntuk plus ngambek, karena sepekan tak dapat perhatian, aku tinggalkan tak bisa mengalahkan rasa KO-ku. Langsung siang itu juga aku tertidur, baru bangun malam harinya. Fiuh… akhirnya…

Aku tak ingin cerita tentang aktivitasku… Aku hanya ingin cerita tentang bagaimana istriku, selama sepekan itu dia harus mau tak mau, sangat sedikit mendapat perhatianku. Selama sepekan itu, ke”tersediaan”ku di rumah per harinya kalau bisa di rata-rata mungkin hanya 3 atau 4 jam saja. Itu pun di siang hari, dan itu pun kalau tidak tidur, ya sedang mengerjakan tugas di laptop. Jika anda adalah pasangan baru menikah, mungkin pernah merasakan bagaimana ngambek nya istri Anda… namun yah memang begitulah…. Kalau bahasanya ustadz Rahmat Abdullah (allahu yarham) keluarga itu terkadang ujian.. ada istri ngambek ketika kau berangkat untuk suatu tugas dakwah, itu adalah ujian bagimu. Mana yang akan kau prioritaskan..??

Ngomong-ngomong tentang meninggalkan istri, ternyata ada banyak kisah yang –boleh dikatakan- lebih waah dari apa yang saya lakukan sepekan itu. Setidaknya selama sepekan tersebut, tidak terjadi apa-apa. Dalam artian, istri hanya beraktifitas normal seperti biasa. Tak ada hal luar biasa. Ada yang membuat saya kagum, sekaligus segan terhadap apa yang diceritakan oleh akh Dicky UMM . Sebut saja namanya, pak Andreas, salah satu penanggung jawab PKS di kecamatan Kasembon. Akh Dicky menceritakan, bahwa pernah suatu ketika, istrinya dari pak Andreas ini tengah melahirkan. Tapi  suaminya, pak Andreas, bukannya seharusnya berada di samping istrinya, menemani momen-momen berharga yang bisa jadi momen terakhir buat sang ibu atau anaknya.. Justru berada puluhan kilometer jauhnya, sedang aktifitas di Kasembon bersama akh Dicky. Sepulang dari kasembon – pun… di perjalanan beliau sempat mampir, ngobrol dengan salah seorang warga… dan ngobrol nya pun lama… bukan tampak sebentar karena tergesa pulang….

Kasus ana dan pak Andreas agaknya belum ada apa-apanya… ketika beberapa hari lalu ana bertemu dengan Ustadz Dwi Aprianto.. jadi teringat salah satu cerita beliau, ketika suatu waktu sedang terjadi sebuah kasus (ana lupa apa, Tsunami aceh atau apa). Panggilan dakwah ke luar pulau. Ustadz Dwi Pulang, kemudian berkata kepada istrinya, “Umi.. ana mau berangkat ke kota X hari ini, aku nggak meminta ijinmu, aku hanya memberitahu”. Jika ditinggalkan dengan kejelasan, semisal mau pulang kapan, atau dengan biaya / uang melimpah itu sih wajar. Namun ketika beliau meninggalkan, sudah tak jelas pulangnya kapan, bisa sepekan, dua pecan, atau bahkan dalam hitungan sebulan, sudah begitu, uang belanja pun tinggal sedikit. Bisa bayangkan jika dirimu adalah istri itu…?

Namun agaknya kisah ustadz Dwi, dan istrinya barangkali masih kalah heroik dengan kisah berikut. Beberapa waktu lalu saya membeli majalah Hidayatullah bekas, terbitan tahun 2005. Lumayan masih bagus isinya. Disitu disebutkan kisah tentang seorang ketua DPRD II Kabupaten di daerah sumatera dari PKS. Beliau menceritakan jaman-jaman perjuangannya, dimana sering karena aktifitas dakwahnya di Hidayatullah, membuat dia bertemu keluarga hanya 2 bulan sekali.

Ah rasanya, kisah-kisah diatas, mungkin tak ada apa-apanya jika kami dan kalian para istri, dibandingkan dengan para wanita-wanita HAMAS. Begitu kau menjadi istri seorang HAMAS, setiap hari kau harus siap untuk menjadi seorang janda dari suamimu. Bisa bayangkan rasanya, suami yang kau cintai, pergi di suatu malam karena suatu panggilan, lalu yang pulang ternyata seorang temannya yang memberitahu bahwa suamimu kini telah Syahid melawan Israel? Atau ketika kau tahu bahwa suamimu yang sangat kau cintai, kini harus berangkat dan kau tahu, sangat tahu bahwa ia tak akan kembali kecuali dalam keadaan Syahid?

Ah.. wahai para istri dan calon istri..
Aku tahu bahwa banyak orang yang mendamba bersuamikan seorang yang shaleh, aktivis dakwah, bla bla bla dan seterusnya.. Bersuamikan seorang ikhwan… dengan jenggot tipisnya, dengan jidat hitamnya, dengan ucapan-ucapannya yang berbobot.

Namun sebuah pertanyaan besar harus kami sematkan kepada kalian… Siapkah kalian dengan resikonya? Mampukah kalian menjadi istri orang-orang diatas?

Manakah dirimu? Apakah kalian adalah wanita-wanita Madinah yang justru berkata kepada suaminya…
”Pergilah berperang, dan jangan pikirkan kami.. ”, atau ketika diprovokasi wanita munafik, ”Siapa yang akan memberi kalian nafkah untuk makan”, wanita-wanita madinah justru menjawab, ”Yang pergi itu tukang makan, mereka mengurangi jatah ku memberi makan!”.ketika suaminya tak pulang mereka Tegar, dan ketika suaminya pulang, mereka menyambut suami mereka dengan sebaik-baik riasan?
atau justru istri-istri yang melepas kepergian dakwah dan jihad suami dengan wajah mendung berawan, membuat hati berat setiap suami yang ingin berjihad…
Lalu ketika suami pulang, wajah mendung itu kini justru membadai, membuat setiap suami justru semakin malas untuk pulang, karena untuk apa pulang jika di rumah tiada sakinah?

Ah… jadi teringat satu momen dalam sebuah kajian, seorang ustadz menyampaikan sebuah ayat… At taubah 38 . Semoga istri-istri kita, bukanlah istri-istri yang membuat kita disebut dalam ayat ini…
”Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.”

Wahai para istri dan calon istri.. siapkah kalian? Anda yang paling tahu jawabannya….
Dan tidak ada kata terlambat untuk berbenah diri… Jika tidak.. silahkan berbalik dan cari suami versi-mu yang ”biasa”….

Ya Allah… ringankanlah hati ini untuk melangkah di jalanMu…
Astaghfirullahaladzim..
Astaghfirullahaladzim..
Astaghfirullahaladzim..

Malang.. jam 6 pagi..
21 April 2009