Archive for the Category »Embun Tausyiah «

Nilai Kejujuran

mencontekAda satu episode di masa SMA saya yang paling saya ingat sampai sekarang, sekaligus paling saya sesalkan. Ini episode terpenting di masa-masa SMA saya. Episode tersebut adalah ketika saya (bersama seluruh teman lainnya) beramai-ramai,contek-mencontek dalam sebuah momen ujian. Bisa kita usulkan ke kamus besar bahasa indonesia, -comal- mencontek masal.

Pada saat itu memang satu-satunya episode mencontek yang “dilegalkan” dan “diinstruksikan” (dengan tanda kutip besar) di daerah kami,  tapi sebagai akibatnya, kini saya amat sangat menyesal. Bahkan atas nilai hasil ujian yang didapat tersebut pun, sungguh tak ada satupun rasa bangga saya disana. Terlebih jika ingat bahwa itu adalah satu-satunya episode SMA dimana saya mencontek, setelah selama tiga tahun lamanya saya bertahan dalam sebuah komitmen untuk tidak mencontek selama ujian!

Pasca momen tersebut (yang hanya sekali), saya benar-benar sangat menyesal, dan sebagai imbasnya, saya tak pernah lagi kompromi soal contek mencontek. Dan selama kuliah, Alhamdulillah tak sekalipun saya mencontek ketika ujian. Saya lebih memilih mendapat nilai jelek tapi itu hasil kerja sendiri, daripada nilai bagus hasil mencontek. Jadilah saya orang yang memilih “walkout” dini ketika ujian karena memang tidak bisa mengerjakan, dan terkadang juga memilih  ”tinggal kelas” sebagai peserta ujian yang terakhir keluar karena lambat memikirkan sendiri jawaban ujian.

Saya pun bersyukur, bahwa saya ternyata tidak sendirian. Dahulu ketika SD adakalanya ketika tidak mau memberi contekan, saya sering diancam ini itu oleh beberapa “jagoan” kelas. Ketika SMA,  syukurlah sudah tak ada lagi hal-hal tersebut. Alhamdulillah meski ketika SMA sampai kuliah, ada teman yang “berkompromi” saat ujian, namun ketika saya tidak mau macam-macam seperti itu, Alhamdulillah mereka mengerti.

dan Saya memang  tak pernah peduli jika dibilang pelit, sok suci, atau semacamnya, integritas memang bernilai mahal bagi yang memilikinya”

Di kuliah, Alhamdulillah saya dipertemukan pula dengan orang-orang yang serupa. Orang-orang yang tak mau berkompromi, baik mencontek ataupun dicontek. Di kelas saya memiliki sahabat dekat (Adib) yang memiliki prinsip yang sama, di organisasi pun saya memiliki sahabat-sahabat yang semua berprinsip untuk tidak mencontek, ada Mahatir, mas Bayhaq, dan ikhwah-ikhwah lain tentunya. Meskipun memang ada  pula dari teman-teman kuliah lain yang adakalanya “berkompromi” saat kondisi memungkinkan.

Dan Alhamdulillah pula, ketika kini Allah pun mempertemukan saya dengan seorang istri yang sejak dulu memiliki prinsip sama pula. Anti mencontek. Lebih baik jelek hasil sendiri, daripada bagus hasil mencontek. Mertua saya pernah bercerita, bahwa istri saya ini pernah ikut sebuah seleksi pra Olimpiade sains, ketika seleksi tersebut, teman-temannya banyak yang mencontek. Istri saya ini memilih tidak mencontek. Hasilnya bisa ditebak memang, istri saya tidak lolos sedangkan teman-temannya yang mencontek, justru lolos seleksi pra olimpiade sains. Namun bukannya sedih, Istri saya waktu itu justru  berkata begini,”kasihan orang tuanya, dibohongi oleh anaknya sendiri” (maksudnya kasihan orang tuanya, bangga pada prestasi anaknya, padahal prestasi tersebut hasil mencontek/curang).

Klik untuk melihat berita

Klik gambar untuk melihat berita (Guru Nyontek Saat Ujian di Universitas Terbuka)

Ah, terus terang saja, agaknya memang “mencontek” adalah penyakit pelajar sekarang ini. Ketika SD ada teman-teman saya yang mencontek, ketika SMP, ternyata banyak juga yang mencontek, di SMA, bahkan di kuliah pun sama saja. Saya katakan pelajar, karena penyakit ini menjangkit tak hanya kalangan anak SD-mahasiswa, bahkan guru-guru yang seharusnya memberi contoh yang baik, justru ada yang mencontek ketika mereka ujian. Agaknya contek-mencontek sudah menjadi “budaya wajib” setiap pelajar yang ingin mendapat nilai bagus, tak peduli ia pelajar pintar ataupun bodoh.

Yang “tak terlalu pintar” mencontek karena ingin mendapat nilai bagus, yang pintar mencontek pula karena khawatir nilainya kalah dengan yang “tak terlalu pintar”.

Asal pengawas lengah, pengawas tak lihat, pengawas tak tahu, maka menconteklah untuk mendapat hasil “maksimal”. Beragam cara pun digunakan, yang sederhana melihat teman sebangku. Kalau “si pintar” agak jauh, dibukalah permainan lempar bola kertas. Ketika muncul teknologi Handphone, sms saja jawabannya. Kalau kondisi lebih memungkinkan, “mengukir meja”, buka buku, buat catatan-catatan kecil, dan semacamnya.

Maka menjadi sebuah peraturan tak tertulis dibenak setiap pelajar, -mengutip kata seorang guru saya- “Boleh mencontek asal tidak ketahuan“.

Tapi tak urung, urusan contek mencontek ini memang membuat saya paling miris. Saya terkadang membayangkan, apakah orang-orang besar dahulu semacam Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, Soekarno, Natsir, Hatta dll apa mereka pernah mencontek ya ketika ujian? wallahu alam… :(

“Ah, jangan heran jika di Indonesia banyak koruptor, kalau kecilnya di sekolah kita sudah terlatih untuk ‘korupsi’ ketika ujian.”

Bagi saya, ini “wajar” terjadi karena sejak kecil kita diajarkan untuk lebih ber-orientasi pada nilai akhir, kita di’tuntut’ untuk mendapatkan prestasi, sementara prestasi identik dengan nilai ujian, dengan nilai rapot. sementara nilai-nilai proses “mendapatkan nilai” lebih banyak dikesampingkan.

Saya yakin tak banyak orang tua (dan bahkan guru) yang mengajarkan kepada anaknya “tak mengapa kamu dapat nilai jelek tapi itu hasilmu sendiri, daripada nilai bagus hasil mencontek”. Yang sering adalah nilai jelek dimarahi, nilai bagus dipuji. Atau tak jarang pula ada orang tua yang tak perhatian pada sekolah anaknya, sehingga “nilai bagus” pun dijadikan si anak untuk mendapat perhatian dan pujian ayah bundanya, dan tak ada cara instan mendapat nilai bagus selain dari mencontek. Saya katakan TAK BANYAK, namun bukan berarti tak ada. Semoga saja Anda pembaca memiliki orang tua, atau menjadi orang tua yang “tak banyak” tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya kesadaran keimanan pelajar kita saat ini. Di sekolah kita lebih diajarkan menjadi orang yang tahu ilmu agama, daripada menjadi orang yang beragama dengan sebenarnya. Di sekolah umum, kita hanya mendapatkan pelajaran agama sekali setiap pekan, itupun tak banyak yang mengena esensinya. Di kuliah tambah parah, untuk universitas umum seperti di kampus saya, pelajaran agama hanya satu semester selama total masa studi. Andai tak ada program-program keislaman macam mentoring, rohis, dan semacamya, tentu makin rusak saja akhlak pelajar kita nanti.

“Kalau seseorang itu benar-benar keimanannya, tak mungkin ia mencontek meski tak ada pengawas ujian, karena ia selalu yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi “

Jangan terlalu berharap pada pelajaran macam PPKn, budi pekerti, dan semacamnya. Bagi saya, tetap kesadaran akan “Yang Maha Mengawasi”, tetap yang paling dibutuhkan. Orang yang memiliki integritas sekuat apapun, tetap saja rawan kompromi. Bagi saya, Integritas sebenarnya dihasilkan dari keimanan yang sebenarnya pula. Integritas yang tak didasari keimanan, adalah integritas yang rapuh, yang rawan kompromi di kemudian hari. Saya jadi ingat beberapa hari yang lalu ketika saya dan rekan-rekan rohis lainnya ujian Tatsqif, tak ada satupun yang contek mencontek meski pengawas sering keluar.

Agaknya tak hanya saya yang bermasalah dengan urusan contek mencontek. Beberapa hari yang lalu istri saya ‘mengadu’ kepada saya. Pasalnya dalam sebuah UAS yang ia ikuti, di sebuah mata kuliah yang terbilang sulit, petugas penjaganya justru keluar ruangan, dan menutup pintu. Alhasil bisa ditebak, seluruh teman-temannya mencontek semua. Hanya istri saya saja yang tetap komitmen tidak mencontek, dan istri saya tidak bisa mengerjakan soal tersebut. Beliau mengadu sambil sangat khawatir, bagaimana kalau-kalau nilainya jelek, mengingat tentulah semua temannya akan mendapat nilai ujian yang bagus. Beberapa hari kemudian beliau lagi-lagi ‘mengadu’, mengingat beliau harus menambah semester untuk mengulang mata kuliah yang kurang bagus. Dan beliau khawatir bahwa ia tak punya teman di semester-semester akhirnya. Dan kini beliau pun seolah ‘protes’ mengingat selama ini teman-temannya banyak yang mencontek, sehingga dapat nilai bagus, sehingga pula tak perlu mengulang mata-mata kuliah sulit di semester depannya.

Setelah saya dengarkan, saya sampaikan kepadanya sebuah peneguhan singkat, bahwa untuk apa iri kepada orang mencontek? Mereka menipu orang tua mereka, memberikan hasil seolah-olah anaknya pintar, padahal sama sekali tidak. Mereka pun menipu orang-orang sekitar, dengan nilai bagus seolah menjadi orang pintar, padahal “pintar” hasil mencontek. Dan yang paling parah, Mereka sebenarnya menipu diri mereka sendiri.Bahkan yang paling saya khawatirkan, bahwa nilai-nilai yang mereka dapatkan dari hasil mencontek tersebut, tak akan barakah sama sekali :( Ah, saya bangga dengan komitmen istri saya untuk tidak mencontek.

Ngomong-ngomong, soal contek mencontek, saya paling ingat jaman-jaman jahiliah saya ketika SMP. Waktu itu kalau tak salah saya kelas 3 SMP (ini masih masa jahiliah saya sebelum berubah seperti sekarang). Waktu itu saya masih ingat benar, di pelajaran Agama, ketika guru memberikan ujian, guru tersebut selalu meninggalkan ruang kelas setelah memberikan soalnya. Alhasil, semua anak langsung mencontek. Mengingat waktu itu, soal yang diberikan si guru memang membutuhkan jawaban yang berpanjang-panjang. Sepintar apapun anaknya, rasanya mustahil menjawab semuanya, karena ya itu, jawabannya sangat banyak. Saya pun termasuk dalam orang-orang yang mencontek waktu itu, mengingat ya memang itu masa-masa jahiliah saya, saat belum mengenal Islam seperti sekarang. Ketika itu, saya ingat benar, ada seorang dari teman saya (insya Allah namanya Maher) yang tidak mencontek sama sekali. Saya hafal betul, bahwa setiap ujian agama, setiap si guru meninggalkan kami, dan setiap seluruh kelas membuka buku (mencontek), hanya beliau yang berkomitmen untuk tidak membuka buku. Alhasil, ketika seluruh dari kami sudah selesai mengerjakan (karena memang hanya menyalin dari buku), kawan saya ini paling akhir mengumpulkannya. Dan ketika dibagikan nilai hasil ujian, sering beliau mendapat nilai yang dibawah rata-rata. Tapi satu hal yang saya ingat betul, tak ada rasa iri  ataupun benci kepada kami, maupun rasa sesal di wajahnya. Ah, memang kejujuran dan integritas adakalanya berasa pahit, tapi yang pahit itu selalu membawa senyum dan kebanggaan bagi pemegangnya. Alhamdulillah ketika SMA saya tersentuh oleh Islam, mulai ikut rohis dan macam-macam, dan saya pun komitmen untuk tidak lagi mencontek.

Kini saya yakin bahwa orang tua (mungkin) hanya melihat hasil nilai ujian kita,tapi saya yakin bahwa Allah lebih melihat nilai kejujuran kita ketika ujian. Tinggal pertanyaannya, lebih takut kepada Allah ataukah lebih takut kepada manusia kah kita??

Jadi Masihkah Anda (berani) mencontek??

Malang, 30 Juni 2010
(image from : http://siteruterubozu.wordpress.com)
Database Catatan Amal Manusia

us_citizensKita sebagai muslim tentu tahu dan wajib meyakini bahwa kelak, di yaumil hisab, kita akan dihadapkan dengan seluruh catatan amal kita. tentang bagaimana Allah kelak akan menampilkan kembali masing-masing perjalanan hidup kita di dunia, baik yang buruk, maupun yang baik. 

sudahkah saya bilang “seluruhnya” tadi?

Yups, ini artinya catatan amal kita, seluruh yang mulai dicatat ketika kita akil baligh, hingga ketika buku catatan amal ditutup saat kita menghembuskan nafas terakhir kita.  

Barangkali ini hanya pikiran konyol yang terbersit dahulu ketika saya masih kecil. Sederhana, seperti apakah kira-kira bentuk catatan amal kita?  
Tak cukup disitu, bahkan dahulu saya sempat berpikir, alangkah tebalnya jika catatan amal perbuatan manusia itu disusun. Berisi jurnal-jurnal catatan amal baik dan buruknya. alangkah tebal tentu. Jika semisal untuk mencatat satu orang, dalam satu bulan habis satu buku, maka berapa banyak dan tebalnya buku yang dibutuhkan untuk merekam jejak orang tersebut selama hidupnya?.
Bisa-bisa satu orang habis buku sebanyak buku perpustakaan nasional kita. Lantas bagaimana dengan 6 milyar manusia yang hidup sekarang? ditambah lagi milyaran manusia yang sudah meninggal dahulu, dan sekian milyar lagi yang belum dilahirkan. Seperti apakah itu semua dikelola??

Alangkah besarnya tentu? bagaimana pula mengelolanya catatan amal tersebut? bagaimana agar tidak bisa tertukar bagi seseorang yang namanya sama persis dan umurnya sama persis? Bagaimana mengurutkannya? mencari data tertentu dengan cepat? dst dst 

Belum lagi jika kemudian diceritakan, bahwa kelak kita akan disajikan, semacam slideshow/film rekaman perjalanan hidup kita. Dari yang baik-baik ketika kita belajar ngaji, sampai semisal ngerasanin orang, naudzubillah.. :(  

Wow, seperti apa caranya? alangkah besarnya storagenya tentu? bagaimana Allah mengelola semua itu?? Saya pun membayangkan… bahwa bisa jadi orang-orang di jaman dahulu pun sempat terbersit pikiran serupa.

Hingga saya akhirnya dewasa, dan kini saya pun tahu cara menjawabnya…. setidaknya… hal-hal yang disampaikan sang rasul kita 14 abad yang lalu, kini -bagi kita manusia modern- bukan hal yang impossible lagi.

Untuk bisa memhami, maka kita sedikit flashback. semenjak manusia memasuki era sejarah, disitulah manusia mulai menulis. Mencatat apa saja hal-hal yang bisa dicatat. Maka kita pun tahu, ada prasasti. Beranjak ke peradaban lebih maju, manusia pun semakin banyak menulis. menulis di daun papyrus, di kulit binatang, lembaran kayu, pelepah kurma, dlsb. Maka manusia pun menulis dimana saja. Hingga kita temukan kertas. Dan kita lihat pula seiring bertambahnya jaman, media untuk menulis pun semakin lama semakin singkat. Jika dahulunya untuk menulis sekian kata ditulis di sebuah batu besar, maka lambat laun ada kertas dan pena yang bisa kita tulisi ratusan ribu kata menjadi sebuah buku tipis. 

Dan di abad 20 mulai bergeserlah kertas menjadi data-data magnetik. Selamat datang era komputer! Yups buku-buku yang tebal-tebal, kitab-kitab para ulama salafush shaleh yang tebal-tebal tersebut, kini bisa kita kantongi dengan mudah di celana kita bak mengantongi permen. Dulu ada disket, sekarang bahkan bisa kita telan itu semua dalam sebuah flashdisk yang sangat kecil… :D  Selamat tinggal Ensiklopedia Britanica yang super tebal dan berjilid-jilid itu, kini hadirlah Encarta dalam bentuk kepingan CD. tak hanya kata dan gambar, tapi bahkan ada suara dan videonya pula. Pendek kata… makin kecil cara kita menyimpan data… :)  

Kita pun mengenal pula teknologi database, yang membuat pencarian, pengurutan, pengklasifikasian data menjadi jauh lebih mudah. Kalau dulu untuk mencari data seseorang di sebuah sekolahan, kita harus membongkar lemari-lemari tua,dan butuh waktu berjam-jam (berhari-hari kalau itu sekolah lama), maka kini tinggal mengetikkan beberapa kata, Enter, dalam sepersekian detik tampillah sudah di monitor kita. Sangat mudah, sangat Cepat.. :)  

Video pun bukan lagi hal yang rumit. Dulu satu jam video harus kita saksikan dalam satu kaset besar. Lalu berpindah ke kaset kecil, ada mini DV. lalu pindah dalam bentuk kepingan, masih besar, di laser disc. Bergeser lagi ke VCD yang lebih kecil. Hingga kini ada teknologi DVD beserta variannya yang makin besar saja kapasitasnya.

Ukuran file yang dulu begitu besar, satu film butuh storage besar, kini makin kecil saja. Jika dulu satu film kita tonton dalam 2 keping CD, berkat teknologi kompresi, kini bisa kita nikmati dalam satu CD saja, dan seiring teknologi kompresi lainnya (semisal MKV) maka makin dan makin kecil saja ukuran film-film kita. 

Pengelolaannya pun tak lagi susah, contoh sederhana, lihatlah youtube. Tinggal beberapa klik, ditemukanlah video yang kt cari.

Dan pada akhirnya perlu diingat, bahwa ini semua hanyalah teknologi manusia saat ini. Masih jauh terbuka ruang luas dalam hal penyimpanan dan manajemen data. Sekali lagi, ini hanya ilmunya manusia, setitik kecil debu dalam padang pasir jagad semesta. 

Subhanallah…. 
Tentu ilmu Allah jauh daripada sekedar ilmu-ilmu manusia. jauh, jauh, dan sungguh lebih jauh lagi….. Yang jika diibaratkan dalam sebuah hadits, jika kita mencelupkan tangan di samudera, kemudian kita angkat, maka air yang menempel di jari-jari kita itu adalah ilmu manusia (termasuk einstein, hawking, planck, dan profesor2 seluruh dunia lainnya). Adapun ilmu Allah, itulah air di samudera luas. Allahu Akbar… betapa kecil ilmu kita… :(

Maka, jika menciptakan kita -manusia- yang serumit ini, beserta alam semesta dan seisinya saja Allah mampu, kenapa tidak dengan menyimpan dan memanage data amalan seluruh manusia? Bukankah Allah maha kuasa atas segala sesuatu?

Manusialah yang teramat lemah… lemah dan lemah….. 

Dari sebuah prasasti seberat seekor sapi, hingga tersusun lembaran kertas-kertas rapi, lalu menjadi seukuran mikrochip sebesar kuku jari… betapa cepat laju penyimpanan data yang dikembangkan manusia. 

Dan sesungguhya saya yakin, bahwa database Allah tentu jauh, jauh, dan jauh lebih canggih daripada database server, dan mesin2 tercanggih yang dikenal manusia sekarang ini. Ah cukup sampai disini, tak perlu saya berpikir lebih jauh lagi tentang bagaimana Allah mencatat dan menyimpan semuanya. Itu semua ilmu Allah yang tak terjangkau oleh manusia. Saya hanya bisa mengembangkan apa yang didepan saya, untuk satu langkah lebih maju langgi dalam teknologi ini.

Ah ya, Akhirnya kita bisa memahami yang Maha besar, dari hal-hal kecil di sekitar kita.. 

Subhanallah… Allahu Akbar… semakin saya belajar di dunia IT ini, maka semakin mudah pula rasanya memahami keagungan dan kemaha besar-an Allah SWT. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah jika Allah berkehendak. 

Malang 9 Maret 2009

Dokter Lima Ribuan

“Satu Menit Tiga Detik….!!!”

stetoscopeTanya saja pada orang-orang di kota Ponorogo, dari kaum menengah ke bawah hingga jajaran top Pemerintah Daerah tentang sosok ini. Dokter Sunarno namanya, bisa dibilang mulai dari tukang becak, tukang ojek, pegawai negeri, pedagang sayur, guru bantu, hingga mahasiswa pun akan tahu dengan sosok satu ini. Dokter lima ribuan, begitulah ia lebih sering dikenal.

Konon dokter yang lumayan agamis ini dikenal karena tangan dinginnya dalam menangani pasien-pasiennya.

Yen mboten mriki, mboten sumerap bu, ten mriki kulo sampun cocok*”, ujar salah seorang ibu tua kepada ibu saya. Bahkan karena rumahnya bersebelahan dengan pemakaman umum, sering ia jadi bahan candaan ibu-ibu, “Itu dokter apa dukun ya, kok manjur banget.”

Namun bukan itu intinya, beliau menerapkan tarif flat alias tetap, semua sama 5000 perak. Dengan uang hanya segitu, apalagi di masa ekonomi masih belum benar-benar pulih, membuat Dr. Narno betul-betul menjadi jujugan orang kecil yang sedang sakit. Kalaupun ada biaya tambahan, itu biasanya hanya bagi mereka yang pengin suntik. “sekedar ongkos ganti jarum suntiknya” begitu kata mereka.

Dengan hanya berbekal lima ribu, mereka sudah mendapat obat satu pak kecil, entah obat apa, karena konon obat-obat tersebut sudah disiapkan sebelum pak Dokter menerima pasiennya. Begitu pasien datang, mereka ditanya sakitnya apa, lalu tinggal dikasih obatnya, ataupun kalau tambah suntik, ya tinggal tambah ongkos jarum suntuik. Meski terkesan aneh karena seperti tak ubahnya toko obat, namun akhirnya bisa dimaklumi memang karena yang datang umumnya orang-orang kecil dengan penyakit khas orang kecil, pusing, diare, batuk, pilek, demam, dan semacamnya. Namun yang lebih aneh lagi, hanya dengan obat-obatan yang terkesan “asal” begitu, hampir semua pasiennya sembuh, dan itulah kenapa mereka sering kembali lagi apabila kelak mereka sakit. “Pengaruh sugesti”, demikian pikir saya.

“Saya sudah cocok berobat di sini, kalau nggak kesini biasanya nggak sembuh-sembuh bu, kalo kesini, satu dua hari lah kok ya sembuh..!!” tutur seorang remaja putri menambahkan.

Pada mulanya saya kurang percaya pada cerita ibu saya. Kebetulan ibu saya sudah pernah berobat sekitar 4 tahun sebelumnya. Sebagai mahasiswa apalagi masih mahasiswa baru, apalagi masih dalam kondisi kritis-kritisnya dong, atau lebih tepatnya sok kritis, atau sok mahasiswa lah.

Akhirnya mau tidak mau saya pun harus membuktikan sendiri kebenaran cerita tersebut.

Bermula dari diri saya yang jatuh sakit sewaktu pulang kampung. Saat itu masih bulan puasa, sekitar H minus 4, saya pulang. Entah kenapa di rumah saya langsung jatuh sakit, sering buang air besar, dan itu pun dalam bentuk cair, istilahnya diare. Hingga dalam sehari, terkadang saya bisa sekitar 4 hingga 5 kali, padahal sebelum pulang saya sehat wal afiat.

“Tu karena tahu mau pulang, di Malang nggak ada yang ngurusin kalo sakit, jadi sakitnya ditahan sampai Ponorogo, he..he..he.. “ seloroh kakak saya.

“Nggak, itu mungkin gara-gara kamu yang mudik malam-malam, pasti karena masuk angin saat perjalanan.”, ibu saya coba membela.

Entah apapun alasannya yang jelas akhirnya saya pun dibawa ke dokter Ani, dokter langganan keluarga kami. Namun bukan dokter Narno ini, karena kebetulan saat itu belum terpikir untuk membawa ke sana. Oleh dokter Ani, saya didakwa terkena diare, sehingga oleh dokter dianjurkan untuk tidak melanjutkan puasa hingga dirasa sembuh. Disayangkan memang, padahal sudah hampir lebaran, namun mau dikata apa lagi, saat itu badan sudah benar-benar lemas.

Sekitar dua hari kemudian, obat dari dokter Ani sudah habis, namun badan ternyata belum sembuh benar, meskipun sudah agak mendingan. Pagi itu kami kembali lagi ke dokter Ani, sekedar minta obat lagi, Namun apa dikata, di depan pagar, terpampang kertas besar seukuran A3 bertulis, “Tutup, libur lebaran, buka lagi tanggal 11 Nopember”. Rencana minta obat lagi akhirnya tidak jadi. Padahal siang itu, kami sekeluarga harus pergi ke Surabaya, mudik ke tempat nenek dan sanak saudara yang lain.

Namun untungnya, saat tiba di rumah, ibu segera ingat, “Oh iya, ke dokter Narno saja, waah kenapa nggak dari kemarin-kemarin ke dokter narno.., ayo ke sana..!!”.

Akhirnya, jadilah, pagi itu masih sekitar jam setengah enam, kami berangkat lagi ketempat praktek dokter Narno. “Ayo jangan siang-siang, ntar keburu ramai loh, moga-moga aja dokternya nggak mudik”. Dan benar saja, jam di HP masih belum menunjukkan pukul 6 namun suasana sudah ramai.

“Wah, kok sudah ramai begini mi, ntar bisa-bisa lama nih..??”, tanyaku pada ibu saat turun dari kendaraan.

“Ah tenang saja, dokter ini, kalo menangani cepat kok, nggak sampai lima menit dah selesai. Dah deh, kamu ntar pasti kaget saking cepetnya.”, Jawab ibuku yang makin membuat saya semakin penasaran

Dari perawakan, dan penampilan mereka yang datang, memang kelihatan kalau pada umumnya mereka bisa dibilang bukan dari golongan orang yang mampu. Barangkali hanya kami berdua dan seorang ibu-ibu yang berpakaian rapi di ruang tunggu. Meskipun sudah ramai, namun dokter masih belum buka juga. “Masih nyiapkan obat”, begitu kata pak tua berpeci hitam di antrian pertama.

Ruang tunggu pasien itu terkesan sederhana, sekitar 4×4 meter. Tidak ada televisi ataupun galon air minum seperti sebelum-sebelumnya saya ke dokter praktek, apalagi suster atau petugas yang mendata pasien. Hanya kursi yang berjajar melingkari ruang tersebut. Di tengah-tengahnya ada sebuah meja dengan beberapa brosur iklan dan info-info dari produk obat tertentu diatasnya. Di dinding dan jendelanya, tertempel stiker Pilkada. Ya, dokter ini juga pernah dicalonkan menjadi wakil Bupati dalam Pilkada terakhir di kota kami, namun akhirnya hanya berhasil memperoleh urutan ke 4. Kalah dengan calon yang sudah berpengalaman sebagai “Mantan lurah”, begitu kata orang-orang.

“Kalau dulu waktu mama kesini, waktu kakakmu masih SMA, disini masih lima ribuan, nggak tahu kalau sekarang sudah naik, paling sekitar 10 ribu.”, ujar ibu saya di ruang tunggu.

“Ya mi, apalagi kan BBM juga dah beberapa kali naik, obat-obatan pun juga naik tentu”, ujarku.

Sambil menunggu, ibu saya ngobrol dengan seorang pasien di sebelahnya. Sementara saya sendiri, namun karena malas bicara, apalagi masih ada sekitar 12 orang yang antri, “Lama..”, pikirku, kubaca buku yang kubawa dari rumah. Tak sampai 15 menit, pintu sudah terbuka. Rambutnya yang sudah mulai kelihatan memutih menunjukan sosok yang sudah berumur.

Bapak berpeci hitam yang tadi kemudian masuk, “Nah, ini nih, lihat saja, nggak sampai lima menit dia pasti sudah keluar”, kata ibu saya. Saya tidak terlalu  memperhatikan karena kurang begitu percaya. Ah masak sih secepat itu.

“Nah tuh kan..”, kata ibu saya. Saya langsung tertegun karena tak sampai semenit, orang tadi sudah keluar dengan sebungkus obat di tangannya. Kontan saya heran, baru pertama kali ini, saya melihat orang berobat ke dokter sedemikian cepatnya.

Dasar sok mau tahu, saya pun coba-coba menghitung, berapa lama sih waktu seorang pasien di dalam ruangan. Saat pasien ketiga masuk, Tit, saya jalankan stopwatch di HP saya. Tit, saya hentikan stop watch saat pasien tadi sudah keluar. Saya jadi tercengang melihat angka fantastis di layar HP, Satu Menit Tiga Detik…!!!!. Pasien-pasien selanjutnya semakin membuatku takjub. Hanya dua orang yang agak lama di dalam, karena pasien tersebut minta disuntik.

“Wah kalau begini nggak sampai lama bisa selesai nih..”, ujarku pada ibu. Dan benar saja, tak sampai lima belas menit kami pun sudah masuk di dalam. Di ruang praktek dokter satu ini, tangan-tangannya cekatan, Beliau memasang tensimeter, namun hanya dipompanya sebentar, saya yakin ia memang tidak mengukur tekanan darah saya. Beliau lalu memijit lenganku, sambil bertanya, “Sakitnya apa ini..??”.

“Sepertinya diare dok, kemarin sudah ke dokter lain, tapi belum sembuh. Kalau disuntik gimana dok..??”, jawab ibu saya. Mendengar kata-kata suntik, membuatku dag..dig..dug juga.

“Badannya lemes, nggak baik kalau disuntik, ini obat saja.”, Jawab dokter kontan membuat saya lega. Meski laki-laki, namun terkadang keder juga sih kalau membahas masalah satu ini.

Setelah meneyelesaikan pembayaran dan obat, kami pun keluar. Tak sampai lima menit memang, dan di luar ruang praktek, saya hampir tertawa juga. Ada juga ya, dokter seperti itu. Diagnosanya sangat simpel, bahkan menurut saya itu bukan  sebuah diagnosa. Apalagi kejadian tentang tensimeter tersebut, barangkali hanya sekedar psikologis bagi pasien bahwa dia memang benar-benar diperiksa. Apalagi psikologinya orang desa, kalau nggak begitu, belum ke dokter katanya. Ada-ada  saja.

Dokter sunarno, bagi kota kami, barangkali lebih dari sekedar dokter. Benar dugaan ibu saya, biayanya sekarang naik jadi 10.000, namun tetap saja, biaya tersebut sudah tergolong murah, disaat banyak dokter umum lain, mematok tarif mahal, Dokter praktek satu ini tetap dengan pendiriannya. Tarif inilah yang membuat dokter ini tetap laris dan disukai rakyat kecil, namun juga ini pula barangkali yang membuatnya terkadang diprotes rekan-rekan seprofesinya.

Namun tak hanya itu, ditambah tangan dinginnya, yang konon katanya maksimal 2 hari biasanya sudah sembuh. Entah benar tidaknya, namun obat dari Pak Dokter ini belum sempat saya minum, namun saya memang benar-benar sudah sembuh. Terakhir kali saya minum hanya sekali sekitar keesokan harinya di tempat nenek, di surabaya. Saya jadi heran dan bertanya-tanya, ini apa gara-gara habisdari pak Narno, ataukah dari obat Dokter Ani sebelumnya…?? wallahu ‘alam yang jelas saya sembuh.

Tak banyak memang dokter yang seperti beliau. Ketika di satu sisi, dokter seolah menjadi label yang “waah”, hanya orang-orang berada saja yang mampu ke sana, Dokter Narno telah mengabdikan dirinya sebagai Dokter Spesialis Rakyat Kecil. Membuatnya disukai dan dicintai banyak kalangan, menjadi jujugan rakyat kecil yang sakit. Andaikan saja semua dokter seperti beliau, barangkali Eko Prasetyo tak perlu menulis buku “Orang Miskin Dilarang Sakit”. Ummat bisa lebih sehat, termasuk juga kita berpikir sehat pula. Bahwa uang bukanlah segalanya, Namun kebahagiaan lah karena bisa berbagi pada sesama.

Jika orang berpikir mungkinkah sosok seperti Dokter Sunarno ini bisa kaya dengan lima ribu per pasien, maka jawabnya adalah Ya. Beliau sudah naik haji, beliau punya rumah yang meski sederhana namun bagus, beliau juga punya mobil kijang meski tahun 90-an, terparkir di garasinya. Namun saya rasa bukan itu alasannya, andaikan ia ingin lebih dari itu, saya rasa beliau pun mampu. Namun tentulah seberapa besar uang tersebut, ia tidak akan mampu mengganikan kebahagiaan batin untuk membantu mereka yang terpinggirkan. Kebahagiaan menghadapi rakyat kecil, untuk membuat mereka mampu tersenyum puas dari sakitnya. Barangkali bukan karena besarnya uang tersebut, namun karena berkah dari rizkinya.

Wallahu’alam, Dalam hati saya berharap, semoga Allah memanjangkan umurnya, meridloi pekerjaannya, memberkahi rezekinya. Dan semoga saja, akan banyak lagi muncul dokter-dokter lain seperti beliau.

Dokter Sunarno, tarifnya sudah naik menjadi Rp.10.000, namun entah kenapa kami masih tetap lebih suka menyebutnya sebagai Dokter lima ribuan….

Ponorogo,
Penghujung akhir tahun 2005

-Ketika
diare itu muncul lagi-