Archive for the Category »Artikel «

Ketika Dosen MIT Mengajarkan “Paijo Algorithm” Kepada Mahasiswanya

Saya masih ingat kata salah seorang rekan, maafkan saya lupa namanya. Bahwa salah satu yang membedakan antara jurusan Ilmu Komputer dengan jurusan IT lain (semacam teknik informatika), ada pada porsi science-nya. Ketika program studi lain lebih berorientasi  kepada dunia industri, dunia pembuatan software dan sebagainya, di ilmu komputer, hal yang lebih ditekankan ada pada sisi sciencenya, ada pada sisi keilmuannya. Ibarat di sebuah pabrik, orang-orang ilkom berada di bagian RnD, orang-orang IT lain, ada pada bagian unit Produksi, Quality Control, dlsb.

Pendek kata, di Ilmu komputer, “SEHARUSNYA” kita lebih ditekankan menjadi seorang ilmuwan, daripada seorang programmer, system analyst, network administrator, dsb. Tak heran jika dalam kurikulum ilkom porsi terkait dunia usaha memang tak terlalu ditekankan, meski untuk kesana, otomatis sudah tersedia dengan sendirinya dengan seabrek mata kuliah yang mendukungnya. Toh tak perlu saya bahas mengingat anak ilkom tentu tahu bahwa secara teori dan praktek di lapangan pula, dalam soal buat membuat software, anak ilkom pun tak kalah dengan anak dari jurusan non ilkom.   Karena toh hal-hal tersebut termasuk kurikulum wajib dalam ilmu komputer, meski sekali lagi, tak terlalu diberikan porsi berlebih dan terlalu mendalam, karena sekali lagi pada ilkom, fokus utama (seharusnya) ada pada riset.

Nah, tapi masalahnya, sebagaimana setiap mahasiswa ilmu komputer lain tahu, bahwa tentu kebanyakan dari kita kuliah disini untuk membidik “masa depan” yang lebih cerah. ini berarti uang, dan kita sama-sama tahu bahwa ini berarti, sisi-sisi seorang ilmuwan IT, mau tak mau adakalanya dikesampingkan.

Imbasnya, bisa ditebak. Dari sekian alumni jurusan ilmu komputer, sangat jarang yang terdengar berkarir sebagai seorang peneliti. Tak perlu berkarir pun tak masalah, setidaknya kita mendengarnya sebagai seorang peneliti, baik secara di lembaga (macam LIPI atau ristek, atau swasta), maupun secara individu, baik secara profesional, maupun amatiran, full time, maupun part time, atau sekedar penghobi sekalipun tak masalah.

Kalaupun ada, itu lebih pada tuntutan dunia kerjanya, semisal seorang dosen, RnD perusahaan swasta, dan semacamnya, yang memang secara iklim mendukung dan menuntut untuk ke arah tersebut.

Selebihnya? yang kebanyakan saya dengar hanya anak-anak Ilkom yang ber”akhir” di kantor-kantor swasta dan pemerintah, sebagai programmer,  IT adminstrator, system analist, sebagai network admin, guru, dosen, atau bahkan profesi-profesi yang tak ada hubungannya dengan ke-IT an sedikitpun. Soal adanya teliti meneliti, lebih pada tuntutan profesi masing-masingnya, itu pun lebih pada perancangan pembuatan sebuah program yang sulit, yang rumit, sesuai dengan kebutuhan profesi mereka. Sekali lagi, lebih pada membuat program, daripada membuat sebuah inovasi keilmuan baru.

Tapi SELEPAS DARI TUNTUTAN PROFESI tersebut, adakah dari mereka ini yang mengambangkan penelitiannya? atau mencoba menemukan sebuah rumus baru? algoritma baru? cara baru? metode baru? atau bahkan cabang ilmu yang baru??? Ah, telinga saya memang kecil, semoga saja ada, dan Anda lah ini orangnya, atau paling tidak Anda yang akan menjadi orangnya. Amin.

Ah ya, inti dari tulisan ini, sebenarnya saya hendak mengajak kita ini warga ilkom untuk ingat bahwa kita ini “sebenarnya”, menjadi bagian dari dunia sains, tak sekedar dunia industri. Karena setahu saya -semoga saya salah- Saya belum pernah menemukan orang Indonesia yang menjadi penemu dalam bidang keilmuan komputer ini. Yang ada lebih pada penerapan suatu ilmu untuk sebuah permasalahan, entah permasalahan dunia sains maupun dunia industri. Sejauh yang saya dengar yang banyak adalah orang membuat aplikasi ini dan itu, untuk masalah ini dan itu. Ya, kebanyakan kita lebih pada sebatas implementor daripada seorang scientist, apalagi seorang inventor, mungkin masih jauh.

Tapi ketikah dihadapkan pada pertanyaan,
Adakah dari kita menemukan sebuah METODE BARU??
Atau setidaknya MENCOBA mengembangkan??
Atau paling tidak BERKEINGINAN untuk MENEMUKAN METODE BARU??

Tidakkah dari kita-kita ini ada yang ingin, agar kelak anak cucuk kita, penerus generasi negeri ini pun bisa merasa bangga, ketika mereka belajar di bangku-bangku kuliah ilkom, mempelajari buku teks tebal berlembar-lembar,
lalu membaca nama-nama Indonesia dideretan nama-nama Djikstra penemu shortest path,
diantara CAR Hoare si penemu quicksort,
diantara McCulloch Pitts, dan Teuvo Kohonen ilmuwan jaringan syaraf tiruan,
Atau setidaknya dideretan nama-nama ahli-ahli di sub bab latar belakang  ditemukannya metode tersebut.

Tidakkah dari kita-kita ini ada yang ingin, suatu saat kelak, di buku teks mahasiswa ilmu komputer di seluruh dunia, dibahas dan dibicarakan nama-nama orang Indonesia, terlebih jika nama tersebut mengikuti sebuah cabang ilmu. Ketika dosen-dosen di Jerman, di Tokyo, di Riyadh, di Sydney, bahkan di kampus saya di Brawijaya diajarkan Algoritma dan metode dengan nama-nama Indonesia.

Tidakkah dari kita-kita ini ada yang ingin, ketika di ruang-ruang kelas mereka, dibicarakan soal “Toriq SupraGenetic Algorithm”, “Toni Artificial Hormone System”, “Adinata ParaNeuro Fuzzy”, “Endra Shortcut Network”, dan nama-nama Indonesia lain bersandingan dengan istilah-istilah bidang sains komputer.

Tidakkah dari kita-kita ini ingin ada hal-hal membanggakan negeri ini seperti itu?
Atau hanya saya yang berlebihan dan ingin mendengar ada nama-nama tersebut?
Wallahu alam, semua jawaban kembali pada Anda.

Saya hanya bisa mengajak, kepada mereka yang telah merasakan pendidikan ilkom, agar setidaknya menghidupkan iklim-iklim sains, inovasi, penemuan dalam keseharian kita, Sekecil apapun disela-sela waktu senggang kita. Di sela-sela kesibukan mengajar, disela-sela membuat program klien, disela-sela memonitor network, dan semacamnya. Tak peduli kita ini “terdampar” di dunia industri se industri dan sekapitalis apapun. Tak perlu besar besar di awal, mulai saja dari hal-hal kecil dan sederhana dahulu pun tak masalah, mulai dengan modifikasi ini itu, menggabung ini itu, dan semacamnya.  Semoga dengan ini saya berharap, bahwa kelak para pengenyam jurusan ilkom, tak menjadi sekedar bagian dunia “juru ketik” kode program, maupun dunia industri IT lainnya.

Karena sungguh, alangkah amat sayang, ketika seorang ilkom yang semisal sudah bersusah-payah belajar berjenis-jenis sains komputer, entah itu kecerdasan buatan maupun yang lain, namun tak dimanfaatkan ilmu tersebut disisa umurnya.

Ngomong-ngomong, saya jadi membayangkan, jika kelak di ruang kuliah MIT, NTU, Todai, Oxford, Harvard, UI, bahkan di Brawijaya, seorang profesor di ruang kelas mengajarkan kepada mahasiswa mereka, tentang sebuah algoritma bernama,  ”Paijo Algorithm”.

Malang, 26 Agustus 2010

Nilai Kejujuran

mencontekAda satu episode di masa SMA saya yang paling saya ingat sampai sekarang, sekaligus paling saya sesalkan. Ini episode terpenting di masa-masa SMA saya. Episode tersebut adalah ketika saya (bersama seluruh teman lainnya) beramai-ramai,contek-mencontek dalam sebuah momen ujian. Bisa kita usulkan ke kamus besar bahasa indonesia, -comal- mencontek masal.

Pada saat itu memang satu-satunya episode mencontek yang “dilegalkan” dan “diinstruksikan” (dengan tanda kutip besar) di daerah kami,  tapi sebagai akibatnya, kini saya amat sangat menyesal. Bahkan atas nilai hasil ujian yang didapat tersebut pun, sungguh tak ada satupun rasa bangga saya disana. Terlebih jika ingat bahwa itu adalah satu-satunya episode SMA dimana saya mencontek, setelah selama tiga tahun lamanya saya bertahan dalam sebuah komitmen untuk tidak mencontek selama ujian!

Pasca momen tersebut (yang hanya sekali), saya benar-benar sangat menyesal, dan sebagai imbasnya, saya tak pernah lagi kompromi soal contek mencontek. Dan selama kuliah, Alhamdulillah tak sekalipun saya mencontek ketika ujian. Saya lebih memilih mendapat nilai jelek tapi itu hasil kerja sendiri, daripada nilai bagus hasil mencontek. Jadilah saya orang yang memilih “walkout” dini ketika ujian karena memang tidak bisa mengerjakan, dan terkadang juga memilih  ”tinggal kelas” sebagai peserta ujian yang terakhir keluar karena lambat memikirkan sendiri jawaban ujian.

Saya pun bersyukur, bahwa saya ternyata tidak sendirian. Dahulu ketika SD adakalanya ketika tidak mau memberi contekan, saya sering diancam ini itu oleh beberapa “jagoan” kelas. Ketika SMA,  syukurlah sudah tak ada lagi hal-hal tersebut. Alhamdulillah meski ketika SMA sampai kuliah, ada teman yang “berkompromi” saat ujian, namun ketika saya tidak mau macam-macam seperti itu, Alhamdulillah mereka mengerti.

dan Saya memang  tak pernah peduli jika dibilang pelit, sok suci, atau semacamnya, integritas memang bernilai mahal bagi yang memilikinya”

Di kuliah, Alhamdulillah saya dipertemukan pula dengan orang-orang yang serupa. Orang-orang yang tak mau berkompromi, baik mencontek ataupun dicontek. Di kelas saya memiliki sahabat dekat (Adib) yang memiliki prinsip yang sama, di organisasi pun saya memiliki sahabat-sahabat yang semua berprinsip untuk tidak mencontek, ada Mahatir, mas Bayhaq, dan ikhwah-ikhwah lain tentunya. Meskipun memang ada  pula dari teman-teman kuliah lain yang adakalanya “berkompromi” saat kondisi memungkinkan.

Dan Alhamdulillah pula, ketika kini Allah pun mempertemukan saya dengan seorang istri yang sejak dulu memiliki prinsip sama pula. Anti mencontek. Lebih baik jelek hasil sendiri, daripada bagus hasil mencontek. Mertua saya pernah bercerita, bahwa istri saya ini pernah ikut sebuah seleksi pra Olimpiade sains, ketika seleksi tersebut, teman-temannya banyak yang mencontek. Istri saya ini memilih tidak mencontek. Hasilnya bisa ditebak memang, istri saya tidak lolos sedangkan teman-temannya yang mencontek, justru lolos seleksi pra olimpiade sains. Namun bukannya sedih, Istri saya waktu itu justru  berkata begini,”kasihan orang tuanya, dibohongi oleh anaknya sendiri” (maksudnya kasihan orang tuanya, bangga pada prestasi anaknya, padahal prestasi tersebut hasil mencontek/curang).

Klik untuk melihat berita

Klik gambar untuk melihat berita (Guru Nyontek Saat Ujian di Universitas Terbuka)

Ah, terus terang saja, agaknya memang “mencontek” adalah penyakit pelajar sekarang ini. Ketika SD ada teman-teman saya yang mencontek, ketika SMP, ternyata banyak juga yang mencontek, di SMA, bahkan di kuliah pun sama saja. Saya katakan pelajar, karena penyakit ini menjangkit tak hanya kalangan anak SD-mahasiswa, bahkan guru-guru yang seharusnya memberi contoh yang baik, justru ada yang mencontek ketika mereka ujian. Agaknya contek-mencontek sudah menjadi “budaya wajib” setiap pelajar yang ingin mendapat nilai bagus, tak peduli ia pelajar pintar ataupun bodoh.

Yang “tak terlalu pintar” mencontek karena ingin mendapat nilai bagus, yang pintar mencontek pula karena khawatir nilainya kalah dengan yang “tak terlalu pintar”.

Asal pengawas lengah, pengawas tak lihat, pengawas tak tahu, maka menconteklah untuk mendapat hasil “maksimal”. Beragam cara pun digunakan, yang sederhana melihat teman sebangku. Kalau “si pintar” agak jauh, dibukalah permainan lempar bola kertas. Ketika muncul teknologi Handphone, sms saja jawabannya. Kalau kondisi lebih memungkinkan, “mengukir meja”, buka buku, buat catatan-catatan kecil, dan semacamnya.

Maka menjadi sebuah peraturan tak tertulis dibenak setiap pelajar, -mengutip kata seorang guru saya- “Boleh mencontek asal tidak ketahuan“.

Tapi tak urung, urusan contek mencontek ini memang membuat saya paling miris. Saya terkadang membayangkan, apakah orang-orang besar dahulu semacam Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, Soekarno, Natsir, Hatta dll apa mereka pernah mencontek ya ketika ujian? wallahu alam… :(

“Ah, jangan heran jika di Indonesia banyak koruptor, kalau kecilnya di sekolah kita sudah terlatih untuk ‘korupsi’ ketika ujian.”

Bagi saya, ini “wajar” terjadi karena sejak kecil kita diajarkan untuk lebih ber-orientasi pada nilai akhir, kita di’tuntut’ untuk mendapatkan prestasi, sementara prestasi identik dengan nilai ujian, dengan nilai rapot. sementara nilai-nilai proses “mendapatkan nilai” lebih banyak dikesampingkan.

Saya yakin tak banyak orang tua (dan bahkan guru) yang mengajarkan kepada anaknya “tak mengapa kamu dapat nilai jelek tapi itu hasilmu sendiri, daripada nilai bagus hasil mencontek”. Yang sering adalah nilai jelek dimarahi, nilai bagus dipuji. Atau tak jarang pula ada orang tua yang tak perhatian pada sekolah anaknya, sehingga “nilai bagus” pun dijadikan si anak untuk mendapat perhatian dan pujian ayah bundanya, dan tak ada cara instan mendapat nilai bagus selain dari mencontek. Saya katakan TAK BANYAK, namun bukan berarti tak ada. Semoga saja Anda pembaca memiliki orang tua, atau menjadi orang tua yang “tak banyak” tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya kesadaran keimanan pelajar kita saat ini. Di sekolah kita lebih diajarkan menjadi orang yang tahu ilmu agama, daripada menjadi orang yang beragama dengan sebenarnya. Di sekolah umum, kita hanya mendapatkan pelajaran agama sekali setiap pekan, itupun tak banyak yang mengena esensinya. Di kuliah tambah parah, untuk universitas umum seperti di kampus saya, pelajaran agama hanya satu semester selama total masa studi. Andai tak ada program-program keislaman macam mentoring, rohis, dan semacamya, tentu makin rusak saja akhlak pelajar kita nanti.

“Kalau seseorang itu benar-benar keimanannya, tak mungkin ia mencontek meski tak ada pengawas ujian, karena ia selalu yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi “

Jangan terlalu berharap pada pelajaran macam PPKn, budi pekerti, dan semacamnya. Bagi saya, tetap kesadaran akan “Yang Maha Mengawasi”, tetap yang paling dibutuhkan. Orang yang memiliki integritas sekuat apapun, tetap saja rawan kompromi. Bagi saya, Integritas sebenarnya dihasilkan dari keimanan yang sebenarnya pula. Integritas yang tak didasari keimanan, adalah integritas yang rapuh, yang rawan kompromi di kemudian hari. Saya jadi ingat beberapa hari yang lalu ketika saya dan rekan-rekan rohis lainnya ujian Tatsqif, tak ada satupun yang contek mencontek meski pengawas sering keluar.

Agaknya tak hanya saya yang bermasalah dengan urusan contek mencontek. Beberapa hari yang lalu istri saya ‘mengadu’ kepada saya. Pasalnya dalam sebuah UAS yang ia ikuti, di sebuah mata kuliah yang terbilang sulit, petugas penjaganya justru keluar ruangan, dan menutup pintu. Alhasil bisa ditebak, seluruh teman-temannya mencontek semua. Hanya istri saya saja yang tetap komitmen tidak mencontek, dan istri saya tidak bisa mengerjakan soal tersebut. Beliau mengadu sambil sangat khawatir, bagaimana kalau-kalau nilainya jelek, mengingat tentulah semua temannya akan mendapat nilai ujian yang bagus. Beberapa hari kemudian beliau lagi-lagi ‘mengadu’, mengingat beliau harus menambah semester untuk mengulang mata kuliah yang kurang bagus. Dan beliau khawatir bahwa ia tak punya teman di semester-semester akhirnya. Dan kini beliau pun seolah ‘protes’ mengingat selama ini teman-temannya banyak yang mencontek, sehingga dapat nilai bagus, sehingga pula tak perlu mengulang mata-mata kuliah sulit di semester depannya.

Setelah saya dengarkan, saya sampaikan kepadanya sebuah peneguhan singkat, bahwa untuk apa iri kepada orang mencontek? Mereka menipu orang tua mereka, memberikan hasil seolah-olah anaknya pintar, padahal sama sekali tidak. Mereka pun menipu orang-orang sekitar, dengan nilai bagus seolah menjadi orang pintar, padahal “pintar” hasil mencontek. Dan yang paling parah, Mereka sebenarnya menipu diri mereka sendiri.Bahkan yang paling saya khawatirkan, bahwa nilai-nilai yang mereka dapatkan dari hasil mencontek tersebut, tak akan barakah sama sekali :( Ah, saya bangga dengan komitmen istri saya untuk tidak mencontek.

Ngomong-ngomong, soal contek mencontek, saya paling ingat jaman-jaman jahiliah saya ketika SMP. Waktu itu kalau tak salah saya kelas 3 SMP (ini masih masa jahiliah saya sebelum berubah seperti sekarang). Waktu itu saya masih ingat benar, di pelajaran Agama, ketika guru memberikan ujian, guru tersebut selalu meninggalkan ruang kelas setelah memberikan soalnya. Alhasil, semua anak langsung mencontek. Mengingat waktu itu, soal yang diberikan si guru memang membutuhkan jawaban yang berpanjang-panjang. Sepintar apapun anaknya, rasanya mustahil menjawab semuanya, karena ya itu, jawabannya sangat banyak. Saya pun termasuk dalam orang-orang yang mencontek waktu itu, mengingat ya memang itu masa-masa jahiliah saya, saat belum mengenal Islam seperti sekarang. Ketika itu, saya ingat benar, ada seorang dari teman saya (insya Allah namanya Maher) yang tidak mencontek sama sekali. Saya hafal betul, bahwa setiap ujian agama, setiap si guru meninggalkan kami, dan setiap seluruh kelas membuka buku (mencontek), hanya beliau yang berkomitmen untuk tidak membuka buku. Alhasil, ketika seluruh dari kami sudah selesai mengerjakan (karena memang hanya menyalin dari buku), kawan saya ini paling akhir mengumpulkannya. Dan ketika dibagikan nilai hasil ujian, sering beliau mendapat nilai yang dibawah rata-rata. Tapi satu hal yang saya ingat betul, tak ada rasa iri  ataupun benci kepada kami, maupun rasa sesal di wajahnya. Ah, memang kejujuran dan integritas adakalanya berasa pahit, tapi yang pahit itu selalu membawa senyum dan kebanggaan bagi pemegangnya. Alhamdulillah ketika SMA saya tersentuh oleh Islam, mulai ikut rohis dan macam-macam, dan saya pun komitmen untuk tidak lagi mencontek.

Kini saya yakin bahwa orang tua (mungkin) hanya melihat hasil nilai ujian kita,tapi saya yakin bahwa Allah lebih melihat nilai kejujuran kita ketika ujian. Tinggal pertanyaannya, lebih takut kepada Allah ataukah lebih takut kepada manusia kah kita??

Jadi Masihkah Anda (berani) mencontek??

Malang, 30 Juni 2010
(image from : http://siteruterubozu.wordpress.com)
(Untunglah) Taqwa

Ini adalah cuap-cuap yang seharusnya saya tulis jumat lalu. Tapi karena dihantam beberapa ke sibukan (baca:malas), jadilah baru disempatkan menulis di malam ini.

Jika Anda laki-laki, muslim, tentu setiap jumat, kita sholat jumat. Ada satu kalimat wajib khas yang -seharusnya- memang selalu muncul dalam awal-awal khutbah pertama. Kalimat tersebut kurang lebih seperti ini.

“marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita”
yang kemudian dilanjutkan (ini inti artikel saya kali ini)
“karena sebaik-baik bekal adalah taqwa”

Jumat kemarin saya pun mendengar kalimat tersebut sebagaimana jumat-jumat sebelumnya. Namun kali itu, ada sesuatu yang menarik yang membuat saya berpikir, sekaligus kagum, sekaligus bersyukur.

Pernahkah kita merenungi kenapa dikatakan sebaik-baik bekal adalah taqwa? kenapa kata ini yang dipilih? kenapa parameter taqwa yang dijadikan pedoman agar seseorang itu dikatakan beruntung, sukses, atau hal-hal lainnya.

Kenapa bukan parameter semisal kekayaan? sebagaimana yang senantiasa dilakukan orang-orang kapitalis kepada anaknya, “nanti kamu harus jadi orang kaya le, nduk“. Kenapa juga bukan kecerdasan? “belajar yang rajin nak, biar jadi pinter ini itu”. Atau kenapa bukan seperti orang-orang filosof, sufi, “raihlah kedamaian hati, kebahagiaan hati” dan semacamnya?

Bukan juga parameter kekuatan, jabatan, kehormatan maupun hal-hal lain yang sesungguhnya itu semua sungguh sangat bisa digunakan untuk sarana melakukan kebaikan lain, dengan lebih luas?

ataulah jika

Dalam pikiran saya, beryukur karena dalam Islam ini yang dipilih sebagai role model adalah parameter taqwa, taqwa, dan taqwa. Yang kalau secara terjemahan biasa -menaati apa yang diperintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang-. Dan inilah sebuah mabda yang kemudian menjadi universal. Yups, dengan dijadikannya taqwa sebagai parameter, maka ini menjadi satu tonggak universalitas Islam diatas ideologi-ideologi manapun!!

Ini artinya baik Anda menteri, ataupun kuli, anda tetap bisa masuk surga, selama Anda bertaqwa. orang yang kaya luar biasa bisa masuk surga selama dengan kekayaannya ia memperolehnya dari jalan yang halal, beramal, sedekah, menafkahkan hartanya di jalan Allah, -yang kita singkat dengan satu kata : bertakwa- maka si kaya bisa masuk surga. Si miskin pun bisa bertakwa, dengan amal shaleh lainnya, dengan menjauhi larangan-larangan agama. Sebegitu universal taqwa ini, sampai-sampai tak hanya ustadz saja yang bisa bertakwa, seorang polisi, kuli, mantri, atau seorang buruh, manajer, guru, maupun bahkan seorang pengangguran sekalipun ia tetap bisa jadi menjadi orang yang bertakwa. Universalitas taqwa

Ini artinya anda yang sudah es tiga, maupun tamatan es de kelas tiga, atau yang belajar membaca dari anak tetangga, tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak peduli IQ anda seratus empat puluh lima, atau merangkak dari angka seratus dua, Anda tetap bisa jadi orang yang bertaqwa. Bahkan seandainya saking (maaf) bodohnya Anda sampai mendekati batas-batas disebut idiot, Anda tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak peduli Anda ahli retorika, atau masih gagap berkata-kata, Anda tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Standar taqwa bagaimanapun juga telah merubuhkan batasan-batasan intelektual.

Demikian pula dengan bahasa-bahasa filosof, sufistik, maupun lainnya. Taqwa bisa diraih meskipun Anda seorang yang bertemperamen keras, kasar seperti umar. Tak harus Anda adalah orang yang senantiasa cool calm untuk menjadi orang yang bertaqwa, tak harus menjadi orang yang lembut, tak harus menjadi orang yang dalam satu hari tak sekalipun ia marah untuk menjadi orang yang bertaqwa. Karena memang standar yang dipakai bukanlah kelembutan kata, bukanlah kedamaian hati, bukanlah emosi, tetapi standarnya ialah taqwa.

Taqwa adalah parameter yang sedemikian universal sehingga tak hanya orang yang di Arab saja yang boleh dan bisa bertaqwa. Kita yang di Indonesia, China, Argentina,  maupun -andai ada- orang yang hidup di antartika tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak hanya orang yang sudah lanjut usia saja, bahkan seorang remaja yang begitu baligh, dia pun bisa menjadi orang yang bertaqwa. Sedemikian universalnya taqwa, sampai ia menembus batasan-batasan demografis, garis teritorial negara, suku, ras, dan bahkan budaya.

Sekarang jika sudah, silakan membandingkan tujuan dan universalitas pencapaian Islam, dibandingkan dengan ideologi-ideologi lain, silakan mau Anda sebut ideologi Anda apa… :) sosialis, kapitalis, atau apapun pada akhirnya kita harus bersyukur, bahwa parameter, bahwa standar, dan tujuan pembentukan Islam, adalah taqwa. Semua orang punya kesempatan mendapat surga, asal ia bertaqwa. Ah, (untunglah) taqwa. :)

Cuap-Cuap Jumat
21 Mei 2010

Istiqomah

hari ini saya kembali takut…. lepas dari kisah yang pernah saya tulis disini, ada sebuah kisah yang disampaikan ikhwan satu liqo’ kepada saya tadi pagi. Dan kisah ini terus terang membuat saya kontan gemetar, -takut-.

Ada seorang muslimah, akhwat bahkan, yang ikut dalam sebuah program pertukaran pelajar. Namanya pertukaran pelajar, tentulah keluar negeri, dan dari yang saya tangkap, ini bukan negeri islam.

Singkat kata, sang akhwat tersebut berubah drastis, fikrahnya menjadi tak lagi islami. Murabbi saya menceritakan bahwa MR akhwat ini sampai mengeluh dengan diskusi-diskusinya terhadap akhwat tadi via facebook. Dan kabar dari ikhwan teman saya tadi menyebutkan, bahwa si akhwat pertukaran pelajar tadi sudah sampai lepas jilbab… Masya Allah… :(

Dan saya semakin takut, dan takut…. siapa yang bisa menjamin hidayah saya esok pagi? Semoga Istiqomah Kawan
Pada akhirnya kita hanya bisa berdoa“ya muqollibal quluub, tsabit qolbi ‘ala diinika”, Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar senantiasa pada agama-Mu.

Malang, 17 Maret 2009
semoga kita tetap istiqomah kawan

ps: ketika menulis artikel ini, saya sambil membuka2 blog akh suaidi, dan makin takut sekaligus tertohoklah saya melihat tulisannya disini

Database Catatan Amal Manusia

us_citizensKita sebagai muslim tentu tahu dan wajib meyakini bahwa kelak, di yaumil hisab, kita akan dihadapkan dengan seluruh catatan amal kita. tentang bagaimana Allah kelak akan menampilkan kembali masing-masing perjalanan hidup kita di dunia, baik yang buruk, maupun yang baik. 

sudahkah saya bilang “seluruhnya” tadi?

Yups, ini artinya catatan amal kita, seluruh yang mulai dicatat ketika kita akil baligh, hingga ketika buku catatan amal ditutup saat kita menghembuskan nafas terakhir kita.  

Barangkali ini hanya pikiran konyol yang terbersit dahulu ketika saya masih kecil. Sederhana, seperti apakah kira-kira bentuk catatan amal kita?  
Tak cukup disitu, bahkan dahulu saya sempat berpikir, alangkah tebalnya jika catatan amal perbuatan manusia itu disusun. Berisi jurnal-jurnal catatan amal baik dan buruknya. alangkah tebal tentu. Jika semisal untuk mencatat satu orang, dalam satu bulan habis satu buku, maka berapa banyak dan tebalnya buku yang dibutuhkan untuk merekam jejak orang tersebut selama hidupnya?.
Bisa-bisa satu orang habis buku sebanyak buku perpustakaan nasional kita. Lantas bagaimana dengan 6 milyar manusia yang hidup sekarang? ditambah lagi milyaran manusia yang sudah meninggal dahulu, dan sekian milyar lagi yang belum dilahirkan. Seperti apakah itu semua dikelola??

Alangkah besarnya tentu? bagaimana pula mengelolanya catatan amal tersebut? bagaimana agar tidak bisa tertukar bagi seseorang yang namanya sama persis dan umurnya sama persis? Bagaimana mengurutkannya? mencari data tertentu dengan cepat? dst dst 

Belum lagi jika kemudian diceritakan, bahwa kelak kita akan disajikan, semacam slideshow/film rekaman perjalanan hidup kita. Dari yang baik-baik ketika kita belajar ngaji, sampai semisal ngerasanin orang, naudzubillah.. :(  

Wow, seperti apa caranya? alangkah besarnya storagenya tentu? bagaimana Allah mengelola semua itu?? Saya pun membayangkan… bahwa bisa jadi orang-orang di jaman dahulu pun sempat terbersit pikiran serupa.

Hingga saya akhirnya dewasa, dan kini saya pun tahu cara menjawabnya…. setidaknya… hal-hal yang disampaikan sang rasul kita 14 abad yang lalu, kini -bagi kita manusia modern- bukan hal yang impossible lagi.

Untuk bisa memhami, maka kita sedikit flashback. semenjak manusia memasuki era sejarah, disitulah manusia mulai menulis. Mencatat apa saja hal-hal yang bisa dicatat. Maka kita pun tahu, ada prasasti. Beranjak ke peradaban lebih maju, manusia pun semakin banyak menulis. menulis di daun papyrus, di kulit binatang, lembaran kayu, pelepah kurma, dlsb. Maka manusia pun menulis dimana saja. Hingga kita temukan kertas. Dan kita lihat pula seiring bertambahnya jaman, media untuk menulis pun semakin lama semakin singkat. Jika dahulunya untuk menulis sekian kata ditulis di sebuah batu besar, maka lambat laun ada kertas dan pena yang bisa kita tulisi ratusan ribu kata menjadi sebuah buku tipis. 

Dan di abad 20 mulai bergeserlah kertas menjadi data-data magnetik. Selamat datang era komputer! Yups buku-buku yang tebal-tebal, kitab-kitab para ulama salafush shaleh yang tebal-tebal tersebut, kini bisa kita kantongi dengan mudah di celana kita bak mengantongi permen. Dulu ada disket, sekarang bahkan bisa kita telan itu semua dalam sebuah flashdisk yang sangat kecil… :D  Selamat tinggal Ensiklopedia Britanica yang super tebal dan berjilid-jilid itu, kini hadirlah Encarta dalam bentuk kepingan CD. tak hanya kata dan gambar, tapi bahkan ada suara dan videonya pula. Pendek kata… makin kecil cara kita menyimpan data… :)  

Kita pun mengenal pula teknologi database, yang membuat pencarian, pengurutan, pengklasifikasian data menjadi jauh lebih mudah. Kalau dulu untuk mencari data seseorang di sebuah sekolahan, kita harus membongkar lemari-lemari tua,dan butuh waktu berjam-jam (berhari-hari kalau itu sekolah lama), maka kini tinggal mengetikkan beberapa kata, Enter, dalam sepersekian detik tampillah sudah di monitor kita. Sangat mudah, sangat Cepat.. :)  

Video pun bukan lagi hal yang rumit. Dulu satu jam video harus kita saksikan dalam satu kaset besar. Lalu berpindah ke kaset kecil, ada mini DV. lalu pindah dalam bentuk kepingan, masih besar, di laser disc. Bergeser lagi ke VCD yang lebih kecil. Hingga kini ada teknologi DVD beserta variannya yang makin besar saja kapasitasnya.

Ukuran file yang dulu begitu besar, satu film butuh storage besar, kini makin kecil saja. Jika dulu satu film kita tonton dalam 2 keping CD, berkat teknologi kompresi, kini bisa kita nikmati dalam satu CD saja, dan seiring teknologi kompresi lainnya (semisal MKV) maka makin dan makin kecil saja ukuran film-film kita. 

Pengelolaannya pun tak lagi susah, contoh sederhana, lihatlah youtube. Tinggal beberapa klik, ditemukanlah video yang kt cari.

Dan pada akhirnya perlu diingat, bahwa ini semua hanyalah teknologi manusia saat ini. Masih jauh terbuka ruang luas dalam hal penyimpanan dan manajemen data. Sekali lagi, ini hanya ilmunya manusia, setitik kecil debu dalam padang pasir jagad semesta. 

Subhanallah…. 
Tentu ilmu Allah jauh daripada sekedar ilmu-ilmu manusia. jauh, jauh, dan sungguh lebih jauh lagi….. Yang jika diibaratkan dalam sebuah hadits, jika kita mencelupkan tangan di samudera, kemudian kita angkat, maka air yang menempel di jari-jari kita itu adalah ilmu manusia (termasuk einstein, hawking, planck, dan profesor2 seluruh dunia lainnya). Adapun ilmu Allah, itulah air di samudera luas. Allahu Akbar… betapa kecil ilmu kita… :(

Maka, jika menciptakan kita -manusia- yang serumit ini, beserta alam semesta dan seisinya saja Allah mampu, kenapa tidak dengan menyimpan dan memanage data amalan seluruh manusia? Bukankah Allah maha kuasa atas segala sesuatu?

Manusialah yang teramat lemah… lemah dan lemah….. 

Dari sebuah prasasti seberat seekor sapi, hingga tersusun lembaran kertas-kertas rapi, lalu menjadi seukuran mikrochip sebesar kuku jari… betapa cepat laju penyimpanan data yang dikembangkan manusia. 

Dan sesungguhya saya yakin, bahwa database Allah tentu jauh, jauh, dan jauh lebih canggih daripada database server, dan mesin2 tercanggih yang dikenal manusia sekarang ini. Ah cukup sampai disini, tak perlu saya berpikir lebih jauh lagi tentang bagaimana Allah mencatat dan menyimpan semuanya. Itu semua ilmu Allah yang tak terjangkau oleh manusia. Saya hanya bisa mengembangkan apa yang didepan saya, untuk satu langkah lebih maju langgi dalam teknologi ini.

Ah ya, Akhirnya kita bisa memahami yang Maha besar, dari hal-hal kecil di sekitar kita.. 

Subhanallah… Allahu Akbar… semakin saya belajar di dunia IT ini, maka semakin mudah pula rasanya memahami keagungan dan kemaha besar-an Allah SWT. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah jika Allah berkehendak. 

Malang 9 Maret 2009

Surat Cinta Tuk Para Perwira #1

Ketika kau bicara tentang pemimpin, maka kau harus bicara tentang suatu hal yang besar.  seorang panglima, tentang seorang perwira, bukan sekedar seorang -prajurit biasa-, tak peduli seberapa luar biasa dan seberapa berjasa-nya prajurit biasa tersebut. Dan sebagaimana setiap perwira manapun dari pantai barat amerika hingga ujung siberia,  kepemimpinan akan memiliki lingkarannya masing-masing. Seorang Jenderal memimpin Divisi, seorang Kolonel memimpin Batalyon, Seorang kapten memimpin kompi, dan letnan memimpin peleton.

Bicara kepemimpinan, maka kau harus pula bicara kesempurnaan. Kelebihan yang harus membuatmu berbeda dibanding prajurit biasa. Itulah kenapa ada sekolah perwira, dan untuk masuk kedalamnya tak semudah masuk di sekolah calon tamtama. Fisikmu harus prima sempurna, tak boleh ada gigi tanggal, cacat fisik, mata rabun, apalagi lemah loyo.  Budi pekertimu pun harus senantiasa terjaga, catatan kriminal harus bersih sempurna. Dan yang tak kalah penting otakmu harus berada diatas rata-rata, jangan sampai ada nilai lima. Singkatnya, kau harus sempurna, atau setidaknya, kau tampak sempurna di hadapan para prajuritmu.

Karena seorang perwira tidak disiapkan untuk bertindak sebagaimana seorang prajurit…. Karena seorang perwra, itu memang berbeda.

(memo tuk perwira #1)

My Fear Factor

Apakah kawan punya sesuatu yang kawan takutkan???
Saya yakin, se-berani apapun seseorang, ia pasti memiliki sesuatu yang ia takutkan, seberani apapun, dan seheroik apapun seseorang tersebut, saya yakin ia pasti memiliki “fear factor” di dalam dirinya. Dan fear factor ini pun bermacam-macam, mulai dari yang berlaku secara universal semisal ketakutan terhadap maut, ketakutan terhadap Allah, dan siksanya, hingga ke hal-hal kecil, semisal ketakutan seseorang terhadap anjing, terhadap hantu, ketinggian, ruang sempit, dan semacamnya. Dan hal ini memang wajar dan manusiawi.

Dan diantara sederet hal-hal penyebab phobia saya, ada satu yang saya menganggapnya penting. fear factor ini bukan berupa sebuah benda fisik, melainkan lebih ke arah sesuatu yang abstrak…. dan filosofis.

Dan bagi saya, fear factor itu adalah ‘keteguhan hati’.
Ya, saya paling takut apabila semisal kelak, diri ini tak lagi istiqomah… :(

Wallahu alam, entah berapa banyak kisah-kisah ke-istiqomahan yang terhenti itu, yang seringkali mengusik ruang-ruang imajiku. Dari kabar-kabar di berita, dari kabar-kabar dari murabbi, kabar dari kawan, dari teman, dari internet, dari media massa, hingga kawan-kawan dekatku sendiri… :( Semua bagai potongan-potongan pahit yang harus ikut aku rasakan setiap mendengar hal-hal tersebut. Dan episode-episode seperti ini sudah aku dengar semenjak kecil…

Dulu waktu saya masih SD, masih belum ‘cetho’  (mumayyiz),  ada sahabat kakakku. Sebut saja namanya Mbak X. Beliau muslim, keluarganya pun muslim, meski ayahnya memang sudah meninggal. Kalau bulan Ramadhan tiba, mbak X ini pun sering berkunjung ke rumahku, di rumah, kami pun shalat tarawih berjamaah diimami oleh ayahku.  Namun Allah selalu punya kehendaknya sendiri. Ibu dari mbak X ini jatuh hati dengan seorang non muslim, menikahlah ibunya, dan sayangnya, bukannya si laki-laki yang pindah ke Islam,namun justru ibunya inilah yang pindah ke kristen. Dan efeknya, karena memang Mbak X ini masih kecil, ikut orang tua pula… pindahlah juga agama beliau bersama saudaranya yang lain. Terakhir kali aku dengar, beliau sudah menikah dengan pemuda kristen pula…

Ada pula dalam halaqah pekanan beberapa waktu lalu, ketika diceritakan oleh rekan sesama liqo’ yang aktif di RZI (rumah zakat Indonesia), yang bercerita tentang bagaimana perjuangan mereka menghambat laju kristenisasi di daerah2 pinggiran. Cerita bagaimana suatu RW yang beberapa tahun lalu mayoritas adalah keluarga muslim, kini justru berbalik drastis, keluarga muslim jadi sangat amat minim sekali, bahkan menjadi minoritas di daerah tersebut setelah diserang.

Ada pula cerita tentang seorang qori’ di kota Malang ini, bacaan qurannya Subhanallah sangat indah. Namun karena ujian ‘perut’ dan kemiskinan, beliau akhirnya pindah ke lain agama. Ada pula kisah seorang ustadz tentang seorang akhwat aktifis dakwah kampus, subhanallah beliau dikenal sangat strength dan militan dengan jilbab lebarnya. Namun selang setelah lulus, entah kenapa jilbabnya makin lama makin pendek, makin tipis, hingga akhirnya lepas jilbab sama sekali. Kabar terakhir bahkan menyebutkan akhwat tersebut sampai pindah agama. Dan cerita akhwat tersebut, ternyata dialami sendiri oleh seorang kawanku sendiri… Seseorang yang aku kenal sangat teguh dalam beragama, bahkan pernah sempat beliau mengenakan cadar, ketika pindah kampus, kondisinya justru berbalik drastis. Dengan jilbab mungil tipis, pakaian ketat, dan fikrah yang wallahu alam. Untung yang ini tak sampai pindah Agama seperti kisah seorang akhwat bercadar yang pindah agama karena di PDKT terus menerus oleh seorang pria non Islam.  Atau seorang akhwat Lampung yang terkena kristenisasi, lalu pindah agama. Yang ini untung segera terdeteksi dan segera disadarkan. Alhamdulillah beliaunya bertaubat dan kembali ke dalam Islam… Kasus-kasus berpindahnya iman seseorang, masih banyak lagi…

Adakalanya pula iman tak sampai berpindah, tak sampai ganti status agama di KTP, tak sampai pergi ke gereja-gereja, tak sampai hingga pindah agama. Tetap Islam, namun sungguh miris, fikrahnya (pemikiran) telah berpindah dan berubah. Dari seorang yang dulunya dikenal militan dan idealis, menjadi seseorang yang sangat kompromistis… berubahlah fikrah (pemikiran) dari pemikiran2 yang islami, menjadi pemikiran-pemikiran sekuler, aneh, nyeleneh, dan justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri. Dan tak jarang mereka merasa bangga dengan hal ini.

Ada seorang kawan SMP saya, waktu SMP memang anaknya boleh dibilang nakal. Ketika SMA kami tak satu SMA, beliau sekolah di sebuah sekolah favorit di luar kota. Ketika kuliah, Alhamdulillah kami dipertemukan. Waktu pertama kali bertemu di kampus setelah pisah sekian lama, aku sampai pangling (kaget). Subhanallah beliau menjadi sangat militan, aktif ikut kajian-kajian, Subhanallah, begitu pikirku. Namun ternyata tak butuh waktu lama untuk merubah seseorang, sekitar 2 tahun kemudian, al akh tersebut aku ketahui justru kembali lagi ke masa-masa kejahiliahan SMP dulu… pacaran, dlsb… masya Allah… :( betapa cepat Engkau membolak balik hati kami ya Allah…

Terkadang pula mendengar cerita tentang seorang ikhwah yang menyeberang ke wajihah lain, masih mending jika wajihah tersebut adalah wajihah ke-Islaman, apapun harakahnya, namun sangat miris ketika mendengar bahwa wajihah tersebut adalah wajihah sekuler, dan akhirnya mau tak mau akal ini mencoba dipaksakan untuk merangkai-rangkai alasan husnudzan terhadap ikhwah tersebut.

Ada pula kabar-kabar tentang seorang al akh yang memang selama ini dikenal kritis, namun kekritisan beliau justru menjadi senjata makan tuan. Kabar terakhir yang aku dengar, beliau sudah tak mau lagi liqo’, bahkan tak sekedar itu, kini ia menjadi sebuah gerakan yang dibilang kontradiktif terhadap dakwah di fakultasnya.

Ada pula dulu seorang al akh pula yang sangat disegani bahkan oleh seluruh ikhwah kampus, namun karena masalah wanita, beliau justru berbalik drastis terhadap apa yang beliau bela selama ini. Karya terakhir beliau untuk dakwah justru menjelek-jelekkan sebuah organisasi dakwah, masya Allah… untung saja setelah itu tak ada lagi kasus lagi dari beliau.

Ada pula… ah jika hendak aku list satu persatu… rasanya tak akan cukup… Dan sepertinya masih ada banyak lagi kisah-kisah orang yang aku kenal yang terhenti dari jalan lurus ini. Tak peduli apapun levelnya, dari yang masih baru belajar, hingga yang sudah semacam panglima dalam pergerakan dakwah. Apa yang tertulis diatas hanya sekelumit penggalan-penggalan cerita, dari sekian banyak kisah yang Allah tunjukkan kepadaku. Bersyukurlah apabila orang-orang tersebut sempat kembali lagi ke dalam jalan yang benar… :( orang-orang seperti ini harus kita sambut dengan sebaik-baiknya, bukan justru kita musuhi dan kita asingkan selama-lamanya…

Saat ini orang-orang dan pemuda seperti aku masih bisa meneriakkan, “lebih baik terasing daripada menyerah dalam kemunafikan”, namun sungguh aku pun tak akan bisa menjamin.. akankah kelak aku seperti ini???  ketika mulai bersentuhan dengan strata sosial yang lebih luas, berbenturan dengan masalah-masalah pekerjaan dan nafkah, masyarakat, dll.

Mengutip status seorang sahabat, “untuk pertama kalinya ada importir bilang,”ini pak sebagai ucapan terima kasih, karena saya sudah menyita waktu bapak.” akhirnya godaan itu datang juga, Alhamdulillah bisa nolak”. Masya Allah, batinku, ini tahun pertama beliau sudah seperti itu, apalagi di tahun-tahun kedepan… boleh jadi akan makin berat godaannya. Syukurlah sahabatku masih bisa mempertahankan prinsip2 idealismenya… dibandingkan dengan ribuan bahkan jutaan lain masyarakat di seluruh belahan bumi yang memilih mengorbankan idealisme, harga diri,kehormatan, bahkan aqidahnya untuk secuil dunia yang tak akan menyelamatkannya di akhirat kelak…

Ya Allah, akankah masih Idealisme ini, prinsip-prinsip, idealisme, bahkan aqidah ini akan tetap ada dalam hatiku?? tahun depan? 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? 25 tahun lagi? Berikan hamba kekuatan ya Allah…

Dan semakin aku pikirkan, semakin takutlah aku…
Pada akhirnya aku hanya bisa berdoa… “ya muqollibal quluub, tsabit qolbi ‘ala diinika”, Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar senantiasa pada agama-Mu.

Malang, 11 Januari 2010 00:30 dini hari