Archive for the Category »Obrolan Lepas «

sms taujih – konfrontasi

Selamanya kebenaran akan berkonfrontasi dengan kekufuran… baik secara dzahir maupun tersembunyi.

(Untunglah) Taqwa

Ini adalah cuap-cuap yang seharusnya saya tulis jumat lalu. Tapi karena dihantam beberapa ke sibukan (baca:malas), jadilah baru disempatkan menulis di malam ini.

Jika Anda laki-laki, muslim, tentu setiap jumat, kita sholat jumat. Ada satu kalimat wajib khas yang -seharusnya- memang selalu muncul dalam awal-awal khutbah pertama. Kalimat tersebut kurang lebih seperti ini.

“marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita”
yang kemudian dilanjutkan (ini inti artikel saya kali ini)
“karena sebaik-baik bekal adalah taqwa”

Jumat kemarin saya pun mendengar kalimat tersebut sebagaimana jumat-jumat sebelumnya. Namun kali itu, ada sesuatu yang menarik yang membuat saya berpikir, sekaligus kagum, sekaligus bersyukur.

Pernahkah kita merenungi kenapa dikatakan sebaik-baik bekal adalah taqwa? kenapa kata ini yang dipilih? kenapa parameter taqwa yang dijadikan pedoman agar seseorang itu dikatakan beruntung, sukses, atau hal-hal lainnya.

Kenapa bukan parameter semisal kekayaan? sebagaimana yang senantiasa dilakukan orang-orang kapitalis kepada anaknya, “nanti kamu harus jadi orang kaya le, nduk“. Kenapa juga bukan kecerdasan? “belajar yang rajin nak, biar jadi pinter ini itu”. Atau kenapa bukan seperti orang-orang filosof, sufi, “raihlah kedamaian hati, kebahagiaan hati” dan semacamnya?

Bukan juga parameter kekuatan, jabatan, kehormatan maupun hal-hal lain yang sesungguhnya itu semua sungguh sangat bisa digunakan untuk sarana melakukan kebaikan lain, dengan lebih luas?

ataulah jika

Dalam pikiran saya, beryukur karena dalam Islam ini yang dipilih sebagai role model adalah parameter taqwa, taqwa, dan taqwa. Yang kalau secara terjemahan biasa -menaati apa yang diperintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang-. Dan inilah sebuah mabda yang kemudian menjadi universal. Yups, dengan dijadikannya taqwa sebagai parameter, maka ini menjadi satu tonggak universalitas Islam diatas ideologi-ideologi manapun!!

Ini artinya baik Anda menteri, ataupun kuli, anda tetap bisa masuk surga, selama Anda bertaqwa. orang yang kaya luar biasa bisa masuk surga selama dengan kekayaannya ia memperolehnya dari jalan yang halal, beramal, sedekah, menafkahkan hartanya di jalan Allah, -yang kita singkat dengan satu kata : bertakwa- maka si kaya bisa masuk surga. Si miskin pun bisa bertakwa, dengan amal shaleh lainnya, dengan menjauhi larangan-larangan agama. Sebegitu universal taqwa ini, sampai-sampai tak hanya ustadz saja yang bisa bertakwa, seorang polisi, kuli, mantri, atau seorang buruh, manajer, guru, maupun bahkan seorang pengangguran sekalipun ia tetap bisa jadi menjadi orang yang bertakwa. Universalitas taqwa

Ini artinya anda yang sudah es tiga, maupun tamatan es de kelas tiga, atau yang belajar membaca dari anak tetangga, tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak peduli IQ anda seratus empat puluh lima, atau merangkak dari angka seratus dua, Anda tetap bisa jadi orang yang bertaqwa. Bahkan seandainya saking (maaf) bodohnya Anda sampai mendekati batas-batas disebut idiot, Anda tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak peduli Anda ahli retorika, atau masih gagap berkata-kata, Anda tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Standar taqwa bagaimanapun juga telah merubuhkan batasan-batasan intelektual.

Demikian pula dengan bahasa-bahasa filosof, sufistik, maupun lainnya. Taqwa bisa diraih meskipun Anda seorang yang bertemperamen keras, kasar seperti umar. Tak harus Anda adalah orang yang senantiasa cool calm untuk menjadi orang yang bertaqwa, tak harus menjadi orang yang lembut, tak harus menjadi orang yang dalam satu hari tak sekalipun ia marah untuk menjadi orang yang bertaqwa. Karena memang standar yang dipakai bukanlah kelembutan kata, bukanlah kedamaian hati, bukanlah emosi, tetapi standarnya ialah taqwa.

Taqwa adalah parameter yang sedemikian universal sehingga tak hanya orang yang di Arab saja yang boleh dan bisa bertaqwa. Kita yang di Indonesia, China, Argentina,  maupun -andai ada- orang yang hidup di antartika tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak hanya orang yang sudah lanjut usia saja, bahkan seorang remaja yang begitu baligh, dia pun bisa menjadi orang yang bertaqwa. Sedemikian universalnya taqwa, sampai ia menembus batasan-batasan demografis, garis teritorial negara, suku, ras, dan bahkan budaya.

Sekarang jika sudah, silakan membandingkan tujuan dan universalitas pencapaian Islam, dibandingkan dengan ideologi-ideologi lain, silakan mau Anda sebut ideologi Anda apa… :) sosialis, kapitalis, atau apapun pada akhirnya kita harus bersyukur, bahwa parameter, bahwa standar, dan tujuan pembentukan Islam, adalah taqwa. Semua orang punya kesempatan mendapat surga, asal ia bertaqwa. Ah, (untunglah) taqwa. :)

Cuap-Cuap Jumat
21 Mei 2010

Istiqomah

hari ini saya kembali takut…. lepas dari kisah yang pernah saya tulis disini, ada sebuah kisah yang disampaikan ikhwan satu liqo’ kepada saya tadi pagi. Dan kisah ini terus terang membuat saya kontan gemetar, -takut-.

Ada seorang muslimah, akhwat bahkan, yang ikut dalam sebuah program pertukaran pelajar. Namanya pertukaran pelajar, tentulah keluar negeri, dan dari yang saya tangkap, ini bukan negeri islam.

Singkat kata, sang akhwat tersebut berubah drastis, fikrahnya menjadi tak lagi islami. Murabbi saya menceritakan bahwa MR akhwat ini sampai mengeluh dengan diskusi-diskusinya terhadap akhwat tadi via facebook. Dan kabar dari ikhwan teman saya tadi menyebutkan, bahwa si akhwat pertukaran pelajar tadi sudah sampai lepas jilbab… Masya Allah… :(

Dan saya semakin takut, dan takut…. siapa yang bisa menjamin hidayah saya esok pagi? Semoga Istiqomah Kawan
Pada akhirnya kita hanya bisa berdoa“ya muqollibal quluub, tsabit qolbi ‘ala diinika”, Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar senantiasa pada agama-Mu.

Malang, 17 Maret 2009
semoga kita tetap istiqomah kawan

ps: ketika menulis artikel ini, saya sambil membuka2 blog akh suaidi, dan makin takut sekaligus tertohoklah saya melihat tulisannya disini

Tahu Crispy ala Sahidi

Jadi ceritanya, saya punya satu blok tahu (beli di pasar 2500), sudah saya cuil sedikit buat tahu telor makan siang :D . and then, sore itu karena gak ada jajan sama sekali di rumah, kepikiran, gimana kalau tahu yang ada dibuat jadi tahu crispy? Hemmm…..

Pernah makan tahu crispy kawan2? kalau gak pernah silakan coba yang versi original di sukarno hatta, malam hari di bekas bengkel, ada tulisannya besar, Tahu Crispy Kriuuuk… dulu pernah dibelikan waktu malam-malam halaqah. Kalau tak salah harganya 5000 or 6000 satu kotak jajan kecil, Isinya sedikit. Sewaktu memperhatikan mereka memasak, iseng-iseng ngelihat bagaimana caranya mereka masak. Ternyata woooow…. dan ketika saya mendekat, saya  mencium aroma yang tak asing lagi…. Hemmm… rupanya bumbunya cuman itu doang. Ahay, ketemu resepnya!

So akhirnya tadi malam saya bereksperimen…. mission Tahu Crispy begin!!! Ini Resepnya kawan-kawan

resep selengkapnya

Hobi Lama yang kembali baru

Jadi kalau dihitung-hitung saya sekarang jadi jarang nge-blog. Kalau gara-gara mas Suaidi gak SMS semalem mungkin hari ini saya pun juga nggak nge blog. SMS nya simpel,
“Jadi apa yg menghalangi qt untuk ngeblog? www.mbahjiwogoblog.wordpress.com” ini thok.

but ya emang gara-gara ini saya jadi pengen ngeblog meski coret2 tak beraturan.

Selama saya off sekian waktu kemarin, ada beberapa kabar yang mesti saya update.

- Keyboard yang telah menemani saya bersama PC (bukan laptop) selama 9 tahun, akhirnya rusak. akhirnya terpaksa dah beli keyboard baru 25rb.

- Fatimah habis sakit, memorynya hilang separuh, dari 2GB, jadi ilang tinggal 1GB (kok bisa ya? aneh). dan selain itu, fatimah pun habis saya install ulang… untung ada Adib dan harddisk ajaibnya (baca : eksternal) sehingga proses backup data berjalan dengan lancar di LINUX.

- Saya jadi kecanduan nonton film The Penguins of Madagascar. Konyol abis. kalau mau lihat, downlod aja di indowebster.com

- Saya jadi seneng ngedesain…. kaliini desain stiker. cos saya dari dulu punya keinginan yang belum keturutan lagi sejak lama. bikin stiker dakwah. isinya ya dakwah, meski simpel, meski rumit, pokoke dakwah. Ingin ngehidupin kembali biah2 islami dari hal2 sederhana sebagaimana di masa maba dulu, stiker islami, pin islami, poster islami, dll yang kayaknya sekarang2 ini makin jarang aja.. :(

- desain nanti saya update dulu nanti…

sementara itu dulu. postingan dilanjut nanti kalau ada waktu, hehe.. :D

Jadi menjawab pertanyaan mas suaidi…. Apa yang menghalangi kita untuk ngeblog??? hmmmm…. yang jelas bukan kesemua diatas. jawaban yang tepat bagi saya adalah : MALAS :D

My Fear Factor

Apakah kawan punya sesuatu yang kawan takutkan???
Saya yakin, se-berani apapun seseorang, ia pasti memiliki sesuatu yang ia takutkan, seberani apapun, dan seheroik apapun seseorang tersebut, saya yakin ia pasti memiliki “fear factor” di dalam dirinya. Dan fear factor ini pun bermacam-macam, mulai dari yang berlaku secara universal semisal ketakutan terhadap maut, ketakutan terhadap Allah, dan siksanya, hingga ke hal-hal kecil, semisal ketakutan seseorang terhadap anjing, terhadap hantu, ketinggian, ruang sempit, dan semacamnya. Dan hal ini memang wajar dan manusiawi.

Dan diantara sederet hal-hal penyebab phobia saya, ada satu yang saya menganggapnya penting. fear factor ini bukan berupa sebuah benda fisik, melainkan lebih ke arah sesuatu yang abstrak…. dan filosofis.

Dan bagi saya, fear factor itu adalah ‘keteguhan hati’.
Ya, saya paling takut apabila semisal kelak, diri ini tak lagi istiqomah… :(

Wallahu alam, entah berapa banyak kisah-kisah ke-istiqomahan yang terhenti itu, yang seringkali mengusik ruang-ruang imajiku. Dari kabar-kabar di berita, dari kabar-kabar dari murabbi, kabar dari kawan, dari teman, dari internet, dari media massa, hingga kawan-kawan dekatku sendiri… :( Semua bagai potongan-potongan pahit yang harus ikut aku rasakan setiap mendengar hal-hal tersebut. Dan episode-episode seperti ini sudah aku dengar semenjak kecil…

Dulu waktu saya masih SD, masih belum ‘cetho’  (mumayyiz),  ada sahabat kakakku. Sebut saja namanya Mbak X. Beliau muslim, keluarganya pun muslim, meski ayahnya memang sudah meninggal. Kalau bulan Ramadhan tiba, mbak X ini pun sering berkunjung ke rumahku, di rumah, kami pun shalat tarawih berjamaah diimami oleh ayahku.  Namun Allah selalu punya kehendaknya sendiri. Ibu dari mbak X ini jatuh hati dengan seorang non muslim, menikahlah ibunya, dan sayangnya, bukannya si laki-laki yang pindah ke Islam,namun justru ibunya inilah yang pindah ke kristen. Dan efeknya, karena memang Mbak X ini masih kecil, ikut orang tua pula… pindahlah juga agama beliau bersama saudaranya yang lain. Terakhir kali aku dengar, beliau sudah menikah dengan pemuda kristen pula…

Ada pula dalam halaqah pekanan beberapa waktu lalu, ketika diceritakan oleh rekan sesama liqo’ yang aktif di RZI (rumah zakat Indonesia), yang bercerita tentang bagaimana perjuangan mereka menghambat laju kristenisasi di daerah2 pinggiran. Cerita bagaimana suatu RW yang beberapa tahun lalu mayoritas adalah keluarga muslim, kini justru berbalik drastis, keluarga muslim jadi sangat amat minim sekali, bahkan menjadi minoritas di daerah tersebut setelah diserang.

Ada pula cerita tentang seorang qori’ di kota Malang ini, bacaan qurannya Subhanallah sangat indah. Namun karena ujian ‘perut’ dan kemiskinan, beliau akhirnya pindah ke lain agama. Ada pula kisah seorang ustadz tentang seorang akhwat aktifis dakwah kampus, subhanallah beliau dikenal sangat strength dan militan dengan jilbab lebarnya. Namun selang setelah lulus, entah kenapa jilbabnya makin lama makin pendek, makin tipis, hingga akhirnya lepas jilbab sama sekali. Kabar terakhir bahkan menyebutkan akhwat tersebut sampai pindah agama. Dan cerita akhwat tersebut, ternyata dialami sendiri oleh seorang kawanku sendiri… Seseorang yang aku kenal sangat teguh dalam beragama, bahkan pernah sempat beliau mengenakan cadar, ketika pindah kampus, kondisinya justru berbalik drastis. Dengan jilbab mungil tipis, pakaian ketat, dan fikrah yang wallahu alam. Untung yang ini tak sampai pindah Agama seperti kisah seorang akhwat bercadar yang pindah agama karena di PDKT terus menerus oleh seorang pria non Islam.  Atau seorang akhwat Lampung yang terkena kristenisasi, lalu pindah agama. Yang ini untung segera terdeteksi dan segera disadarkan. Alhamdulillah beliaunya bertaubat dan kembali ke dalam Islam… Kasus-kasus berpindahnya iman seseorang, masih banyak lagi…

Adakalanya pula iman tak sampai berpindah, tak sampai ganti status agama di KTP, tak sampai pergi ke gereja-gereja, tak sampai hingga pindah agama. Tetap Islam, namun sungguh miris, fikrahnya (pemikiran) telah berpindah dan berubah. Dari seorang yang dulunya dikenal militan dan idealis, menjadi seseorang yang sangat kompromistis… berubahlah fikrah (pemikiran) dari pemikiran2 yang islami, menjadi pemikiran-pemikiran sekuler, aneh, nyeleneh, dan justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam sendiri. Dan tak jarang mereka merasa bangga dengan hal ini.

Ada seorang kawan SMP saya, waktu SMP memang anaknya boleh dibilang nakal. Ketika SMA kami tak satu SMA, beliau sekolah di sebuah sekolah favorit di luar kota. Ketika kuliah, Alhamdulillah kami dipertemukan. Waktu pertama kali bertemu di kampus setelah pisah sekian lama, aku sampai pangling (kaget). Subhanallah beliau menjadi sangat militan, aktif ikut kajian-kajian, Subhanallah, begitu pikirku. Namun ternyata tak butuh waktu lama untuk merubah seseorang, sekitar 2 tahun kemudian, al akh tersebut aku ketahui justru kembali lagi ke masa-masa kejahiliahan SMP dulu… pacaran, dlsb… masya Allah… :( betapa cepat Engkau membolak balik hati kami ya Allah…

Terkadang pula mendengar cerita tentang seorang ikhwah yang menyeberang ke wajihah lain, masih mending jika wajihah tersebut adalah wajihah ke-Islaman, apapun harakahnya, namun sangat miris ketika mendengar bahwa wajihah tersebut adalah wajihah sekuler, dan akhirnya mau tak mau akal ini mencoba dipaksakan untuk merangkai-rangkai alasan husnudzan terhadap ikhwah tersebut.

Ada pula kabar-kabar tentang seorang al akh yang memang selama ini dikenal kritis, namun kekritisan beliau justru menjadi senjata makan tuan. Kabar terakhir yang aku dengar, beliau sudah tak mau lagi liqo’, bahkan tak sekedar itu, kini ia menjadi sebuah gerakan yang dibilang kontradiktif terhadap dakwah di fakultasnya.

Ada pula dulu seorang al akh pula yang sangat disegani bahkan oleh seluruh ikhwah kampus, namun karena masalah wanita, beliau justru berbalik drastis terhadap apa yang beliau bela selama ini. Karya terakhir beliau untuk dakwah justru menjelek-jelekkan sebuah organisasi dakwah, masya Allah… untung saja setelah itu tak ada lagi kasus lagi dari beliau.

Ada pula… ah jika hendak aku list satu persatu… rasanya tak akan cukup… Dan sepertinya masih ada banyak lagi kisah-kisah orang yang aku kenal yang terhenti dari jalan lurus ini. Tak peduli apapun levelnya, dari yang masih baru belajar, hingga yang sudah semacam panglima dalam pergerakan dakwah. Apa yang tertulis diatas hanya sekelumit penggalan-penggalan cerita, dari sekian banyak kisah yang Allah tunjukkan kepadaku. Bersyukurlah apabila orang-orang tersebut sempat kembali lagi ke dalam jalan yang benar… :( orang-orang seperti ini harus kita sambut dengan sebaik-baiknya, bukan justru kita musuhi dan kita asingkan selama-lamanya…

Saat ini orang-orang dan pemuda seperti aku masih bisa meneriakkan, “lebih baik terasing daripada menyerah dalam kemunafikan”, namun sungguh aku pun tak akan bisa menjamin.. akankah kelak aku seperti ini???  ketika mulai bersentuhan dengan strata sosial yang lebih luas, berbenturan dengan masalah-masalah pekerjaan dan nafkah, masyarakat, dll.

Mengutip status seorang sahabat, “untuk pertama kalinya ada importir bilang,”ini pak sebagai ucapan terima kasih, karena saya sudah menyita waktu bapak.” akhirnya godaan itu datang juga, Alhamdulillah bisa nolak”. Masya Allah, batinku, ini tahun pertama beliau sudah seperti itu, apalagi di tahun-tahun kedepan… boleh jadi akan makin berat godaannya. Syukurlah sahabatku masih bisa mempertahankan prinsip2 idealismenya… dibandingkan dengan ribuan bahkan jutaan lain masyarakat di seluruh belahan bumi yang memilih mengorbankan idealisme, harga diri,kehormatan, bahkan aqidahnya untuk secuil dunia yang tak akan menyelamatkannya di akhirat kelak…

Ya Allah, akankah masih Idealisme ini, prinsip-prinsip, idealisme, bahkan aqidah ini akan tetap ada dalam hatiku?? tahun depan? 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? 25 tahun lagi? Berikan hamba kekuatan ya Allah…

Dan semakin aku pikirkan, semakin takutlah aku…
Pada akhirnya aku hanya bisa berdoa… “ya muqollibal quluub, tsabit qolbi ‘ala diinika”, Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini agar senantiasa pada agama-Mu.

Malang, 11 Januari 2010 00:30 dini hari


Tenggang Rasa Yang Telah Tiada

Masih ingatkah kita tentang pelajaran tenggang rasa?
Itu tuh, yang diajarkan guru budi pekerti dan pendidikan agama?
Bahasa bukunya tenggang rasa, kalau populernya, Empati namanya
Tepo seliro, itu kata orang jawa

Di soal pilihan ganda, mulai sekolah dasar kelas dua,
Kita dapati jawaban-jawaban normatif kita, tentang tindak terpuji
- membantu menyeberangkan nenek-nenek (ini yang populer)
- tidak menyetel radio keras-keras
- memberikan kursi kita di angkutan umum pada nenek/orang cacat
- membuang sampah pada tempatnya
- menjaga perasaan orang lain
- dan lain-lain

tepi heran, heran dan heran lah kita
di bis kota, antar kota dan di atas kereta kelas tiga
kita lihat ada orang cacat, ada ibu hamil dan nenek tua
berdiri mereka dengan tenaga yang tersisa
tapi kita malah pura-pura tak melihat, alih mata ke jendela
“yang penting saya tak capek”, dalih setan kecil kita.
Ugh, kemana pelajaran kepedulianmu kawan?
sudah habiskah kepolosan kebaikan kita???

di rumah pun kita tak jauh beda,
lagu dangdut, pop rock hingga ska campursari
kita setel semau kita…. “yang penting gue suka!”
tanpa sadar musikmu itu menyakiti telinga tetangga
“mang semua suka gaya lagu loe”, itu gumamnya.
“kalau mereka keganggu, mereka bakal protes”, lagi-lagi setan kecil yang berkata
iya kalau kau tinggal di rumah luas, dengan tetangga satu kilo jauhnya?
lah ini, kau batuk saja, dua tiga rumah kujamin langsung terjaga

di jalan, di pasar, di tempat-tempat umum kita sama saja
lepas makan permen, kita buang seenak kita
bungkus plastik kita lempar dari jendela bis kota
gelas dan botol air minum yang masih sisa pun apalagi
padahal tempat sampah tak sampai semeter jauhnya
atau jika tidak, kenapa tak kau simpan dulu sejenak,
lalu jika bertemu tempat sampah, kau buang sampahmu kesana
apa sih susahnya??? butuh biayakah?? TIDAK kan??
ah tapi kita selalu dengar setan kecil di dada kita
‘biarin, toh nanti paling juga ada yang bersihkan’
Ah, andai kau tahu betapa berterimakasihnya mereka
para pasukan kuning, cleaning service dan para pembantu
jika kau buang sampah di tempat yang semestinya…
dan andaikan alam mampu tuk berkata-kata,
tentu sudah ber-’terima kasih’ mereka atas tindakan kita

di kantor, di arisan RT, di forum-forum ngerumpi
Pamer kita atas apa yang kita miliki pada orang lain
ceplas ceplos tertawa, senyum penuh kemenangan kita cerita
pada kawan yang terlilit hutang kita bilang, “aku tadi habis beli ini lho jeng!!”,
pada kawan yang anaknya tak lulus UAN kita cerita, “anakku sekarang wisuda es dua, habis ini nikah ma direktur”,
pada kawan yang beli motor bekas pun harus kredit 3 tahun, “Avanza? nggak level lah, minim ya harus Camry”,
pada kawan yang tengah patah hati, “ini loh suamiku ganteng kan jeng??”,
Tanpa pernah berpikir, akankah pendengar terluka dalam jiwanya?
Namun kita tak pernah peduli, terus saja kita cerita dan cerita
Dan kawan itu hanya tersenyum, tersenyum penuh simpati kepadamu
Sambil terus, dan terus menahan luka yang kian ia tutupi saja

Dan kini, ketika komunikasi justru kian dan kian mudah saja
makin gampang kita curhat, update status, upload foto, upload video
makin mudah kita untuk pamer, untuk mengeluh, untuk mencaci
dan anehnya kita merasa nyaman-nyaman saja
tanpa sadar nun disamping kita yang tak terlihat
dua malaikat tengah ikut sibuk mencatat
setiap update status facebook kita
setiap tweet-tweet kita
setiap email-email kita, ke kawan atau kemilis
setiap comment-comment kita
setiap tag-tag kita
setiap postingan dan upload foto video kita
adakah yang kita tulis dengan rasa ujub,
yang kita tulis dengan dendam rasa kebencian, kemarahan
ataukah maksud dakwah, ukhuwah, kerendah hatian, dan kesyukuran?
wallahu ‘alam… tanyakan kembali pada hati kecil kita
jangan biarkan setan kecil yang ambil suara

Ah hebat benar kita bicara lantang tentang ukhuwah, persaudaraan,
Protes teriak ketika kita dirugikan, disakiti ucapan sesama kawan
namun aneh dan sungguh aneh,
ketika kita bertutur bertindak tak peduli apa yang dirasa orang lain
ketika kita diam cuek tak peduli pada kelelahan orang lain
ketika kita bersenang-senang diatas ketergangguan orang lain
ketika kita justru tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan
saat si pendengar justru sakit air mata bercucuran

Ya Allah jauhkanlah dari kami kesombongan
keegoisan, ke tak pedulian, ketidak sopanan
ajarkan kami tentang kesantunan dan sifat perasa
Anugerahkanlah pada negeri ini apa yang telah lama tiada
karena kami telah rindu 
-Tenggang Rasa-

www.tts.web.id
Malang, Jumat 25 Desember 2009
menjelang tengah malam