Author Archive

Ketika Dosen MIT Mengajarkan “Paijo Algorithm” Kepada Mahasiswanya

Saya masih ingat kata salah seorang rekan, maafkan saya lupa namanya. Bahwa salah satu yang membedakan antara jurusan Ilmu Komputer dengan jurusan IT lain (semacam teknik informatika), ada pada porsi science-nya. Ketika program studi lain lebih berorientasi  kepada dunia industri, dunia pembuatan software dan sebagainya, di ilmu komputer, hal yang lebih ditekankan ada pada sisi sciencenya, ada pada sisi keilmuannya. Ibarat di sebuah pabrik, orang-orang ilkom berada di bagian RnD, orang-orang IT lain, ada pada bagian unit Produksi, Quality Control, dlsb.

Pendek kata, di Ilmu komputer, “SEHARUSNYA” kita lebih ditekankan menjadi seorang ilmuwan, daripada seorang programmer, system analyst, network administrator, dsb. Tak heran jika dalam kurikulum ilkom porsi terkait dunia usaha memang tak terlalu ditekankan, meski untuk kesana, otomatis sudah tersedia dengan sendirinya dengan seabrek mata kuliah yang mendukungnya. Toh tak perlu saya bahas mengingat anak ilkom tentu tahu bahwa secara teori dan praktek di lapangan pula, dalam soal buat membuat software, anak ilkom pun tak kalah dengan anak dari jurusan non ilkom.   Karena toh hal-hal tersebut termasuk kurikulum wajib dalam ilmu komputer, meski sekali lagi, tak terlalu diberikan porsi berlebih dan terlalu mendalam, karena sekali lagi pada ilkom, fokus utama (seharusnya) ada pada riset.

Nah, tapi masalahnya, sebagaimana setiap mahasiswa ilmu komputer lain tahu, bahwa tentu kebanyakan dari kita kuliah disini untuk membidik “masa depan” yang lebih cerah. ini berarti uang, dan kita sama-sama tahu bahwa ini berarti, sisi-sisi seorang ilmuwan IT, mau tak mau adakalanya dikesampingkan.

Imbasnya, bisa ditebak. Dari sekian alumni jurusan ilmu komputer, sangat jarang yang terdengar berkarir sebagai seorang peneliti. Tak perlu berkarir pun tak masalah, setidaknya kita mendengarnya sebagai seorang peneliti, baik secara di lembaga (macam LIPI atau ristek, atau swasta), maupun secara individu, baik secara profesional, maupun amatiran, full time, maupun part time, atau sekedar penghobi sekalipun tak masalah.

Kalaupun ada, itu lebih pada tuntutan dunia kerjanya, semisal seorang dosen, RnD perusahaan swasta, dan semacamnya, yang memang secara iklim mendukung dan menuntut untuk ke arah tersebut.

Selebihnya? yang kebanyakan saya dengar hanya anak-anak Ilkom yang ber”akhir” di kantor-kantor swasta dan pemerintah, sebagai programmer,  IT adminstrator, system analist, sebagai network admin, guru, dosen, atau bahkan profesi-profesi yang tak ada hubungannya dengan ke-IT an sedikitpun. Soal adanya teliti meneliti, lebih pada tuntutan profesi masing-masingnya, itu pun lebih pada perancangan pembuatan sebuah program yang sulit, yang rumit, sesuai dengan kebutuhan profesi mereka. Sekali lagi, lebih pada membuat program, daripada membuat sebuah inovasi keilmuan baru.

Tapi SELEPAS DARI TUNTUTAN PROFESI tersebut, adakah dari mereka ini yang mengambangkan penelitiannya? atau mencoba menemukan sebuah rumus baru? algoritma baru? cara baru? metode baru? atau bahkan cabang ilmu yang baru??? Ah, telinga saya memang kecil, semoga saja ada, dan Anda lah ini orangnya, atau paling tidak Anda yang akan menjadi orangnya. Amin.

Ah ya, inti dari tulisan ini, sebenarnya saya hendak mengajak kita ini warga ilkom untuk ingat bahwa kita ini “sebenarnya”, menjadi bagian dari dunia sains, tak sekedar dunia industri. Karena setahu saya -semoga saya salah- Saya belum pernah menemukan orang Indonesia yang menjadi penemu dalam bidang keilmuan komputer ini. Yang ada lebih pada penerapan suatu ilmu untuk sebuah permasalahan, entah permasalahan dunia sains maupun dunia industri. Sejauh yang saya dengar yang banyak adalah orang membuat aplikasi ini dan itu, untuk masalah ini dan itu. Ya, kebanyakan kita lebih pada sebatas implementor daripada seorang scientist, apalagi seorang inventor, mungkin masih jauh.

Tapi ketikah dihadapkan pada pertanyaan,
Adakah dari kita menemukan sebuah METODE BARU??
Atau setidaknya MENCOBA mengembangkan??
Atau paling tidak BERKEINGINAN untuk MENEMUKAN METODE BARU??

Tidakkah dari kita-kita ini ada yang ingin, agar kelak anak cucuk kita, penerus generasi negeri ini pun bisa merasa bangga, ketika mereka belajar di bangku-bangku kuliah ilkom, mempelajari buku teks tebal berlembar-lembar,
lalu membaca nama-nama Indonesia dideretan nama-nama Djikstra penemu shortest path,
diantara CAR Hoare si penemu quicksort,
diantara McCulloch Pitts, dan Teuvo Kohonen ilmuwan jaringan syaraf tiruan,
Atau setidaknya dideretan nama-nama ahli-ahli di sub bab latar belakang  ditemukannya metode tersebut.

Tidakkah dari kita-kita ini ada yang ingin, suatu saat kelak, di buku teks mahasiswa ilmu komputer di seluruh dunia, dibahas dan dibicarakan nama-nama orang Indonesia, terlebih jika nama tersebut mengikuti sebuah cabang ilmu. Ketika dosen-dosen di Jerman, di Tokyo, di Riyadh, di Sydney, bahkan di kampus saya di Brawijaya diajarkan Algoritma dan metode dengan nama-nama Indonesia.

Tidakkah dari kita-kita ini ada yang ingin, ketika di ruang-ruang kelas mereka, dibicarakan soal “Toriq SupraGenetic Algorithm”, “Toni Artificial Hormone System”, “Adinata ParaNeuro Fuzzy”, “Endra Shortcut Network”, dan nama-nama Indonesia lain bersandingan dengan istilah-istilah bidang sains komputer.

Tidakkah dari kita-kita ini ingin ada hal-hal membanggakan negeri ini seperti itu?
Atau hanya saya yang berlebihan dan ingin mendengar ada nama-nama tersebut?
Wallahu alam, semua jawaban kembali pada Anda.

Saya hanya bisa mengajak, kepada mereka yang telah merasakan pendidikan ilkom, agar setidaknya menghidupkan iklim-iklim sains, inovasi, penemuan dalam keseharian kita, Sekecil apapun disela-sela waktu senggang kita. Di sela-sela kesibukan mengajar, disela-sela membuat program klien, disela-sela memonitor network, dan semacamnya. Tak peduli kita ini “terdampar” di dunia industri se industri dan sekapitalis apapun. Tak perlu besar besar di awal, mulai saja dari hal-hal kecil dan sederhana dahulu pun tak masalah, mulai dengan modifikasi ini itu, menggabung ini itu, dan semacamnya.  Semoga dengan ini saya berharap, bahwa kelak para pengenyam jurusan ilkom, tak menjadi sekedar bagian dunia “juru ketik” kode program, maupun dunia industri IT lainnya.

Karena sungguh, alangkah amat sayang, ketika seorang ilkom yang semisal sudah bersusah-payah belajar berjenis-jenis sains komputer, entah itu kecerdasan buatan maupun yang lain, namun tak dimanfaatkan ilmu tersebut disisa umurnya.

Ngomong-ngomong, saya jadi membayangkan, jika kelak di ruang kuliah MIT, NTU, Todai, Oxford, Harvard, UI, bahkan di Brawijaya, seorang profesor di ruang kelas mengajarkan kepada mahasiswa mereka, tentang sebuah algoritma bernama,  ”Paijo Algorithm”.

Malang, 26 Agustus 2010

sms taujih – konfrontasi

Selamanya kebenaran akan berkonfrontasi dengan kekufuran… baik secara dzahir maupun tersembunyi.

Nilai Kejujuran

mencontekAda satu episode di masa SMA saya yang paling saya ingat sampai sekarang, sekaligus paling saya sesalkan. Ini episode terpenting di masa-masa SMA saya. Episode tersebut adalah ketika saya (bersama seluruh teman lainnya) beramai-ramai,contek-mencontek dalam sebuah momen ujian. Bisa kita usulkan ke kamus besar bahasa indonesia, -comal- mencontek masal.

Pada saat itu memang satu-satunya episode mencontek yang “dilegalkan” dan “diinstruksikan” (dengan tanda kutip besar) di daerah kami,  tapi sebagai akibatnya, kini saya amat sangat menyesal. Bahkan atas nilai hasil ujian yang didapat tersebut pun, sungguh tak ada satupun rasa bangga saya disana. Terlebih jika ingat bahwa itu adalah satu-satunya episode SMA dimana saya mencontek, setelah selama tiga tahun lamanya saya bertahan dalam sebuah komitmen untuk tidak mencontek selama ujian!

Pasca momen tersebut (yang hanya sekali), saya benar-benar sangat menyesal, dan sebagai imbasnya, saya tak pernah lagi kompromi soal contek mencontek. Dan selama kuliah, Alhamdulillah tak sekalipun saya mencontek ketika ujian. Saya lebih memilih mendapat nilai jelek tapi itu hasil kerja sendiri, daripada nilai bagus hasil mencontek. Jadilah saya orang yang memilih “walkout” dini ketika ujian karena memang tidak bisa mengerjakan, dan terkadang juga memilih  ”tinggal kelas” sebagai peserta ujian yang terakhir keluar karena lambat memikirkan sendiri jawaban ujian.

Saya pun bersyukur, bahwa saya ternyata tidak sendirian. Dahulu ketika SD adakalanya ketika tidak mau memberi contekan, saya sering diancam ini itu oleh beberapa “jagoan” kelas. Ketika SMA,  syukurlah sudah tak ada lagi hal-hal tersebut. Alhamdulillah meski ketika SMA sampai kuliah, ada teman yang “berkompromi” saat ujian, namun ketika saya tidak mau macam-macam seperti itu, Alhamdulillah mereka mengerti.

dan Saya memang  tak pernah peduli jika dibilang pelit, sok suci, atau semacamnya, integritas memang bernilai mahal bagi yang memilikinya”

Di kuliah, Alhamdulillah saya dipertemukan pula dengan orang-orang yang serupa. Orang-orang yang tak mau berkompromi, baik mencontek ataupun dicontek. Di kelas saya memiliki sahabat dekat (Adib) yang memiliki prinsip yang sama, di organisasi pun saya memiliki sahabat-sahabat yang semua berprinsip untuk tidak mencontek, ada Mahatir, mas Bayhaq, dan ikhwah-ikhwah lain tentunya. Meskipun memang ada  pula dari teman-teman kuliah lain yang adakalanya “berkompromi” saat kondisi memungkinkan.

Dan Alhamdulillah pula, ketika kini Allah pun mempertemukan saya dengan seorang istri yang sejak dulu memiliki prinsip sama pula. Anti mencontek. Lebih baik jelek hasil sendiri, daripada bagus hasil mencontek. Mertua saya pernah bercerita, bahwa istri saya ini pernah ikut sebuah seleksi pra Olimpiade sains, ketika seleksi tersebut, teman-temannya banyak yang mencontek. Istri saya ini memilih tidak mencontek. Hasilnya bisa ditebak memang, istri saya tidak lolos sedangkan teman-temannya yang mencontek, justru lolos seleksi pra olimpiade sains. Namun bukannya sedih, Istri saya waktu itu justru  berkata begini,”kasihan orang tuanya, dibohongi oleh anaknya sendiri” (maksudnya kasihan orang tuanya, bangga pada prestasi anaknya, padahal prestasi tersebut hasil mencontek/curang).

Klik untuk melihat berita

Klik gambar untuk melihat berita (Guru Nyontek Saat Ujian di Universitas Terbuka)

Ah, terus terang saja, agaknya memang “mencontek” adalah penyakit pelajar sekarang ini. Ketika SD ada teman-teman saya yang mencontek, ketika SMP, ternyata banyak juga yang mencontek, di SMA, bahkan di kuliah pun sama saja. Saya katakan pelajar, karena penyakit ini menjangkit tak hanya kalangan anak SD-mahasiswa, bahkan guru-guru yang seharusnya memberi contoh yang baik, justru ada yang mencontek ketika mereka ujian. Agaknya contek-mencontek sudah menjadi “budaya wajib” setiap pelajar yang ingin mendapat nilai bagus, tak peduli ia pelajar pintar ataupun bodoh.

Yang “tak terlalu pintar” mencontek karena ingin mendapat nilai bagus, yang pintar mencontek pula karena khawatir nilainya kalah dengan yang “tak terlalu pintar”.

Asal pengawas lengah, pengawas tak lihat, pengawas tak tahu, maka menconteklah untuk mendapat hasil “maksimal”. Beragam cara pun digunakan, yang sederhana melihat teman sebangku. Kalau “si pintar” agak jauh, dibukalah permainan lempar bola kertas. Ketika muncul teknologi Handphone, sms saja jawabannya. Kalau kondisi lebih memungkinkan, “mengukir meja”, buka buku, buat catatan-catatan kecil, dan semacamnya.

Maka menjadi sebuah peraturan tak tertulis dibenak setiap pelajar, -mengutip kata seorang guru saya- “Boleh mencontek asal tidak ketahuan“.

Tapi tak urung, urusan contek mencontek ini memang membuat saya paling miris. Saya terkadang membayangkan, apakah orang-orang besar dahulu semacam Hasyim Asyari, Ahmad Dahlan, Soekarno, Natsir, Hatta dll apa mereka pernah mencontek ya ketika ujian? wallahu alam… :(

“Ah, jangan heran jika di Indonesia banyak koruptor, kalau kecilnya di sekolah kita sudah terlatih untuk ‘korupsi’ ketika ujian.”

Bagi saya, ini “wajar” terjadi karena sejak kecil kita diajarkan untuk lebih ber-orientasi pada nilai akhir, kita di’tuntut’ untuk mendapatkan prestasi, sementara prestasi identik dengan nilai ujian, dengan nilai rapot. sementara nilai-nilai proses “mendapatkan nilai” lebih banyak dikesampingkan.

Saya yakin tak banyak orang tua (dan bahkan guru) yang mengajarkan kepada anaknya “tak mengapa kamu dapat nilai jelek tapi itu hasilmu sendiri, daripada nilai bagus hasil mencontek”. Yang sering adalah nilai jelek dimarahi, nilai bagus dipuji. Atau tak jarang pula ada orang tua yang tak perhatian pada sekolah anaknya, sehingga “nilai bagus” pun dijadikan si anak untuk mendapat perhatian dan pujian ayah bundanya, dan tak ada cara instan mendapat nilai bagus selain dari mencontek. Saya katakan TAK BANYAK, namun bukan berarti tak ada. Semoga saja Anda pembaca memiliki orang tua, atau menjadi orang tua yang “tak banyak” tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya kesadaran keimanan pelajar kita saat ini. Di sekolah kita lebih diajarkan menjadi orang yang tahu ilmu agama, daripada menjadi orang yang beragama dengan sebenarnya. Di sekolah umum, kita hanya mendapatkan pelajaran agama sekali setiap pekan, itupun tak banyak yang mengena esensinya. Di kuliah tambah parah, untuk universitas umum seperti di kampus saya, pelajaran agama hanya satu semester selama total masa studi. Andai tak ada program-program keislaman macam mentoring, rohis, dan semacamya, tentu makin rusak saja akhlak pelajar kita nanti.

“Kalau seseorang itu benar-benar keimanannya, tak mungkin ia mencontek meski tak ada pengawas ujian, karena ia selalu yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi “

Jangan terlalu berharap pada pelajaran macam PPKn, budi pekerti, dan semacamnya. Bagi saya, tetap kesadaran akan “Yang Maha Mengawasi”, tetap yang paling dibutuhkan. Orang yang memiliki integritas sekuat apapun, tetap saja rawan kompromi. Bagi saya, Integritas sebenarnya dihasilkan dari keimanan yang sebenarnya pula. Integritas yang tak didasari keimanan, adalah integritas yang rapuh, yang rawan kompromi di kemudian hari. Saya jadi ingat beberapa hari yang lalu ketika saya dan rekan-rekan rohis lainnya ujian Tatsqif, tak ada satupun yang contek mencontek meski pengawas sering keluar.

Agaknya tak hanya saya yang bermasalah dengan urusan contek mencontek. Beberapa hari yang lalu istri saya ‘mengadu’ kepada saya. Pasalnya dalam sebuah UAS yang ia ikuti, di sebuah mata kuliah yang terbilang sulit, petugas penjaganya justru keluar ruangan, dan menutup pintu. Alhasil bisa ditebak, seluruh teman-temannya mencontek semua. Hanya istri saya saja yang tetap komitmen tidak mencontek, dan istri saya tidak bisa mengerjakan soal tersebut. Beliau mengadu sambil sangat khawatir, bagaimana kalau-kalau nilainya jelek, mengingat tentulah semua temannya akan mendapat nilai ujian yang bagus. Beberapa hari kemudian beliau lagi-lagi ‘mengadu’, mengingat beliau harus menambah semester untuk mengulang mata kuliah yang kurang bagus. Dan beliau khawatir bahwa ia tak punya teman di semester-semester akhirnya. Dan kini beliau pun seolah ‘protes’ mengingat selama ini teman-temannya banyak yang mencontek, sehingga dapat nilai bagus, sehingga pula tak perlu mengulang mata-mata kuliah sulit di semester depannya.

Setelah saya dengarkan, saya sampaikan kepadanya sebuah peneguhan singkat, bahwa untuk apa iri kepada orang mencontek? Mereka menipu orang tua mereka, memberikan hasil seolah-olah anaknya pintar, padahal sama sekali tidak. Mereka pun menipu orang-orang sekitar, dengan nilai bagus seolah menjadi orang pintar, padahal “pintar” hasil mencontek. Dan yang paling parah, Mereka sebenarnya menipu diri mereka sendiri.Bahkan yang paling saya khawatirkan, bahwa nilai-nilai yang mereka dapatkan dari hasil mencontek tersebut, tak akan barakah sama sekali :( Ah, saya bangga dengan komitmen istri saya untuk tidak mencontek.

Ngomong-ngomong, soal contek mencontek, saya paling ingat jaman-jaman jahiliah saya ketika SMP. Waktu itu kalau tak salah saya kelas 3 SMP (ini masih masa jahiliah saya sebelum berubah seperti sekarang). Waktu itu saya masih ingat benar, di pelajaran Agama, ketika guru memberikan ujian, guru tersebut selalu meninggalkan ruang kelas setelah memberikan soalnya. Alhasil, semua anak langsung mencontek. Mengingat waktu itu, soal yang diberikan si guru memang membutuhkan jawaban yang berpanjang-panjang. Sepintar apapun anaknya, rasanya mustahil menjawab semuanya, karena ya itu, jawabannya sangat banyak. Saya pun termasuk dalam orang-orang yang mencontek waktu itu, mengingat ya memang itu masa-masa jahiliah saya, saat belum mengenal Islam seperti sekarang. Ketika itu, saya ingat benar, ada seorang dari teman saya (insya Allah namanya Maher) yang tidak mencontek sama sekali. Saya hafal betul, bahwa setiap ujian agama, setiap si guru meninggalkan kami, dan setiap seluruh kelas membuka buku (mencontek), hanya beliau yang berkomitmen untuk tidak membuka buku. Alhasil, ketika seluruh dari kami sudah selesai mengerjakan (karena memang hanya menyalin dari buku), kawan saya ini paling akhir mengumpulkannya. Dan ketika dibagikan nilai hasil ujian, sering beliau mendapat nilai yang dibawah rata-rata. Tapi satu hal yang saya ingat betul, tak ada rasa iri  ataupun benci kepada kami, maupun rasa sesal di wajahnya. Ah, memang kejujuran dan integritas adakalanya berasa pahit, tapi yang pahit itu selalu membawa senyum dan kebanggaan bagi pemegangnya. Alhamdulillah ketika SMA saya tersentuh oleh Islam, mulai ikut rohis dan macam-macam, dan saya pun komitmen untuk tidak lagi mencontek.

Kini saya yakin bahwa orang tua (mungkin) hanya melihat hasil nilai ujian kita,tapi saya yakin bahwa Allah lebih melihat nilai kejujuran kita ketika ujian. Tinggal pertanyaannya, lebih takut kepada Allah ataukah lebih takut kepada manusia kah kita??

Jadi Masihkah Anda (berani) mencontek??

Malang, 30 Juni 2010
(image from : http://siteruterubozu.wordpress.com)
(katanya) Kebangkitan Nasional

birokrasinya memang ruwet
jalan-jalan sering macet
listriknya kadang byar pet
kalau sakit bikin dompet mampet

jika hujan rawan banjir
jika kemarau rawan asap
karena negeri tak lagi berhijau
tapi merah biru penuh ruko
kita tak lagi tanam  sengon, jati, mahoni
sebagai ganti, kita tanam market mini
mal, ruko, dan kantor birokrasi

di koran beritanya bikin pesimis
di TV sinetronnya bikin miris
di Internet isinya tak kalah tragis
hadap kanan ada pembunuhan
hadap kiri pak menteri korupsi
hadap depan, tidurnya pak dewan
hadap atas nanti dibilang sombong
maka tunduklah kita ke bawah
melihat tanah menangis, M A L U

tapi inilah negeriku, Indonesia
dan ini tetap negeriku…

20 Mei 2010

(Untunglah) Taqwa

Ini adalah cuap-cuap yang seharusnya saya tulis jumat lalu. Tapi karena dihantam beberapa ke sibukan (baca:malas), jadilah baru disempatkan menulis di malam ini.

Jika Anda laki-laki, muslim, tentu setiap jumat, kita sholat jumat. Ada satu kalimat wajib khas yang -seharusnya- memang selalu muncul dalam awal-awal khutbah pertama. Kalimat tersebut kurang lebih seperti ini.

“marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita”
yang kemudian dilanjutkan (ini inti artikel saya kali ini)
“karena sebaik-baik bekal adalah taqwa”

Jumat kemarin saya pun mendengar kalimat tersebut sebagaimana jumat-jumat sebelumnya. Namun kali itu, ada sesuatu yang menarik yang membuat saya berpikir, sekaligus kagum, sekaligus bersyukur.

Pernahkah kita merenungi kenapa dikatakan sebaik-baik bekal adalah taqwa? kenapa kata ini yang dipilih? kenapa parameter taqwa yang dijadikan pedoman agar seseorang itu dikatakan beruntung, sukses, atau hal-hal lainnya.

Kenapa bukan parameter semisal kekayaan? sebagaimana yang senantiasa dilakukan orang-orang kapitalis kepada anaknya, “nanti kamu harus jadi orang kaya le, nduk“. Kenapa juga bukan kecerdasan? “belajar yang rajin nak, biar jadi pinter ini itu”. Atau kenapa bukan seperti orang-orang filosof, sufi, “raihlah kedamaian hati, kebahagiaan hati” dan semacamnya?

Bukan juga parameter kekuatan, jabatan, kehormatan maupun hal-hal lain yang sesungguhnya itu semua sungguh sangat bisa digunakan untuk sarana melakukan kebaikan lain, dengan lebih luas?

ataulah jika

Dalam pikiran saya, beryukur karena dalam Islam ini yang dipilih sebagai role model adalah parameter taqwa, taqwa, dan taqwa. Yang kalau secara terjemahan biasa -menaati apa yang diperintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang-. Dan inilah sebuah mabda yang kemudian menjadi universal. Yups, dengan dijadikannya taqwa sebagai parameter, maka ini menjadi satu tonggak universalitas Islam diatas ideologi-ideologi manapun!!

Ini artinya baik Anda menteri, ataupun kuli, anda tetap bisa masuk surga, selama Anda bertaqwa. orang yang kaya luar biasa bisa masuk surga selama dengan kekayaannya ia memperolehnya dari jalan yang halal, beramal, sedekah, menafkahkan hartanya di jalan Allah, -yang kita singkat dengan satu kata : bertakwa- maka si kaya bisa masuk surga. Si miskin pun bisa bertakwa, dengan amal shaleh lainnya, dengan menjauhi larangan-larangan agama. Sebegitu universal taqwa ini, sampai-sampai tak hanya ustadz saja yang bisa bertakwa, seorang polisi, kuli, mantri, atau seorang buruh, manajer, guru, maupun bahkan seorang pengangguran sekalipun ia tetap bisa jadi menjadi orang yang bertakwa. Universalitas taqwa

Ini artinya anda yang sudah es tiga, maupun tamatan es de kelas tiga, atau yang belajar membaca dari anak tetangga, tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak peduli IQ anda seratus empat puluh lima, atau merangkak dari angka seratus dua, Anda tetap bisa jadi orang yang bertaqwa. Bahkan seandainya saking (maaf) bodohnya Anda sampai mendekati batas-batas disebut idiot, Anda tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak peduli Anda ahli retorika, atau masih gagap berkata-kata, Anda tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Standar taqwa bagaimanapun juga telah merubuhkan batasan-batasan intelektual.

Demikian pula dengan bahasa-bahasa filosof, sufistik, maupun lainnya. Taqwa bisa diraih meskipun Anda seorang yang bertemperamen keras, kasar seperti umar. Tak harus Anda adalah orang yang senantiasa cool calm untuk menjadi orang yang bertaqwa, tak harus menjadi orang yang lembut, tak harus menjadi orang yang dalam satu hari tak sekalipun ia marah untuk menjadi orang yang bertaqwa. Karena memang standar yang dipakai bukanlah kelembutan kata, bukanlah kedamaian hati, bukanlah emosi, tetapi standarnya ialah taqwa.

Taqwa adalah parameter yang sedemikian universal sehingga tak hanya orang yang di Arab saja yang boleh dan bisa bertaqwa. Kita yang di Indonesia, China, Argentina,  maupun -andai ada- orang yang hidup di antartika tetap bisa menjadi orang yang bertaqwa. Tak hanya orang yang sudah lanjut usia saja, bahkan seorang remaja yang begitu baligh, dia pun bisa menjadi orang yang bertaqwa. Sedemikian universalnya taqwa, sampai ia menembus batasan-batasan demografis, garis teritorial negara, suku, ras, dan bahkan budaya.

Sekarang jika sudah, silakan membandingkan tujuan dan universalitas pencapaian Islam, dibandingkan dengan ideologi-ideologi lain, silakan mau Anda sebut ideologi Anda apa… :) sosialis, kapitalis, atau apapun pada akhirnya kita harus bersyukur, bahwa parameter, bahwa standar, dan tujuan pembentukan Islam, adalah taqwa. Semua orang punya kesempatan mendapat surga, asal ia bertaqwa. Ah, (untunglah) taqwa. :)

Cuap-Cuap Jumat
21 Mei 2010

Sahid Ikutan Lomba Desain Logo

Anak Ilkomp di universitas manapun tahu bahwa mereka tidak diajari desain grafis di mata kuliah mereka. Dan mereka pun sering pula menghadapi salah kaprah, dan salah tafsir oleh orang-orang disekitarnya.

Tapi untunglah memang sejak SMA saya suka sekali dengan yang namanya desain mendesain. Sehingga memang yah begitulah. ALhamdulillah masih ada skill  nyasar. Istilahnya pendekar, ini ilmu suplemen, tak ahli namun menguasai.

So kemarin2 ada lomba Desain Brand Name Logo UM, ane ikut…. setelah utak-atik ini itu, jadilah logo ini. Pengumumannya pemenangnya tanggal 2 Mei ini, hadiahnya lumayan. Doain saya menang ya kawan-kawan,  lagi butuh uang banget nih buat masukin adik ipar ke Sastra Jepang UB, alhamdulillah beliaunya keterima, but butuh 7.1 juta. So doain menang, biar adik ipar saya bisa masuk UB dengan tenang… ::) Langsung saja, ini desain saya…

NEW UM LOGO JPEG

Dalam desan Brand Name logo ini, ane mengusung konsep simple, stylish proffesional. Dan satu hal lagi… BERBEDA… masak dari dulu logonya kampus itu kalau gak segi lima, ya bunder bulat. jarang banget yang model segi empat… :( atau aneh2 macem2 lainnya gitu. So biar beda, biar memorable, jadilah desain di atas. :D

Sekali lagi, doain saya menang ya kawan2…. ntar kalau menang, tak undang tumpengan nasi kuning di rumah… hehe.. :)

Category: Diary, Galeriku  5 Comments
Akhirnya Sholat (jenazah) Beneran…

Jadi jangan heran, saya baru pertama kali sholat jenazah dan mengiring jenazah hingga ke makam ya hari ini tadi. Sebelumnya? demi Allah gak pernah. Biasanya ketika ada tetangga yang meninggal dulu, papa saya yang membantu, saya yang masih sekolah, ya harus sekolah dah…. Atau ketika ada famili maupun keluarga dari teman yang meninggal, seperti ketika nenek saya dan paman saya meninggal, yang sering terjadi adalah ketinggalan. Jenazah sudah di makamkan dahulu, baru beberapa saat kemudian saya datang.

Dan hari ini saya mengalami  keduanya, SEKALIGUS!

Yang pertama sholat jenazah, seumur-umur belum pernah sholat jenazah sungguhan. Biasanya sih paling cuman sholat ghaib di masjid setelah jumatan, atau ya kalau tidak waktu ujian praktek pelajaran Agama sewaktu SMA dulu. Selebihnya? Ya hari ini tadi, pertama kali. Sayangnya saya sholatnya sendirian, soalnya telat sih datang ke tetangga saya tersebut. Itu pun 5 menit setelah saya sholat, jenazah langsung diberatkan. Fiuh….. Alhamdulillah masih sempat lah.

Dan yang kedua mengiring jenazah. Biasanya saya hanya pas kepapasan orang sedang mengiring jenazah, tapi hari ini saya mengiring jenazah, mengantarkan ke makam bersama orang-orang ke TPU samaan. Tak hanya mengantar saya pun ikut bantu-bantu (memegangi kain penutup keranda sewaktu jenazah diturunkan). Sekalian saya sebenarnya ingin tahu juga proses pemakaman secara langsung.

Satu hikmah yang pasti hari ini tadi, bahwa saya lagi-lagi diingatkan dengan sebuah hal yang wajib dan wajib untuk selalu kita ingat. Dzikrul Maut.. Ingat mati!!! ingat mati kawan. Kalau mengutip kata seorang murabbi dahulu… bahwa kita hidup ini sebenarnya adalah untuk menyiapkan kematian kita. Kematian Khusnul Khotimah yang kita dambakan… amin.

Jadi, sudahkah kita mengingat maut?

(afwan, tidak ada foto, gak ahsan masak takziah sambil foto2?)
Malang, 1 April 2010
Ketika tiba-tiba ingin berziarah ke makam almarhumah salah seorang pengurus forkalam dijaman saya dulu

Category: Diary  One Comment